Kabut Gelap Kudeta Militer Myanmar


Umar Syarifudin (pengamat politik internasional) 

"Militer membunuh kami, memperkosa saudara perempuan dan ibu kami, membakar desa kami. Bagaimana mungkin kami tetap aman di bawah kendali mereka?" kata Khin Maung, kepala Asosiasi Pemuda Rohingya di kamp-kamp di distrik Cox's Bazar. "Setiap repatriasi damai akan sangat berpengaruh. Ini akan memakan waktu lama karena situasi politik di Myanmar sekarang lebih buruk," katanya dikutip The Associated Press, Rabu (3/2/2021).

Catatan

Kudeta Myanmar mengingatkan ketakutan masyarakat Myanmar. Termasuk sejumlah pengungsi Rohingya yang kini ditampung di Bangladesh. Militer sebelumnya telah melakukan kampanye pemusnahan yang kejam terhadap banyak kelompok etnis minoritas di Burma, dan itu termasuk terhadap Muslim sebagaimana di Rohingya yang terletak sebagian besar di provinsi Arakan di mana mereka merupakan 90% penduduk, dibandingkan dengan penduduk rata-rata nasional sebesar 5%. Namun, meskipun ada aturan despotik militer dan keterlibatan mereka dalam pembantaian Muslim, mereka bukan sumber utama kejahatan. 

Demokrasi Myanmar itu sendiri adalah penyebab utama dari penderitaan dan penganiayaan yang diderita oleh kaum Muslim di Burma. Demokrasi Amerika memiliki sejarah yang merusak negara-negara secara lebih efektif dibandingkan yang pernah dilakukan oleh militernya, dan Irak adalah kasus di mana terjadi ketegangan sektarian yang telah merobek-robek negara itu.

Ketika militer di Burma mengakui tuntutan para biksu Budha yang didukung oleh AS untuk demokrasi, pintu gerbang kejahatan dibuka lebar lebar. Untuk pertama kalinya, penduduk Muslim menjadi ancaman. Hal ini karena pemerintahan demokratis adalah pemerintahan mayoritas atas minoritas, yang membuka perpecahan sektarian yang besar di Burma. Para bhiksu Buddha terkemuka memobilisasi mayoritas umat Buddha untuk mengintensifkan serangan terhadap kaum Muslim, sementara tentara berdiri menyaksikan kejahatan yang mereka lakukan. Semua ini terjadi di bawah pemerintahan demokratis dan prinsip-prinisip yang sama membuat meninggalkan umat Islam berada pada belas kasihan fanatik umat Buddha dalam pemerintahan baru. Bukan ‘Liga Nasional untuk Demokrasi’ bukan pula pemimpinnya yang merupakan pemenang hadiah Nobel Perdamaian yang akan berdiri menentang mayoritas Buddha yang memilihnya.

Di bawah wajah baru kudeta hari ini, militer mungkin akan terus menikmati hak-hak istimewa yang berasal dari penjualan aset Burma ke pasar kapitalis yang lapar. Sementara itu diamnya para pemimpin negara-negara Muslim adalah sangat menyayat hati, meskipun Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk bersegera memberikan bantuan kepada sesama muslim yang tertindas.

وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ ۗ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Anfal: 7)

Adalah tugas dari umat Islam untuk menuntut para pemimpin mereka untuk memberikan nushrah kepada umat Islam yang tertindas di Muslim Burma. Nabi ﷺ bersabda:

«إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به»

"Imam adalah perisai, di belakang anda berperang dan melindungi diri."


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post