Kritik Suara Mayoritas


Taufik S. Permana (Dir. Geopolitical Institute)

Hari ini penerapan syariah Islam tampak berhadapan dengan demokrasi. Ada sebuah pertanyaan penting, mengapa ada kaum Muslim yang masih percaya pada demokrasi? Sekadar contoh, demokrasi disebut sama dengan musyawarah. Padahal beda demokrasi dengan musyawarah seperti bedanya bumi dengan langit.  Satu hal yang masih menjadi daya tarik adalah konsep suara mayoritas; seolah-olah suara mayoritas itu selalu baik. Hakikatnya, slogan itu penuh dengan kekeliruan.

Di dalam al-Quran bertebaran ayat-ayat yang menegaskan bahwa mayoritas manusia justru memiliki karakter tidak baik. Allah SWT menegaskan bahwa mayoritas manusia tidak beriman (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 100; Yusuf [12]: 106; asy-Syu’ara [26]: 8, 67, 103, 121, 139, 158, 174, 190). Bahkan al-Quran menyebutkan bahwa mayoritas manusia itu berbuat syirik (QS ar-Rum [30]: 42) dan kufur (QS al-Isra’ [17]: 89). 

Di tengah mayoritas dalam keadaan tidak beriman, mayoritas manusia tidak mengetahui (QS al-A’raf [7]: 102; al-An’am [6]: 37; al-Anfal [8]: 34; Yunus [10]: 55; an-Nahl [16]: 75; an-Nahl [16]: 101; al-Anbiya [21]: 24; an-Naml [27]: 61; al-Qashash [28]: 13, 57; Luqman [31]: 25; az-Zumar [39]: 29, 49; ad-Dukhan [44]: 39; ath-Thur [52]: 47). 

Akibatnya, mayoritas manusia pun bersifat bodoh (QS al-An’am [6]: 111) dan fasik (QS al-A’raf [7]:102).  Sekalipun tidak mengetahui, mayoritas mereka tidak berakal dan tidak mau mendengar kebenaran (QS al-Furqan [25]: 44, al-Ankabut [29]: 63; Fushilat [41]: 4; al-Hujurat [49]: 4). 

Akhirnya, mayoritas manusia mengikuti prasangka (QS Yunus [10]: 36) dan tidak bersyukur (QS al-A’raf [7]: 17; Yunus [10]: 60; an-Naml [27]: 73).  

Jadi, secara imani, paham suara mayoritas (aktsariyah) dalam demokrasi bertentangan dengan hakikat karakter manusia. Paham mayoritas demikian hanya menghitung jumlah kepala, tetapi tidak menghitung isi kepala; hanya menghitung jumlah orang, tetapi tidak mempertimbangkan derajat keimanan dan ketakwaan seseorang. Suara penjahat ulung disamakan dengan suara ulama yang bertakwa. Suara seorang tak tahu apa-apa disamakan dengan suara cendekiawan yang ahli di bidangnya.

Allah SWT menegaskan bila kita mengikuti kehendak mayoritas manusia di bumi ini niscaya kesesatanlah yang akan diperoleh. Di dalam al-Quran disebutkan (yang artinya): Jika kamu menuruti kebanyakan (mayoritas) orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (TQS al-An’am [6]:116).

Berdasarkan hal ini, konsep suara mayoritas dalam menentukan kebenaran dan jalan hidup bertentangan dengan Islam. Justru itulah yang menjadi landasan demokrasi.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post