Masyarakat Makin Takut Mengkritik Pemerintah?


Agung Wisnuwardana (Direktur Indonesia Justice Monitor) 

Presiden Jokowi menjadi sorotan di warganet terkait pernyataan terbarunya yang meminta masyarakat aktif mengkritik pemerintah yang disampaikan pada Peluncuran Laporan Tahunan Ombudsman RI Tahun 2020 pada Senin (8/2/2021). Sebagian warganet dihadapkan kenyataan ada fenomena buzzer termasuk Undang-undang Nomor 11 Tahun Nomor 2008 (UU ITE) yang bisa menjerat mereka yang lantang mengkritik pemerintah. 

Sebagian masyarakat menilai sikap para penguasa saat ini, alih-alih mencoba introspeksi atau bahkan menerima kritikan, malah mereka berapologi, membela diri, menutupi kegagalan dengan kebohongan dan manipulasi, bahkan tidak sedikit direspon dengan serangan yang bersifat pribadi terhadap orang-orang yang bersikap kritis terhadapnya, yang jauh dari substansi kritik itu sendiri. Sebaliknya, Pencitraanlah yang sering dikedepankan. 

Tentu ini bisa dimaklumi, karena menerima kritik dalam pandangannya berarti menerima kegagalan, terima kegagalan berarti popularitas menurun. Padahal masyarakat ini sudah semakin cerdas, kegagalan pemerintah tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Kesengsaraan demi kesengsaran yang mereka rasakan tidak mungkin bisa diobati oleh dalam banyak pidato para penguasa, apalagi hanya dengan sekedar klaim keberhasilan dalam bentuk angka-angka yang terkadang sarat dengan manipulasi.

Untuk apa klaim pertumbuhan ekonomi jika rakyat tetap sengsara, hidup sendiri seperti tinggal  di negeri yatim piatu, tidak ada yang mengurus, justru yang mereka rasakan adalah penindasan demi penindasan. Pengusaha kecil dan menengah beralih menjadi pedagang, sebelum mereka menganggur, karena banyaknya hambatan berproduksi. Mereka tidak sanggup lagi bertahan sebagai produsen. Sebab, bertahan menjadi produsen sama saja dengan bunuh diri, bagai mana tidak bahan baku sulit diperoleh, tarif listrik merangkak naik. Dua hal itu saja sudah cukup untuk menyusahkan mereka apalagi ditambah barang-barang China yang membanjiri pasar dengan harga lebih murah. Inikah sebuah keberhasilan yang membuat para penguasa ini tuli, dan seperti tidak peduli, yang penting masih bisa beretorika. Perkara ada kesenjangan antara retorika dan fakta, itu soal lain. Dinilai gagal pun bukan persoalan, asalkan tidak dituding berbohong.

Sikap seperti itu bukan jalan keluar, bukan jalan keluar bagi masalah yang dihadapi bangsa ini, bahkan bukan jalan keluar bagi kepentingan anda sendiri. Ingatlah fiman Allah Swt, dalam alquran.

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١٨٨﴾

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (QS. Ali Imran[3]:188)

Terkait asbabun nuzul ayat ini ada dua riwayat. Pertama terkait ahlul kitab yang ditanya oleh Rasulullah SAW, lalu mereka  mereka menjawab dengan jawaban yang bukan sebenarnya, mereka senang dengan kebohongan itu dan malah meminta dipuji. Riwayat kedua terkait dengan orang munafik yang selalu izin dalam setiap peperangan, duduk-duduk karena jihad dirasakan berat baginya, dan mereka senang dengan hal itu. jika Nabi menghampiri mereka, mereka keluarkan berbagai alasan, tak jarang mereka bersumpah demi tetap dipuji atas apa yang tidak mereka kerjakan.

Tentu tidak ada pertentangan diantara dua riwayat ini, karena pelajaran (al-ibrah) itu diambil dari keumuman lafadz bukan dengan kekhususan sebab, disamping banyak sekali ayat yang turun bukan karena satu sebab. Dalam Ayat ini Allah SWT, melarang kita memiliki sikap munafik dan gemar bermain citra atau berbohong demi menutupi kesalahan dan kegagalan.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post