Mewujudkan Islam Rahmat[an] Lil 'Alamin Secara Riil


Anwar Rosadi (Indonesia Change) 

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, dirinya dan sesamanya. Interaksi manusia dengan Tuhannya adalah terkait dengan akidah dan ibadah. Interaksi manusia dengan dirinya ada dalam hal makanan, minuman, pakaian dan akhlak. Syariah Islam dalam hal interaksi manusia dengan Tuhannya dan dirinya sendiri ini bisa dilaksanakan oleh individu. Meski demikian, untuk kesempurnaannya harus ada peran negara di dalamnya. Adapun interaksi manusia dengan sesamanya ada dalam bentuk muamalat dan ‘uqûbat (sanksi/hukuman). Muamalat itu mencakup masalah pemerintahan, ekonomi, pergaulan, pendidikan, politik dalam negeri dan politik luar negeri. Syariah Islam yang mengatur muamalat ini memang sebagian kecil bisa dilaksanakan oleh individu, namun sebagian besar lainnya tidak bisa dilaksanakan kecuali oleh negara. Syariah Islam dalam hal ‘uqûbat meliputi hudûd, jinayat, ta’zir dan mukhâlafat. Syariah Islam dalam bentuk ‘uqubat ini harus dilaksanakan oleh negara, tidak oleh kelompok apalagi individu.

Islam yang menghasilkan rahmat adalah yang penerapannya mencakup seluruh syariahnya. Karena itu Allah SWT memerintahkan kita untuk mengambil dan menerapkan Islam secara kâffah, tidak setengah-setengah.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ﴾

Wahai kaum beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Allah SWT telah menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna (QS al-Maidah [5]: 3) dan mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia (QS an-Nahl [16]: 89). Karena itu tidak ada yang layak untuk mengatur seluruh aspek kehidupan di masyarakat kecuali adalah Islam dengan syariahnya. Allah SWT berfirman:

﴿…فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً﴾

Jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al–Quran) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari akhir. Yang demikian adalah lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya (TQS an-Nisa’ [4]: 59).

Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur'an al-‘Azhim (Tafsir Ibnu Katsir) menjelaskan, “Ini adalah perintah dari Allah, bahwa segala perkara yang diperselisihkan oleh manusia, baik perkara pokok (ushûl) maupun cabang (furû’) agama, harus dikembalikan pada al-Kitab dan as-Sunnah, sebagaimana firman Allah (yang artinya): Tentang apapun yang kalian perselisihkan, maka putusan (hukum)-nya dikembalikan kepada Allah (QS asy-Syura [42]: 10).”

Masih terkait ayat tersebut, Ibn Katsir melanjutkan, “Allah SWT berfirman (artinya): jika kalian (benar-benar) mengimani Allah dan Hari Akhir, maknanya: kembalikanlah berbagai perselisihan dan ketidaktahuan pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta berhukumlah pada keduanya dalam perkara yang kalian perselisihkan di antara kalian “jika kamu (benar-benar) mengimani Allah dan Hari Akhir. Dengan demikian, siapa yang tidak menyerahkan keputusan hukum tentang obyek perselisihan pada al-Kitab dan as-Sunnah dan tidak kembali pada keduanya dalam hal itu maka dia bukan orang yang benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir.”

Jelas, ayat ini memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum pada al-Quran dan as-Sunnah. Itu artinya, kaum Muslim wajib menjadikan syariah Islam sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan dan pemutus perkara dalam segala persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Dengan demikian seluruh kaum Muslim diperintahkan untuk menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Walhasil mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamin tidak lain dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh dalam sistem yang memang disiapkan untuk menerapkannya, yaitu sistem Khilafah Rasyidah yang telah diamanatkan oleh Rasul saw. dan senantia dijaga serta dilanjutkan oleh para Sahabat ridhwanulLah ‘alayhim dan generasi kaum Muslim sesudahnya.

Sepanjang sejarah, penerapan syariah Islam secara menyeluruh di bawah sistem Khilafah telah benar-benar terbukti dalam sejarah bisa mewujudkan rahmat untuk seluruh manusia baik Muslim maupun non-Muslim. Will Durant, salah seorang intelektual dan sejarahwan Barat terkemuka memberikan pengakuan atas sejarah emas Khilafah dalam mewujudkan rahmat Islam untuk semua itu, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant, The Story of Civilization, vol. XIII).

Mewujudkan Islam rahmat[an] li al-‘alamin secara riil di tengah kehidupan untuk saat ini dan masa datang, sebagaimana yang telah terbukti pada masa lalu dalam seajrah kaum Muslim, tidak lain kecuali dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh yang mengikuti manhaj kenabian. Hanya dengan itu Islam dan umatnya akan memimpin dunia ke arah kebaikan; membebaskan umat manusia dari perbudakan dan penjajahan oleh sesama manusia; serta menebarkan kebaikan, keadilan dan kemakmuran untuk seluruh manusia.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post