Totalitaslah Dalam Menjalankan Syariah


Budiharjo, S.H.I

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (Al-Baqarah: 208)

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan:

“Allah swt telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi system keyakinan Islam (‘aqidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.”[Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247]

Imam Thabariy menyatakan :

“Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syari’at Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.”[Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلا الْهَدْيَ وَلا الْقَلائِدَ وَلا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-syiar Allah, jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedangkan mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya. Jika kalian telah menyelesaikan ibadah haji maka bolehlah berburu. Janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjid al-Haram mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka). Tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya (QS al-Maidah [5]: 2).

Terdapat banyak pelajaran yang dapat dipetik dalam ayat ini. Pertama: perintah menjalankan ketaatan terhadap semua hukum yang ditetapkan Allah Swt. Kata la tastahillu memberikan pengertian demikian. Intinya, kaum Muslim dilarang melanggar, mengubah dan mengganti semua ketentuan hukum yang telah ditetapkan-Nya. Tidak ada pilihan bagi manusia kecuali tunduk dan patuh terhadapnya.

Dalam beberapa hukum memang ada perubahan dan penghapusan hukum (naskh). Namun, harus ditegaskan bahwa yang berhak melakukannya adalah Allah Swt., al-Musyarri’ al-wahdah (Pembuat syariah satu-satunya). Dialah yang berhak menghalalkan atau mengharamkan segala sesuatu. Adanya perubahan beberapa hukum itu sekaligus menguji sejauh mana ketaatan manusia terhadap hukum yang ditetapkan (perhatikan QS al-Maidah [5]: 48).

Kedua: ketaatan itu harus senantiasa dijaga kemurniannya karena Allah Swt. Dalam menjalankan ketaatan, tidak boleh bercampur dengan hawa nafsu. Semua sikap dan keputusan yang diambil harus bebas dari pengaruhnya. Larangan berbuat aniaya terhadap kaum yang dibenci jelas menunjukkan perintah tersebut.

Tindakan menghalangi manusia ke Baitullah jelas perbuatan tercela. Pelakunya pun layak dibenci karenanya. Namun demikian, kaum Muslim tidak boleh kehilangan kendali. Ketentuan syariah tetap harus dijadikan sebagai patokan. Kebencian terhadap mereka tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk berbuat aniaya terhadap mereka. Kalaupun harus memberikan balasan, balasan itu harus setimpal dengan perbuatannya (lihat: QS al-Nahl [16]: 126; QS al-Baqarah [2]: 190).

Ketiga: perintah saling bantu dalam mengerjakan ketaatan. Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa hidup sendiri. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Karena itu, tolong-menolong dan kerjasama menjadi keniscayaan bagi manusia. Demikian pula dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Hampir semua kewajiban syariah memerlukan kerjasama dan tolong-menolong.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post