Itu Demokrasi Adalah Produk Asing... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 22, 2021

Itu Demokrasi Adalah Produk Asing...


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Menggalakkan rasa cinta produk dalam negeri tentunya merupakan hal yang baik-baik saja. Cinta produk dalam negeri memberikan konsekwensi sikap sebaliknya. Membenci produk asing tentunya akan mengiringi sikap cinta produk dalam negeri.

Hanya saja sikap membenci produk asing harus dibarengi dengan konsistensi. Sikap konsisten ini lahir dari kaidah yang jelas dalam menyikapi produk asing atau luar negeri. Jangan sampai yang ada adalah ambiguitas sikap. Hal tersebut akan berdampak kepada menurunnya kepercayaan rakyat kepada para penyelenggara pemerintahan. Termasuk akan menurunkan trust negara-negara lain terhadap bangsa dan negeri ini.

Sebagaimana baru-baru ini bergulir himbauan untuk membenci produk asing. Akan tetapi pada saat hampir bersamaan, pemerintah melakukan impor beras. Begitu pula berikutnya akan melakukan impor garam. Lantas di manakah letak sikap benci produk asing tersebut?

Apalagi di tengah-tengah kondisi pandemi yang sudah berlangsung genap setahun atau lebih ini, mulai ada penggalakan gerakan vaksinasi nasional. Diawali dari nakes, selanjutnya guru dan petugas-petugas pelayan publik lainnya hingga masyarakat. Kita mengetahui bersama kalau vaksin yang dipakai itu adalah vaksin Sinovac China dan jenis vaksin lainnya. Pertanyaannya, konsistensi benci produk asing ada di mana jika demikian?

Begitu pula kalau kita ingin melihat lebih rigit. Sistem demokrasi yang dijalankan saat ini, notabenenya juga adalah produk asing. Konsep demokrasi itu berasal dari konsepnya Montesque tentang Du Contrat Social. Juga diambil dari konsepnya John Lock dan JJ Rausseu.

Oleh karena itu bila konsisten terhadap sikap membenci produk asing. Harusnya produk asing yang justru melahirkan kerusakan bagi bangsa dan negeri ini, segera bisa dianulir, tidak lagi digunakan. Penerapan demokrasi di negeri ini notabenenya hanya menghasilkan kerusakan di semua bidang kehidupan. Hal demikian wajar saja terjadi. Alasannya demokrasi itu sistem kenegaraan yang berasaskan sekulerisme. Sedangkan paham sekulerisme itu adalah paham yang memisahkan Islam dari kehidupan. Kongkretnya adalah memisahkan peran Islam dalam penyelenggaran politik pemerintahan dan kenegaraan. Konsekwensinya, nilai halal dan haram tidak lagi menjadi standar dalam penyusunan undang-undang dan pengelolaan urusan-urusan rakyat.

Dalam pesta demokrasi terjadi aktivitas percukongan. Tatkala sudah berhasil menduduki pemerintahan, korupsi kebijakan dilakukan sebagai konsekwensi dari adanya cukong-cukong politik. Pada babak berikutnya lahirlah undang-undang yang tidak melayani rakyat. Sebut saja UU Minerba dan Omnibus Law Cipta Kerja. Bahkan yang terbaru, limbah batubara telah dikeluarkan dari kategori limbah berbahaya dan beracun. Tentu saja kebijakan demikian akan memberikan angin segar bagi korporasi batubara untuk tidak merasa terbebani dengan adanya limbah dari industri mereka.

Demokrasi sebagai sistem kenegaraan yang berasaskan sekulerisme, telah menempatkan kedaulatan hukum ada pada rakyat atau manusia. Tidak mungkin bila demokrasi menempatkan kedaulatannya pada hukum-hukum syariat Islam. Walhasil hukum ditentukan oleh berbagai pikiran dan kepentingan manusia. Adapun pikiran dan kepentingan dari pihak-pihak yang kuat tentunya dominan dalam penyusunan undang-undang. Maka tidak mengherankan bila korporasi menempati strata sosial di atas dalam struktur masyarakat Kapitalisme. 

Konsekwensi berikutnya, di bidang pendidikan. Tujuan mencetak manusia yang beriman dan bertaqwa tidaklah menjadi poin utama. Tujuan pendidikan diukur secara materi. Begitu pula di bidang ekonomi. Eksploitasi kekayaan alam milik rakyat dilakukan oleh swasta dan asing. Keadilan susah untuk didapatkan. Dan masih banyak kerusakan lainnya.

Tinggal satu persoalan lagi yakni adanya anggapan bahwa Islam sebagai produk asing. Bukti yang disodorkan adalah Islam itu masuk ke Indonesia ada yang melalui para pedagang dan mubaligh dari Gujarat, Palestina dan lainnya. Di Jawa ada yang disebut Wali Songo sebagai penyebar Islam.

Sesungguhnya Islam bukanlah produk asing. Islam itu diturunkan dari Allah SWT sebagai petunjuk hidup manusia. Bahkan Allah SWT sendiri menjamin bahwa bila manusia berpegang Teguh dengan Islam maka tidak akan tersesat untuk selamanya. Di samping itu, Islam turun sebagai kemaslahatan hidup manusia. Lihatlah surat al-anbiya ayat 107. Begitu pula dalam al-a'raf ayat 96 terdapat jaminan bila penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka akan muncul keberkahan dari langit dan bumi. 

Hanya saja untuk sampai kepada manusia seluruhnya, Islam ini harus ada yang menyampaikannya pertama kali. Di sinilah Nabi Muhammad Saw diutus untuk menyampaikan Islam pada manusia. Allah Maha Mengetahui siapakah dan bangsa mana yang mendapat amanah untuk menyampaikan Islam ke seluruh dunia. Bangsa Arab dipilih Allah sebagai penyampai Islam kepada dunia setelah mereka beriman pada risalah yang disampaikan Nabi Muhammad Saw pada mereka.

Selanjutnya, kita bisa merujuk beberapa konsep Islam yang membawa kemaslahatan. Konsep kepemilikan ekonomi dalam Islam berbagi menjadi kepemilikan individu, negara dan umum. Kekayaan alam itu menjadi kepemilikan bersama rakyat. Negara adalah satu-satunya pihak yang berhak mengelolanya. Dengan demikian sumber-sumber ekonomi negara begitu besarnya yang bisa digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Demikian pula bila kita menilik konsep perdagangan antar negara. Islam menetapkan bahwa perdagangan antar negara berasaskan pada kewarganegaraan pedagangnya. Tidak ada hubungan perdagangan dan diplomatik dengan negara kafir yang memusuhi kaum muslimin. Termasuk tidak boleh berhubungan dagang dengan warga negaranya. Dengan konsep demikian, negeri-negeri Islam akan selamat dari cengkeraman negara lain. 

Walhasil, membenci produk asing akan menemui arah dengan benar. Negeri-negeri Islam akan lahir menjadi negara yang independen guna menentukan nasibnya kedepan. Nasib yang tentunya diwarnai oleh keyakinan mayoritas penduduknya. 

# 15 Maret 2021


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here