Jangan Sampai Perang Melawan Terorisme Sebagai Dalih Untuk Memukul Semua Oposisi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 29, 2021

Jangan Sampai Perang Melawan Terorisme Sebagai Dalih Untuk Memukul Semua Oposisi


Agung Wisnuwardana (Direktur IJM)

Aksi bom bunuh diri kembali mengguncang Indonesia. Aksi itu terjadi di depan Gereja Katedral Makassar pada Ahad (28 Maret) pagi. Polisi menyatakan pelaku bom bunuh diri diduga ada dua orang dengan mengendari motor. Selain dua korban tewas, ledakan ini menyebabkan puluhan orang luka-luka. 

Aksi kekerasan dan terorisme apalagi menyebabkan orang terbunuh jelas tidak dibenarkan dalam syariah Islam sehingga harus ditolak. Namun, membunuh atau menyebabkan tewasnya orang (termasuk yang terduga teroris) dengan alasan untuk pemberantasan terorisme juga tidak dibenarkan. Keduanya jelas dilarang oleh syariah. Allah SWT berfirman:

] وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ …[

Janganlah kalian membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah (untuk dibunuh) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar (TQS al-Isra’ [17]: 33)

Namun, adanya perbedaan sikap pemerintah dalam menyikapi antara terorisme dan gerakan separatisme, mengundang berbagai kritikan. Pemerintah sepertinya memberikan banyak kelonggaran terhadap tindakan yang nyata-nyata merupakan upaya memisahkan diri seperti yang terjadi di Aceh, Papua dan Maluku. Sampai-sampai di depan presiden aktivis RMS bisa mengibarkan bendera RMS meskipun belum benar-benar berkibar.  Di Papua, polisi bahkan tidak bisa masuk ke dalam gedung , saat bendera Bintang Kejora dikibarkan dengan disertai teriakan merdeka berulang-ulang.  Hal yang sama terjadi di Aceh, pembentukan partai GAM dengan bendera GAM, seperti tidak disikapi dengan serius , meskipun berbagai pihak telah banyak mengecam.

Beda halnya, saat sikap pemerintah terhadap apa yang dituduh sebagai terorisme. Sikap represif pun digunakan oleh pemerintah terutama oleh Densus 88 yang dibentuk untuk memerangi terorisme. Penahanan tanpa bukti yang jelas, penyiksaan untuk mendapat pengakuan, sampai tembak di tempat, menjadi lumrah dilakukan terhadap kelompok yang dituduh teroris.

Perbedaan sikap terhadap kelompok separatisme dan  kelompok yang dituduh teroris, menimbulkan anggapan bahwa pemerintah bertindak dengan arahan asing. Dukungan asing terhadap sepratisme membuat pemerintah ekstra hati-hati, karena khawatir dituduh melanggar HAM. Sementara itu, kelompok yang dianggap teroris diperlakukan represif untuk menunjukkan bahwa Indonesia mengikuti trend global perang melawan terorisme.

Namun bukan rahasia lagi bahwa banyak penguasa di dunia telah menjadikan "perang melawan terorisme" sebagai dalih untuk memukul semua penentangnya, juga sebagai dalih untuk mencegah gerakan rakyat terhadap kebijakan-kebijakannya. Semua ini mengikuti kebijakan yang dilakukan tuannya (Amerika) untuk wilayah tersebut.

Seperti kebiasaan para penguasa Muslim lainnya yang menggambarkan kekalahan dengan kemenangan, serta politik (kebijakan) penjarahan dan pemiskinan dengan "proyek-proyek besar", dimana mereka berbicara tentang situasi ekonomi yang akan membaik dan hasil dari kebijakan-kebijakannya "yang bijaksana" akan dirasakan kemudian.

Perlu diketahui bahwa di era demokrasi sekuler, masyarakat telah kehilangan rasa amannya dan dihantui oleh perasaan takut, sebagai akibat dari kebijakan represif yang dijalankannya, meningkatkan defisit anggaran secara dramatis, memburuknya ekonomi, dan meningkatnya angka pengangguran. Sementara para penguasa sekuler meningkatkan keberanian untuk menentang agama Allah dari para penguasa komparador AS dan Eropa, memberikan dukungan perang terhadap kaum muslim, dan meningkatkan koordinasi dengan Israel, dan menambah ketundukan terhadap kebijakan AS. Namun dengan semua itu, kemudian para penguasa negeri muslim berbicara dengan sombongnya tentang sejumlah prestasi.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here