Jejak Kemiliteran Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, March 3, 2021

Jejak Kemiliteran Islam


Hadi Sasongko (Direktur Poros)

Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, peran kaum Muslim dalam upaya merebut hingga mempertahankan kemerdekaan tidak bisa dinapikan begitu saja. Dari sekian ratus pahlawan nasional yang diakui Pemerintah saja, tercatat lebih dari 80% adalah Muslim. Apalagi kalau kita melacak akar historis semangat juang para pahlawan itu dibekali dengan ghîrah jihad fi sabilillah dalam mengusir bangsa kafir penjajah. Bahkan tidak jarang tokoh satu dengan tokoh lainnya saling bekerjasama dalam upaya mengusir para penjajah asing tadi seperti Fatahillah yang bekerjasama dengan Sultan Cirebon, Banten dan Demak dalam menggempur kedudukan Portugis di Batavia, Si Singamangaraja XII yang didukung oleh Kesultanan Aceh dan Pagaruyung dalam peperangan melawan kompeni Belanda, Ahmad Lussy Pattimura yang dibantu panglima Said Perintah saat perang di Jazirah al-Muluk, dan masih banyak contoh yang lainnya.

Dalam jejak sejarah kemiliteran di negeri ini, peran Islam dan kaum Muslim dalam membentuk karakteristik pejuang juga demikian kentara. Tercatat dalam sejarah, pemerintahan Sultan Alaudddin Ri’ayat Shah al-Qohhar dari Aceh Darussalam pernah meminta bantuan kepada Khalifah Sulaiman al-Qanuni dari Turki Utsmani dalam upaya menggempur kedudukan Portugis di Selat Malaka. Bala bantuan Khalifah saat itu dipimpin oleh Laksamana Karthoglu Salman Hizir Reis yang tidak hanya membawa pasukan perang, namun juga membawa para insinyur persenjataan dan para akademisi untuk membangun akademi militer di Tanah Rencong. Tercatat Ma’had Baytul Maqdis sebagai akademi militer profesional pertama yang pernah berdiri di negeri ini. Salah seorang lulusan akademi ini adalah Laksamana Keumala Hayati yang memimpin Armada Inong Bale; ia memenangkan duel melawan pasukan Cornellis de Houtman di Selat Malaka.

Saat terjadinya Java Oorlog pada 1825-1830, Khalifah Utsmani pun tercatat mengutus 15 syaikh, di antaranya adalah Syaikh Abdusy Syukur kepada Pangeran Diponegoro untuk mengajarkan strategi perang gerilya. Pangeran Diponegoro pun membentuk kesatuan-kesatuan militernya mengikuti pola militer Utsmani, seperti Turkiyo, Bulkiyo dan Arkiyo. Diponegoro pun memakai nama juang Sultan Ngabdulhamit. Panglimanya, Sentot Prawirodirdjo, memakai nama juang Alibasya. Keduanya seperti nama Khalifah dan panglima perangnya yang menang perang melawan Yunani saat itu, yakni Sultan Abdul Hamid I dan Muhammad Ali Basya.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here