Ketika Tantangan Datang Silih Berganti - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, March 11, 2021

Ketika Tantangan Datang Silih Berganti



Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Dakwah adalah aktivitas utama dan penuh tantangan. Tantangan dakwah dapat dihadapi dengan semakin dekat kepada Allah SWT. Pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT akan menjadikan kita kekasih-Nya. Semakin kita mendekat kepada Allah, Dia pun semakin dekat kepada kita. Pada saat itulah pertolongan, bantuan dan kemudahan akan diberikan oleh Allah Rabbul ‘alamîn. Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu hadis qudsi: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada Diri-Ku. Aku bersama dia ketika dia mengingat Aku dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila ia mengingat Diri-Ku di dalam suatu forum maka Aku mengingat dirinya di dalam forum yang lebih baik daripada mereka. Apabila ia mendekat kepada Diri-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepada dia sehasta. Apabila ia mendekat kepada Diri-Ku sehasta maka Aku mendekat kepada dia sedepa. Apabila ia mendekat kepada Diri-Ku sedepa maka Aku mendekat kepada dia semil. Apabila ia datang kepada Diri-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepada dia dengan berlari.” (HR al-Bukhari).

Dengan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah berarti kita telah mengundang bantuan, pertolongan dan pemeliharaan dari Diri-Nya. Di antara taqarrub kepada Allah SWT adalah salat tahajud (salat malam). Abdullah bin Umar ra. sangat rajin dalam tahajud. Rasulullah saw. memuji beliau sebagai orang salih yang selalu melewati malam dengan shalat dan hanya sedikit tidur (HR al-Bukhari).

Baginda Rasulullah saw. juga bersabda, “Pada setiap malam Rabb kami tabaraka wa ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada Diri-Ku, Aku akan memperkenankan doanya. Siapa saja yang meminta kepada Diri-Ku, Aku akan memngabul-kan permintaannya. Siapa meminta ampunan kepada Diri-Ku, Aku pun akan mengampuni dia.’” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pada saat tahajud inilah setiap orang bisa mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Insya Allah, Allah akan memberi dia solusi.

Taqarrub kepada Allah juga dapat berupa shalat dhuha, membanyak zikir, berdoa, shaum sunnah, tilawah al-Quran dan banyak ber-muhasabah.

Pada sisi lain, tantangan dakwah akan dapat diatasi dengan sikap menerima apa yang ada (qana’ah), syukur, sabar dan tawakal. Sering orang tidak memahami bahwa sikap-sikap tersebut sebenarnya dapat mendatangkan solusi. Hanya saja, solusinya tidak langsung dari manusia, melainkan langsung dari Allah SWT sesuai dengan cara yang Dia kehendaki. Sebagai contoh, Allah SWT akan menambah kenikmatan bagi orang yang bersyukur (TQS Ibrahim [14]: 7). Artinya, semakin banyak bersyukur maka akan semakin banyak pula kenikmatan yang diperoleh.

Begitu juga ketika ada kesulitan dan tantangan, lalu dihadapi dengan penuh kesabaran. Dalam kesabaran, Allah akan memberikan bantuan sehingga kesulitan dan tantangan itu akan dapat diselesaikan. Memang, kalau menggunakan logika boleh jadi sulit dipahami, apa hubungan sabar dengan solusi. Padahal bukan sabar itu sendiri yang menjadi solusi, melainkan dalam keadaan sabar tersebut Allah SWT memberikan pertolongan-Nya. Pertolongan Allah SWT itulah yang menjadikan solusi itu datang. “Wahai, orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar,” begitu makna firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 153.

Selain itu, dengan tawakal kepada Allah SWT berarti kita meyakini dan menyerahkan urusan untuk diselesaikan oleh Allah SWT, tanpa berpangku tangan. Allah pun telah berjanji kepada siapa saja yang bertawakal kepada Diri-Nya bahwa Dialah yang akan menyelesaikan persoalan yang dihadapi (TQS ath-Thalaq [65]: 3). Rasulullah saw. bersabda, “Andaikata kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, sungguh kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Di pagi hari keluar dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad).

Ketika bertawakal kepada Allah, menyerahkan urusan untuk diselesaikan oleh Allah SWT, sebagai seorang Muslim sudah selayaknya kita meyakini bahwa persoalan apapun yang dihadapi akan ada jalan keluar terbaik karena Allah Yang Mahagagah yang menyelesaikan persoalan tersebut.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here