Khilafah Itu Solusi? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 22, 2021

Khilafah Itu Solusi?


Achmad Fathoni (Dir. El Harokah Research Center)

Indonesia dan dunia saat ini dililit oleh berbagai persoalan: pandemi covid-19, korupsi secara sistemik, kemiskinan  dan kesenjangan antara kaya dan miskin, politik yang opurtunis, hukum yang tebang pilih sehingga sulit diraih keadilan, budaya yang semakin permisif, pendidikan dan  kesehatan yang samakin mahal, serta kehidupan sosial kemasyarakatan yang semakin semraut.

Di tengah persoalan bangsa dan dunia seperti inilah syariah Islam dengan sistem Khilafah menjadi satu-satunya solusi yang sangat strategis.  Sebalikinya, ideologi Sosialis-komunis dan Kapitalis terbukti telah gagal memimpin dunia.

Solusi syariah Islam atas pesoalan ini dari awal berbeda dengan prinsip ekonomi neo-liberalisme (kebebasan). Islam membagi kepemilikan ekonomi menjadi tiga: kepemilikan  umum, kepemilikan negara dan kepemilikan individu.  Kekayaan alam berupa gas, tambang dan aset hajat hidup orang bayak (seperti laut dan sungai) adalah aset milik umum, yang tidak boleh dimiliki negara atau individu. Rasul saw. bersabda:

Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu padang rumput, air dan api (HR Ibn Majah dan Abu Dawud).

Sistem Khilafah adalah sistem yang menjadi bingkai untuk menerapkan seluruh syariah Islam sebagai solusi berbagai persoalan kehidupan; mulai dari ekonomi, politik, sistem peradilan, sistem pendidikan, kesehatan, sistem sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya.

Kewajiban menegakkan Khilafah ini telah menjadi ijmak para ulama, khususnya ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja).  Imam al-Qurthubi menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) di kalangan umat dan para imam mazhab; kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli terhadap syariah)  dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.” (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264).

Imam an-Nawawi juga menyatakan, “Mereka (para imam mazhab) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah.” (An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 12/205).

Imam al-Ghazali menyatakan, “Kekuasaan itu penting demi keteraturan agama dan keteraturan dunia. Keteratuan dunia penting demi keteraturan agama. Keteraturan agama penting demi keberhasilan mencapai kebahagiaan akhirat. Itulah tujuan yang pasti dari para nabi. Karena itu kewajiban adanya Imam (Khalifah) termasuk hal-hal yang penting dalam syariah yang tak ada jalan untuk ditinggalkan. (Al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, hlm. 99).

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan, “Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa wajib hukumnya mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah,  bukan berdasarkan akal (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, 12/205).

Imam al-Mawardi menyatakan, “Melakukan akad Imamah (Khalifah) bagi orang yang (mampu) melakukannya hukumnya wajib berdasarkan ijmak meskipun al-‘Asham menyalahi mereka” (Al-Mawardi, Al-Ahkâm ash-Shulthâniyyah, hlm. 5).

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan, “Ketahuilah juga, para sahabat Nabi saw. telah sepakat bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan itu sebagai kewajiban terpenting karena mereka telah menyibukkan diri dengan hal itu dari menguburkan jenazah Rasulullah saw.” (Al-Haitami,  Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 17).

Imam asy-Syaukani menyatakan, “Mayoritas ulama berpendapat Imamah (Khilafah) itu wajib. Menurut ‘Itrah (Ahlul Bait), mayoritas Muktazilah dan Asy’ariyah, Imamah (Khilafah) itu wajib menurut syariah (Asy-Syaulani, Nayl al-Awthâr, VIII/265).

Pendapat para ulama tedahulu di atas juga diamini oleh para ulama muta’akhirin (Lihat, misalnya: Syaikh Abu Zahrah, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyah, hlm. 88; Dr. Dhiyauddin ar-Rais, Al-Islâm wa al-Khilâfah, hlm. 99; Abdul Qadir Audah, Al-Islâm wa Awdha’unâ as-Siyâsiyah, hlm. 124; Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/15; Dr. Mahmud al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 248; dll).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here