Legalitas Miras Bagi Komunitas Orang Waras. - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, March 3, 2021

Legalitas Miras Bagi Komunitas Orang Waras.


Oleh: Ummu Dzakiyah, SHI ( Pemerhati Politik)

Dampak buruk dari miras dan sejenisnya terhadap masyarakat kiranya sudah diketahui secara terang benderang. 

Tapi ada juga suara-suara yang memberi dukungan seperti Pengasuh Pondok Pesantren Kaliwining Jember yang juga Wakil Ketua PP LAZIS NU, Gus Ubaidillah Amin Moch. "Masyarakat tidak perlu menanggapi secara berlebihan tentang kebijakan ini, tinggal mengupayakan bagaimana dalam penerapannya kebijakan ini bisa berjalan tepat sasaran, terlebih hasil dari investasi ini menambah pemasukan bagi negara," jelas kyai lulusan Al Azhar Mesir yang akrab disapa Gus Ubaid ini, ( Minggu 28/2/2021 Kumparan.com )

Sama halnya Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH. Marzuki Mustamar, angkat bicara perihal Peraturan Presiden (Perpres) nomor 10 tahun 2021 tentang Usaha Penanaman Modal yang juga mengatur investasi industri minuman keras (miras).

"Di Ulama NU, kalau dari pada itu beredar luas, lalu dilakukan pembatasan. Itu bahasa kita bukan legalisasi, tapi melokalisir," terangnya, Senin (1/3/2021). 

Oleh karena itu, ia mengaku inisiatif pembatasan atau melokalisasi miras oleh pemerintah justru lebih baik agar tidak menyebar kemana-mana. (ayosurabaya.com)

Bagi Orang waras telah terang dan gamblang dinalar bahwa terjadinya tindak kriminal, tidak jarang dimulai dari pengaruh minuman keras yang ditenggaknya. Karena dengan miras, konon keberanian pelaku menjadi meningkat, rasa takut dan minder menjadi hilang, kontrol dan akal sehat menjadi hilang, sehingga perbuatannya menjadi ngawur dan lepas kendali. 

Akibatnya, dia bisa bertindak nekat dan di luar batas kemanusian. Dia bisa menodong, menjambret, melukai dan bahkan membunuh bahkan bisa memperkosa anaknya, menantunya bahkan ibu yang melahirkannya. Yang memprihatinkan adalah seperti yang terjadi baru-baru ini, sudah memperkosa korban lalu membunuhnya, sungguh perbuatan yang sangat biadab. Dan banyak kasus pembunuhan, tabrakan, pemerkosaan karena kondisi pelaku mabuk. salah satu contoh dari jutaan kasus Menyadur India Times, Jumat (21/8/2020), Seorang oknum polisi nekat menembakkan peluru ke teman sejawatnya, sesaat seetlah keduanya meminum bir bersama.

Sikap Islam sangat tegas terhadap miras. Miras hukumnya haram, dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar serta dikenakan hukuman berupa dicambuk/dipukul sebanyak 40 atau 80 kali cambukan. 

Nabi Muhammad SAW juga menyatakan khamr (miras) adalah ummul khaba'its (induk dari segala kejahatan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barang siapa meminumnya, dia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya."  (HR ath-Thabrani)

Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Abdullah bin Amr meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda, "Khamr adalah induk dari segala kejahatan, barang siapa meminumnya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila dia mati sementara ada khamr di dalam perutnya, maka dia mati sebagaimana matinya orang Jahiliyah." (HR ath-Thabrani

Juga tegas dan lugas dalam Al Qur'an, disebutkan :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." [QS : Almaidah, ayat 90]

Dalam hadits, ditegaskan :
Dari Anas bin Malik, dia berkata;
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat sepuluh golongan dengan sebab khamr: orang yang memerasnya, orang yang minta diperaskan, orang yang meminumnya, orang yang membawanya, orang yang minta di antarkan, orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang makan hasil penjualannya, orang yang membelinya, dan orang yang minta dibelikan." [HR. Tirmidzi, no. 1295; Syaikh al-Albani menilai hadits ini Hasan Shahîh”].

Dengan hadist diatas maka naudzubillah laknat bagi orang-orang yang mencari-cari pembenaran atas legalitas miras. dengan alasan ekonomi, dengan alasan dalil yang dicari- cari. maqosidu  syariah yang di gatuk matuk. Mencermati hadis diatas dapat kita simpulkan siapa saja yang terlaknat berikutnya?

Bagaimana dengan yang menikmati pajaknya?

Bagaimana dengan yang membangun industrinya?

Bagaimana dengan yang berinvestasi di dalamnya?

Lebih mengerikan lagi, bagaimana dengan penguasa yang mengeluarkan aturan yang melegalkan investasi di industri miras?

Dan yang tak kalah hinanya, bagaimana dengan santri gadungan bahkan ulama' yang mencari-cari dalil untuk mendukung pelegalan investasi industri khamr?

Dari sini, maka satu-satunya solusi mendasar dan menyeluruh terhadap masalah legalitas miras bagi komunitas orang waras adalah dengan kembali kepada Islam dan menerapkannya secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Sekaligus mencampakkan sistem impor asing  kapitalisme-sekuler yang telah nyata terbukti kebobrokannya dan biang munculnya setiap masalah ini. 

Terbukti dari sistem kapitalis inilah legalitas miras muncul demi mendapatkan seteguk kenikmatan dunia mereka.

Demi kapital- kapital yang tidak akan dibawa ketika meninggal mereka rela melegalkan biang kejahatan. Tidak memikirkan bagaimana generasi yang akan datang. Tidak memikirkan bagaimana negara ini aman yang terpenting dari manapun asalnya asal menghasilkan uang.

Maka sekali lagi campakkan sistem kapitalisme mari kita terapkan sistem Islam kaffah dalam bingkai daulah Khilafah karena kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah. Rasulullah bersabda:

"…Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka." (HR. Ibnu Majah dg sanad hasan)

Wallahu a'lam bi ash-shawwab.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here