Maqaashid al-Syar'iyyah Bukan Sumber Hukum Syariat? (1) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 22, 2021

Maqaashid al-Syar'iyyah Bukan Sumber Hukum Syariat? (1)

M. Arifin (Tabayyun Center)


Pada dasarnya, syariat Islam diturunkan di muka bumi untuk menciptakan rahmat dan kemashlahatan di tengah-tengah mereka. Allah swt berfirman;


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ


“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Mohammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh penjuru alam”.[TQS Al Anbiyaa’ (21):107]


Frase “wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alaamin” menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa rahmat bagi penjuru alam itu dinisbahkan kepada syari’at yang dibawa oleh Mohammad saw. Namun, rahmat pada ayat itu hanyalah hasil (natijah) dari penerapan syari’at Islam, bukan sebagai “sebab” (‘illat) pensyari’atan hukum Islam. Oleh karena itu, tidak boleh dipahami bahwa hukum syariat itu ditetapkan berdasarkan mashlahat. Pasalnya mashlahat bukanlah dalil hukum maupun ‘illat pensyari’atan sebuah hukum.


Selain itu, ayat di atas tidak mengandung ‘illat sama sekali. Rahmat pada ayat ini bukanlah ‘illat disyari’atkannya hukum Islam, sehingga dinyatakan bahwa hukum syariat itu beredar mengikuti ’illatnya (kemashlahatan). Kaedah ushul fiqh menyatakan, "al-‘Illat taduuru ma’a ma’luul wujuudan wa ‘adaman" (‘Illat itu beredar dengan ada atau tidak adanya yang di’illati.


Jika suatu hukum syariat dianggap tidak mashlahat, maka hukum itu bisa dianulir. Sebaliknya, sesuatu yang diharamkan oleh syariat, bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang masyr’u jika di dalamnya ada kemashlahatan. Kesimpulan semacam ini jelas-jelas menyimpang dari membuka ruang yang sangat lebar munculnya aktivitas ”mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt” dengan alasan mashlahat. Padahal Allah swt mencela perbuatan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah swt, dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt.

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here