Membentuk Parpol Ideologis Mewujudkan Negara yang Kuat dan Solid - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 22, 2021

Membentuk Parpol Ideologis Mewujudkan Negara yang Kuat dan Solid


Oleh: Ahmad Rizal - Dir. ELFIKRA (Elaborasi Fikiran Rakyat) 

Jagad media nasional dewasa ini dihebohkan dengan hiruk pikuk perseteruan sebuah parpol. Memang menjadi hal yang cukup pelik apabila sebuah parpol bisa terpecah belah. Masalahnya, bagaimana mungkin parpol ini mampu mewujudkan persatuan untuk menggapai tujuan kemaslahatan rakyat apabila ia sendiri tak mampu menjaga dan merawat persatuan internal anggota parpol? 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa parpol-parpol yang kini eksis di kancah perpolitikan nasional dianggap rakyat hanya berkepentingan untuk mewujudkan tujuan politik kelompoknya saja atau untuk kepentingan orang-orang yang "berjasa" bagi parpolnya. Hal ini terbukti saat anggota parpol berhasil menjadi wakil rakyat di gedung parlemen, justru banyak dari produk UU yang dihasilkan tidak berpihak kepada rakyat. 

Lalu bagaimanakah sesungguhnya parpol dibentuk? Dan untuk tujuan apakah semestinya mereka ada? 

MEMBENTUK PARPOL IDEOLOGIS

1. Sebuah parpol hendaknya memiliki pemikiran yang jelas, tidak absurd, tidak bias, mudah dipahami dan bersifat ideologis. Pemikiran semacam ini wajib dimiliki oleh seseorang selaku pendiri parpol. Seseorang ini harus mempunyai kemampuan berpikir yang tinggi dan perasaan yang peka akan mendapatkan petunjuk untuk memahami ideologi. Kemudian ia akan menggeluti dan mendalami ideologi tersebut, hingga ideologi itu menjadi sangat jelas baginya dan mengkristal dalam dirinya. Pada saat itulah muncul sel pertama dari partai itu yang lambat laun sel-sel tersebut akan semakin banyak. 

2. Anggota-anggota parpol yang bergabung setelahnya, wajib memahami ideologi itu hingga mengkristal pula dalam diri mereka. Sehingga kepemimpinan parpol meski dipimpin oleh sesosok orang, namun sejatinya parpol ini menjalankan aktivitasnya berdasarkan kepemimpinan berpikir, bukan kepemimpinan sosok. 

3. Pemikiran yang diemban oleh parpol ini haruslah bermula dari aspek yang fundamental. Sehingga anggota awal parpol ini akan terangkat dari keadaan buruk tempat rakyat hidup. Dia ibarat 'terbang' di alam (suasana) yang lebih tinggi dan mampu melihat realita masa depan yang harus dicapai oleh rakyat, yakni mampu melihat kehidupan baru dimana rakyat akan diubah ke arah tersebut. Dia juga dapat melihat jalan yang harus dilaluinya dalam mengubah realita yang ada. 

4. Pemikiran anggota parpol yang awal harus bertumpu pada suatu kaidah yang tetap, yaitu bahwa pemikiran harus berkaitan dengan aktivitas, dan bahwa pemikiran dan aktivitas harus mempunyai suatu tujuan tertentu yang hendak dicapai. Pemikiran ini harus menjadi keyakinan kuat dalam diri mereka. Sebab parpol akan mengubah realita yang rusak dan menggantinya dengan realita yang baru yang berasal dari pemikiran ideologis itu. Ini juga mengharuskan parpol tidak boleh tunduk dan terpengaruh oleh realita yang rusak. Mereka harus terus berupaya mengimplementasikan pemikirannya untuk menundukkan realita rusak itu dan menggantinya dengan realita yang sesuai dengan pemikiran parpol. 

5. Parpol wajib menjadi subyek yang berpengaruh di masyarakat, bukan menjadi obyek yang terpengaruh oleh keadaan masyarakat. 

6. Parpol harus memiliki gerak-gerak terarah yang dirancang berdasarkan kajian secara sungguh-sungguh terhadap keadaan masyarakat, orang-orangnya, dan suasananya. Ia juga didasarkan pada pengawasan yang penuh kewaspadaan agar institusi partai tak disusupi oleh unsur yang merusak, dan agar tak terjadi kesalahan dalam menyusun struktur organisasi partai yang atas dasar itu terbentuk tubuh partai. Dengan demikian, partai tidak tergelincir pada pandangan yang bukan pandangannya yang benar dan tidak mengalami kehancuran dari dalam. 

7. Asas yang teguh dan pandangan partai yang matang wajib menjadi pengikat antar anggota partai, dan wajib menjadi undang-undang yang mengendalikan kelompok partai, bukan undang-undang administrasi yang hanya tertulis di atas kertas. Keyakinan terhadap ideologi haruslah ada, sehingga pada mulanya hati menjadi pemersatu individu-individu partai. Kemudian mereka harus mempelajari ideologi secara mendalam, menghafalkannya, mendiskusikan, dan memahaminya sehingga pemersatu individu-individu partai yang ke dua adalah akal. 

8. Pimpinan parpol harus memiliki kemampuan membakar kesadaran anggota-anggotanya, yang kemudian anggota-anggota parpol ini pun juga akan menjadi pembakar kesadaran gerak parpol bagi anggota-anggota lainnya. Sehingga aktivitas partai berjalan tidak sekedar adanya instruksi pimpinan tapi juga kesadaran para anggotanya. 

9. Partai ideologis ini harus melakukan tahap pengkajian dan belajar untuk mendapatkan sudut pandang pemikiran partai atas kader-kader partai. Proses kaderisasi ini didasarkan pada pemahaman calon kader partai terhadap pemikiran yang diemban oleh partai, bukan karena calon kader merupakan orang yang memiliki kedudukan yang berpengaruh di tengah masyarakat padahal ia sama sekali tidak memahami dengan baik pemikiran partai. Bila calon kader telah sepaham dengan pemikiran partai maka ia layak menjadi anggota partai, meski ia bukanlah dari golongan orang yang memiliki kedudukan di masyarakat. Begitu pula sebaliknya, bila calon kader tak mampu menerima pemikiran partai, maka ia tak layak menjadi anggota partai meski ia memiliki kedudukan dan pengaruh di tengah masyarakat. 

10. Berikutnya partai wajib menyebarkan pemikiran ini ke tengah-tengah masyarakat. Tak peduli lagi apakah masyarakat akan memberikan respon positif atau negatif. Partai harus konsisten dalam koridor pemikirannya. Sehingga masyarakat menerima pemikiran partai menjadi pemikiran masyarakat. Pada tahap ini partai akan mengalami banyak sekali dinamika. Bisa jadi akan luruh sebagian kader dan anggota partai, tapi bisa juga bertumbuh. Namun partai wajib memiliki keyakinan bahwa pemikiran partai inilah yang dibutuhkan masyarakat untuk merubah keadaan mereka dari keadaan yang rusak menuju kehidupan baru yang lebih baik. Tahap ini adalah tahap terberat yang dilalui partai. 

11. Apabila sebagian besar masyarakat menerima dan menjadikan pemikiran partai menjadi pemikiran mereka, maka secara otomatis masyarakat akan menaruh kepercayaan kepada partai untuk memimpin mereka menuju kehidupan baru yang lebih baik. Ini artinya, dukungan masyarakat ini juga akan memberikan akses kepada partai untuk menerima kekuasaan dari rakyat agar memimpin mereka dalam kehidupan bernegara. Dukungan ini bukanlah dukungan yang dangkal, namun merupakan dukungan yang muncul dari kesadaran. Sehingga apabila pimpinan partai ini berhasil meraih kekuasaan, ia akan mendapatkan dukungan secara penuh dari rakyat melalui kesadaran pemikiran yang kemudian membentuk sebuah negara yang kuat dan solid. 

KESIMPULAN

Sejatinya parpol dibentuk sebagai wadah untuk berjuang bersama rakyat untuk menggapai tujuan kehidupan baru yang lebih baik bagi seluruh rakyat. Bukan untuk kepentingan politik kelompok partai saja atau orang-orang tertentu yang terafiliasi oleh partai.

Bila parpol-parpol tidak memiliki karakter sebagaimana di atas, maka rakyat akan terus menerus gigit jari sembari mengunyah janji-janji manis parpol tanpa adanya realisasi. Rakyat hanya dijadikan "kendaraan politik" menuju kekuasaan demi kepentingan kelompok tertentu. Padahal semestinya parpol harus "hidup bersama rakyat" dan bersama-sama berjuang untuk memperbaiki kehidupan mereka.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here