Menelisik Kontra Terorisme Dan Deradikalisasi Ala Barat (3) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, March 27, 2021

Menelisik Kontra Terorisme Dan Deradikalisasi Ala Barat (3)


Ilham Efendi (Direktur RIC)

Pemerintah di dunia muslim telah membuat langkah deradikalisasi secara massif yang diimplementasikan dengan kosentrasi pada perubahan orentasi dan tafsiran dalam keberagamaan seseorang agar lebih moderat (wasatiyyah), toleran dan liberal. Ini sesungguhnya bukan solusi, karena akan menciptakan polarisasi dalam kehidupan masyarakat khususnya umat Islam. Praktek devide et impera (strategi belah bambu) akan menjadi pemicu permanen lahirnya sikap radikal.

Program deradikalisasi seperti itu malah menimbulkan bahaya baru buat umat Islam, karena ada potensi penyimpangan dan tafsiran-tafsiran yang menyesatkan terhadap nash-nash syara’  dengan menselaraskan nash-nash syara’ terhadap realitas sekuler, dan memaksakan dalil mengikuti konteks aktualnya dan kontruksi pemikiran tanpa dalil atau hujjah yang kokoh. Contohnya,  upaya tahrif (penyimpangan) pada makna jihad, tasamuh (toleransi), syuro dan demokrasi, hijrah, thagut, muslim dan kafir, ummatan washat, klaim kebenaran, doktrin konspirasi (QS. Al Baqarah [2] : 217) dan upaya mengkriminalisasi dan monsterisasi  terminologi daulah Islam dan Khilafah.

Umat akan terpecah belah (berhadap-hadapan) dengan katagorisasi radikal –  moderat, fundamentalis – liberal, Islam ekstrim – Islam rahmatan, Islam garis keras – Islam toleran dan istilah lainya yang tidak ada dasar pijakannya dalam dienul Islam. Hal ini mirip dengan langkah orentalis dalam memecah belah umat Islam dengan memunculkan istilah “Islam putihan” (berasal dari bahasa arab: muthi’an/taat) dan “Islam abangan” (aba’an/pengikut/awam). Umat Islam yang taat ditempatkan sebagai musuh karena membahayakan penjajahan.

Bahaya deradikalisasi berikutnya adalah menyumbat langkah kebangkitan Islam, menjadikan umat jauh dari pemahaman dan sikap ber-Islam yang kaffah. Tidak mampu menjadikan Islam sebagai akidah dan syariah secara utuh serta sebagai pedoman spiritual dan kehidupan politik. Maka bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya program deradikalisasi tidak lain adalah de-Islamisasi terhadap mayoritas umat Islam yang menjadi penghuni negeri ini.

Program ini pada akhirnya akan melahirkan bahaya (dzarar) lebih besar berupa tetap tegaknya sistem sekular dan langgengnya imperialisme Barat di negeri Indonesia atas nama GWOT, HAM, Demokrasi, Pasar bebas, dan perubahan iklim. Di bawah sistem sekular, umat Islam hidup dalam  kehidupan yang sempit, jauh dari kebahagiaan lahir batin, dan jatuh dalam peradaban materialisme dan kerusakan moral yang luar biasa.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here