"Menghisab" Diri Sendiri Sebelum Masa Itu Tiba (2) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, March 11, 2021

"Menghisab" Diri Sendiri Sebelum Masa Itu Tiba (2)


Abu Inas (Tabayyun Center)

Idealnya setiap saat kita perlu melakukan muhasabah, yakni melakukan semacam penenungan dan mengoreksi diri sendiri; sejauh mana kita telah melakukan ketaatan kepada Allah SWT dengan melakukan banyak amal shalih sekaligus meninggalkan dosa-dosa dan maksiat; atau sejauh mana kita telah mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Terkait dengan itu, Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa memperhatikan dirinya dan beramal untuk kepentingan setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan (berjumpa) dengan Allah.” (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).

Menurut At-Tirmidzi, memperhatikan dirinya maknanya adalah menghisab dirinya (muhasabah)  di dunia sebelum dihisab pada Hari Akhir nanti. Terkait dengan itu, Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat nanti) dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat nanti)…Sesungguhnya penghisaban yang ringan pada Hari Kiamat nanti hanya bagi orang-orang yang biasa menghisab dirinya di dunia. Menghisab diri adalah dengan selalu berikap wara’…” (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, I/104).

Menurut ‘Amir bin Abdillah bin ‘Abd Qays, sebagaimana dituturkan oleh Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya manusia yang tampak paling cemerlang keimanannya pada Hari Kiamat nanti adalah yang paling keras melakukan muhasabahnya saat di dunia.” (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyah al-Awliya’, I/245).

Senada dengan itu, Maymun bin Mahran pernah berkata, “Seseorang tidak tergolong sebagai orang yang bertakwa hingga dia menghisab (mengoreksi) dirinya lebih kuat daripada menghisab (mengoreksi) kawannya hingga ia tahu darimana asal makanannya, dari mana asal pakaiannya dan dari mana asal minumannya; apakah berasal dari yang halal atau yang haram?” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/458).

Harits bin Asad al-Muhasibi juga pernah menyatakan, “Pangkal ketaatan adalah sikap wara’. Pangkal sikap wara’ adalah takwa. Pangkal takwa adalah muhasabah diri.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, IV/282).

Hasan al-Bashri juga pernah menyatakan, “Sesungguhnya seorang Mukmin yang menjaga dirinya sendiri akan selalu melakukan muhasabah karena Allah SWT. Sungguh akan terasa ringan penghisaban Allah SWT atas suatu kaum yang biasa menghisab diri mereka saat di dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah I/356).


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here