Negeri Butuh Solusi APBN Tanpa Utang Luar Negeri - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, March 12, 2021

Negeri Butuh Solusi APBN Tanpa Utang Luar Negeri


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP) 


Belanja APBN 2021 menggambarkan secara jelas bahwa tahun depan beban yang harus dipikul oleh rakyat akan makin besar dan lebih berat lagi. Selain itu, dengan terus berutang dengan beban bunga yang tinggi, negeri ini akan terus terpuruk dalam jerat utang. 


Saat utang makin bertumpuk, tentu APBN, yang notabene uang rakyat, makin tersedot untuk bayar utang plus bunganya yang mencekik. Semua itu adalah untuk kepentingan para pemilik modal, terutama pihak asing. Sebaliknya, alokasi anggaran untuk kepentingan rakyat, khususnya dalam bentuk subsidi, terus dikurangi bahkan bakal dihilangkan sama sekali.


Semua itu karena Pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi neoliberal, yang tercermin dalam penyusunan APBN. Dalam APBN yang didasarkan pada kebijakan ekonomi neoliberal, subsidi untuk rakyat akan selalu dianggap sebagai beban Pemerintah. Ini karena dalam sistem ekonomi neoliberal, Pemerintah tidak berkewajiban memerankan dirinya sebagai pengurus rakyat yang benar-benar bertanggung jawab dalam mencukupi segala kebutuhan rakyatnya. Bahkan peran Pemerintah dalam mengurus kepentingan rakyat harus terus dikurangi dan dibatasi. Ini jelas bertentangan dengan Islam. Pasalnya, dalam Islam penguasa bertanggung jawab atas segala urusan rakyatnya, sebagaimana sabda Nabi saw.:


اَلإِمَامُ رَاعٍ وَ هُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعَيَّتِهِ


Imam (penguasa) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Muslim).


Selain itu Pemerintah telah menjadikan utang berbasis riba sebagai salah satu unsur terpenting dalam penyusunan APBN. Ini karena sejak lama utang berbasis riba dianggap sebagai pilar ekonomi. Padahal riba membuat perekonomian akan terus tidak stabil, dihantui banyak masalah dan didera krisis yang terus berulang. Allah SWT telah mengisyaratkan hal itu dalam firman-Nya:


الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ


Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila (TQS al-Baqarah [2]: 275).


Karena itulah Allah SWT dengan tegas mengharamkan riba, sebagaimana firman-Nya:


وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا


Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba (TQS al-Baqarah [2]: 275).


Bahkan Rasulullah saw. menegaskan bahwa riba adalah dosa yang amat besar, sebagaimana sabdanya:


اَلرِّبَا ثَلاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ اَلرَّجُلُ أُمَّهُ


Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan adalah seperti seorang laki-laki menikah (berzina) dengan ibunya sendiri (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here