Partai Yang Solid Itu... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, March 6, 2021

Partai Yang Solid Itu...


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Berbagai pola berpikir, perasaan, keinginan dan kepentingan di dalam interaksi tersebut. Kesemuanya bermuara kepada 3 motivasi yakni motivasi materi, maknawiyah dan ruhiyyah.

Setiap kelompok, perkumpulan dan atau partai tentunya mempunyai asas dan tujuan yang ingin dicapainya. Ada perkumpulan atau kelompok yang mendasarkan asas berdirinya pada kebersamaan dan kerukunan. Sedangkan tujuannya adalah mencapai kemaslahatan tertentu. Ada yang kemaslahatan materi seperti perkumpulan arisan atau menabung bersama. Maka ketika sudah tercapai tujuan materi yang diinginkan oleh semua anggota, tentunya usai juga perkumpulannya. Individu-individu anggotanya kembali ke realitas kehidupannya masing-masing. Mereka menghadapi masalah kehidupannya sendiri-sendiri, tanpa ada kepedulian dari mantan anggota yang lainnya dari perkumpulan tersebut.

Di sisi yang lain, terdapat perkumpulan, kelompok dan atau partai yang ingin mencapai kemaslahatan maknawi. Mereka mencita-citakan kemakmuran bagi bangsa dan negara. Mereka ingin bisa mewujudkan kesejahteraan umum. 

Setelah melihat relitas bangsa dan negerinya, akhirnya kesimpulan yang diambilnya adalah bahwa kesejahteraan umum akan bisa diwujudkan jika perkumpulan, kelompok dan atau partainya menang dalam pemilu demokrasi. Ditetapkanlah metode mengikuti pemilu demokrasi sebagai kendaraannya. Tentunya agar bisa ikut bermain dalam pemilu, mereka harus mendaftarkan dirinya sebagai kontestan pemilu. Dengan begitu, mereka mendapatkan legitimasi berkiprah mengikuti mekanisme pemilu. Kampanye hingga pemungutan suara.

Dengan kata lain, kegiatannya hanya akan nampak saat menjelang pemilu. Berbagai pendekatan sosial dilakukan demi untuk mendulang suara pemilih sebanyak-banyaknya. Tidak terbilang seberapapun besar biaya yang dikeluarkan. Terutama oleh kandidat yang dicalonkan guna menduduki kursi-kursi pemerintahan baik di pusat maupun daerah. Baik dalam level eksekutif maupun legislatif.

Oleh karena itu bisa dipahami dengan baik bahwa kursi yang diperoleh merupakan aset yang bisa mendatangkan pundi-pundi kekayaan. Apalagi bukanlah rahasia umum bahwa dalam pemilu banyak cukong-cukong yang terlibat. Para cukong yang notabenenya adalah korporasi akan meminta imbalan atas biaya yang sudah dikeluarkannya. Imbalan tersebut berupa korupsi kebijakan. Maka tidaklah mengherankan bila bermunculan undang-undang yang memihak para korporasi tersebut. Sebut saja misal UU Omnibus Law Ciptaker, dan UU Minerba.

Jadi cita-cita yang diwujudkan dijalankan melalui koridor sistem kehidupan yang establish. Sistem kehidupan saat ini berasaskan sekulerisme. Ditambah lagi konsepsi ideologinya adalah Kapitalisme-Liberalisme. Tentunya keuntungan materi menjadi panglimanya. Nilai halal dan haram tidak lagi diindahkan. Akibatnya orang-orang yang terlibat di dalamnya juga terpola dengan pola berpikir yang sekuer dan materialistik. Yang terlihat adalah rakyat dipertontonkan pertunjukan para elit politik yang saling menjegal dan bersaing. Idealisme bukan lagi diperjuangkan. Fenomena kutu loncat dari satu partai politik ke partai politik lainnya, karut marutnya internal partai, dan lainnya hampir tiap saat menghiasi ruang publik. Walhasil hal demikian hanya menjadikan rakyat bersikap apatis terhadap politik.

Mencermati hal demikian, maka patutlah kiranya perkumpulan, kelompok dan atau partai berdiri di atas asas yang diyakini oleh semua individu yang berkumpul di dalamnya. Ikatan aqidah tentunya relevan dalam hal ini.

Berhubung rakyat negeri ini mayoritasnya beragama Islam, tentu asas yang pas adalah aqidah Islam. Harapannya dengan asas Aqidah Islam ini akan menjadikan kesolidan. Mereka terpaksa ikhlash. Bahkan tidak bisa mereka tidak ikhlash dalam berjuang bersama kelompok dan atau partainya. 

Mereka akan senantiasa mengikhlaskan niatnya. Mereka senantiasa mengkaji langkah-langkah politik yang digariskannya agar tidak melenceng dari aqidahnya.

Artinya mereka berusaha agar asas kehidupan yang sekuleristik ini tidak lagi diambil oleh bangsa dan negerinya. Lantaran sekulerisme menjadikan untung rugi sebagai ukuran keberhasilan dan kebahagiaannya. Kesejahteraan rakyat bukan lagi menjadi prioritas utamanya. 

Mereka terus belajar dari kesalahan-kesalahan politik dari orang-orang terdahulu maupun para pelaku politik saat ini. Mereka mengambil pelajaran berharga. Sekulerisme justru membelokkan perjuangan menuju terwujudnya kesejahteraan bangsa dan negara. Justru bangsa dan negara masih berada dalam dominasi penjajahan. Mereka sadar bahwa dengan asas aqidah dan semangat jihad, penjajah mampu diusir dari bangsa dan negerinya. Dengan kesadaran demikian, langkah politiknya tidak terlepas dari Islam sedikitpun.

# 05 Maret 2021


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here