Pentingnya Menjadikan Dakwah Sebagai Poros Hidup - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, March 11, 2021

Pentingnya Menjadikan Dakwah Sebagai Poros Hidup


Ilham Efendi 

Allah SWT berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar (QS Ali Imran [3]: 142).

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33).

Dari ayat-ayat di atas, pengemban dakwah perlu melakukan muhasabah diri. Dibutuhkan sikap yang kokoh dan aktivitas ruhiah untuk mengundang pertolongan Allah SWT akan sempurna apabila diikuti dengan memperkokoh tindakan dalam dakwah. Di antara upaya untuk mengokohkan tindakan dalam dakwah adalah terus berdakwah bersama dengan jamaah dakwah. Kita perlu belajar dari lidi. Apabila lidi itu hanya satu atau dua, mudah sekali patah. Berbeda dengan itu, lidi yang diikat menjadi sapu lidi sangat kokoh dan tidak mudah dipatahkan. Begitu juga apabila dakwah hanya seorang diri. Oleh karena itu, kekokohan dakwah akan diperoleh dengan tidak keluar dari jamaah dakwah. Berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah saw. bersabda, “Kalian harus berpegang pada jamaah dan menjauhi perpecahan. Sebab, sesungguhnya setan bersama dengan orang sendirian, dan lebih jauh terhadap orang yang berdua. Siapa saja yang menghendaki surga maka berpegang teguhlah pada jamaah. Siapa saja yang merasa senang dengan kebaikannya dan merasa buruk dengan kesalahannya maka ia adalah Mukmin.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

Hal lain yang penting dilakukan adalah mempersiapkan keluarga (istri, anak) untuk sama-sama memahami pentingnya dakwah sebagai poros hidup. Dakwah merupakan proyek besar dan perjalanan panjang. Risiko pun bukan hanya sekadar dihadapi oleh pengembannya saja, melainkan juga oleh anak dan istrinya. Anak dan istri harus turut menanggung beban sosial dari masyarakat apabila suami dan ayahnya yang pengemban dakwah dicap negatif sebagai ‘garis keras’, misalnya. Mereka harusnya menjadi orang-orang pertama yang membela dakwah. Merekalah orang-orang pertama yang terus memompakan semangat perjuangan. Itulah yang dilakukan oleh Rasul dan para Sahabat. Khadijah ra. adalah istri Rasulullah saw. yang menghabiskan hartanya untuk mendukung dakwah suaminya. Dia orang yang beriman saat orang lain kufur kepada beliau, mencintai beliau ketika orang lain membenci beliau dan membela beliau saat kaum Quraisy berupaya untuk membunuh beliau. Yasir dan Sumayah adalah pasangan suami-istri yang berjuang di jalan Allah. Begitu juga Amar bin Yasir ra. Ia merupakan putra mereka yang menjadi sahabat dekat Rasulullah saw. Umar bin al-Khaththab adalah sahabat yang menjadi khalifah setelah Abu Bakar. Sementara itu, Abdullah bin Umar adalah anak beliau yang berjuang bersama beliau dan menjadi salah satu rujukan di kalangan sahabat. Dengan cara seperti itu, tantangan sebesar apapun akan dihadapi bersama oleh keluarga. Konsekuensinya, risiko yang dirasakan lebih ringan. Sebaliknya, tanpa mempersiapkan keluarga dalam satu barisan dakwah Islam, tantangan justru boleh jadi datang dari keluarga sendiri. Terkait masalah ini kita perlu banyak belajar meneladani prilaku Rasulullah saw., sahabat dan orang-orang shalih.

Last but not least, tantangan dakwah akan dapat diselesaikan dengan cara terus menjalankan karakter kepartaian dakwah (tabi’ah hizbiyah). Orang akan dapat merasakan manisnya gula apabila dia memakan gula tersebut. Tidak cukup sekedar diberi tahu bahwa rasa gula itu manis. Begitu juga dakwah. Dakwah akan terasa manis apabila aktivitas dakwah dilakukan. Untuk itu, proses pembinaan (halqah) harus dijalani dengan penuh antusias. Sikap para Sahabat dalam mengikuti pembinaan di Darul Arqam mencerminkan keseriusan dalam pembinaan. Begitu pula apabila ada seseorang tidak sempat mengikuti majelis Nabi saw. maka orang yang hadir akan menyampaikan isinya kepada mereka yang tidak hadir. Di samping menambah tsaqafah, halqah akan menjadikan ikatan dakwah makin erat. Meninggalkan halqah laksana membiarkan diri dimakan serigala.

Namun, halqah saja tidak cukup, not sufficient. Para Sahabat tidak hanya mengikuti kajian dengan Nabi saw. Mereka pun menyebarkan Islam yang telah mereka pahami itu kepada masyarakat dengan melakukan kontak. Dengan melakukan dakwah berarti kita menolong agama Allah SWT. Padahal siapapun yang menolong agama-Nya niscaya Dia akan memberikan pertolongan kepada dirinya (TQS Muhammad [47]: 7).

Pengorbanan pun harus terus dilakukan. Salah satu wujud pengorbanan itu adalah menginfakkan hartanya di jalan dakwah. Para Sahabat Nabi tidak segan mengeluarkan harta. Mereka menggemgam harta seperti menggemgam tanah. Sekadar contoh, suatu waktu Nabi Muhammad saw. mengirim utusan kepada Utsman bin Affan agar ia dapat membantu pasukan al-’usrah.  Tanpa berpikir dua kali, Utsman menyerahkan uang senilai sepuluh ribu dinar (sekitar Rp 12,975 miliar) melalui utusan tersebut (diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi, Daruquthni, Abu Nu’aim, dan Ibnu Asakir; al-Muntakhab, V/ 12).  Salman al-Farisi selalu menyisihkan sepertiga hasil usahanya untuk berinfak (Ibnu Sa’ad, IV/ 64). Betapa ringan para Sahabat dalam berinfak di jalan Islam.

Tanpa disadari, infak harta yang diberikan di jalan Allah SWT akan dibalas sebanyak tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Baqarah [2] ayat 261.

Ringkasnya, tantangan dakwah akan dapat diatasi dengan cara mengokohkan keimanan, mengundang pertolongan Allah SWT dengan cara ber-taqarrub kepada-Nya, serta melakukan aktivitas dakwah itu sendiri dengan penuh kesungguhan.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here