Prostitusi Online Menjerat Generasi di Tengah Pandemi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 22, 2021

Prostitusi Online Menjerat Generasi di Tengah Pandemi


Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)

Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. Praktek transaksi demi untuk menaikkan omzet tidak lagi memperhatikan norma kesusilaan dan agama. 

Adalah Hotel Alona di Tangerang, digerebek kepolisian lantaran ada praktek prostitusi online di dalamnya (20/03). Terjaring ada 15 remaja di antara usia 14 hingga 19 tahun yang menjadi korban. Praktek prostitusi online ini sudah berjalan sekitar 3 bulan.

Modus operasi dalam menjaring para remaja tersebut adalah dengan dipacari lalu ditawari pekerjaan. Melalui aplikasi MiChat, transaksi ini berlangsung. Tarif yang dikenakan sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 1 juta. Tentunya di dalam besaran tarif ini ada bagian untuk remaja pelaku, pihak hotel, serta mucikarinya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Cyntiara Alona selaku pemilik hotel ditetapkan sebagai tersangka. Pasalnya membiarkan terjadi praktek prostitusi di hotelnya.

Menurut Meisy Papayungan, Kepala UPT Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulsel bahwa selama pandemi ini marak terjadi prostitusi online secara nasional, tidak terkecuali di Sulsel. Begitu pula pernyataan Ketua MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) yang menyatakan bahwa ekonomi yang sulit menjadi alasan mendasar maraknya prostitusi online di masa pandemi.

Pandemi Covid-19 ini bukanlah pemicu terjadinya prostitusi online. Justru pandemi Covid-19 ini menunjukkan kepada kita penyakit prostitusi ini sudah akut mengancam generasi. Artinya, sebelum terjadinya pandemi, prostitusi ini berlangsung. Di tahun 2018, data Kemensos menunjukkan ada 40 ribu PSK yang menghuni lokalisasi di Indonesia. Bahkan disebutkan bahwa Indonesia termasuk negara yang paling banyak jumlah lokalisasinya. Dari sini dapat dipahami bahwa praktek prostitusi tidak pernah bisa diselesaikan dengan baik dan tuntas.

Persoalan prostitusi telah menjadi sistemik. Penyelesaiannya tidak cukup secara personal. Ambil contoh alasan ekonomi yang mendorong terjadinya prostitusi tersebut. Tentunya di tengah mahalnya kebutuhan hidup, orang yang berpenghasilan rendah tidak akan mampu memenuhi kebutuhannya dengan baik. Betapapun kerasnya ia bekerja. Ini menunjukkan bahwa kebijakan negara guna menanggulangi inflasi barang kebutuhan pokok sangat diperlukan. Termasuk dalam peningkatan mutu hidup rakyatnya.

Oleh karena itu negara harus mengambil peran sebesar-besarnya dalam memberantas prostitusi dan menyelematkan generasi. Negara melakukan pembinaan dan penjagaan keimanan dan ketaqwaan warganya. Nilai halal dan haram ditanamkan dengan gamblang di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian akan bisa diwujudkan individu-individu yang bertaqwa. Di samping itu, suasana keimanan menjadi tanggung jawab negara guna mewujudkannya di tengah masyarakat.

Selanjutnya negara menerapkan aturan-aturan Islam, termasuk dalam pergaulan antara pria dan wanita. Relasi pria dan wanita dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan. Dengan begitu, pergaulan di antara keduanya terjaga. Hanya melalui pernikahan, seorang wanita halal bagi seorang laki-laki. Di samping itu, keluarga yang dibangun dilandasi oleh iman dan taqwa.

Negara menyelenggarakan pendidikan di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya, dengan mengedepankan tujuan terwujudnya manusia yang seutuhnya. Baik imannya, juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi 

Negara sebagai satu-satunya pihak yang berhak mengelola kekayaan alam yang melimpah di negeri ini. Kekayaan alam berupa bahan tambang, hutan, perairan dan lainnya, dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Walhasil negara akan memiliki sumber pendapatan yang melimpah. Dengan demikian kebutuhan hidup rakyat di tengah pandemi ditangani oleh negara. Jadi kesehatan akan menjadi fokus dalam menanggulangi pandemi.

Jikalau sudah demikian, negara akan menerapkan sangsi yang tegas kepada para pelaku kejahatan dan kemaksiatan, termasuk pula kepada pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Hukum rajam bagi pelaku zina yang sudah pernah menikah, cambuk 100 kali bagi pelaku zina yang belum menikah, serta sangsi takzir terhadap semua pihak yang terlibat dalam melakukan kerjasama pelanggaran.

Dengan beberapa kebijakan demikian akan mampu mewujudkan masyarakat dan bangsa yang dilandasi oleh kesucian dan kemuliaan. Pada saat yang bersamaan, asas kehidupan sekulerisme mutlak untuk ditinggalkan. 

# 20 Maret 2021


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here