Sekulerisasi Dalam Tubuh Tentara? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, March 3, 2021

Sekulerisasi Dalam Tubuh Tentara?


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Secara historis, ditemukan hubungan yang demikian erat antara rakyat Muslim dan militer, namun ini mulai terganggu sejak adanya kepentingan asing atas nama profesionalisme tentara di tubuh militer Indonesia. 

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan mantan KNIL di tubuh BKR/TKR membawa kecemburuan tersendiri di antara personil tentara mantan PETA dan lasykar pejuang bentukan rakyat. Apalagi setelah adanya reorganisasi tentara dan efisiensi pasukan, banyak lasykar rakyat yang dipaksa untuk membubarkan diri. Bahkan mantan KNIL yang masih setia pada kepentingan kolonial melakukan aksi-aksi sepihak di bawah komando Westerling dalam pemberontakan APRA.

Selain itu, keberadaan para penentu kebijakan di tubuh militer saat itu pun membawa warna sekular dalam organisasi ketentaraan, seperti Menteri Pertahanan Amir Syarifudin, seorang murtadin penganut Sosialis Marxist; juga Kolonel Tahi Bonar Simatupang yang merupakan anggota dewan gereja. Sekularisasi di tubuh militer ini pun terus berlangsung hingga kini. Bahkan pada masa Orde Baru, militer Indonesia diduga menjadi alat untuk menopang keberlangsungan kekuasaan yang ada untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Dwifungsi ABRI yang digagas Jenderal AH. Nasution pun disalahgunakan oleh kekuasaan Orde Baru untuk membungkam suara kritis rakyat.

Selain itu, kerjasama militer dengan negara-negara asing pun membawa perubahan mendasar dalam paradigma berpikir para prajurit tempur negeri ini. Para perwira militer kita disekolahkan di akademi-akademi militer asing untuk menimba ilmu sekaligus meningkatkan kualitas performa militer Indonesia di dunia internasional. Sistem pendidikan asing yang didapat para perwira militer itu pun diterapkan dalam kurikulum pendidikan militer Indonesia, baik di tingkat Secatam, Secaba, Secapa hingga Sesko. Bahkan termasuk di pendidikan terpadu tentara dalam Akademi Militer (Akmil) yang dirancang saat Unsmiling General yang anti Islam, Jenderal Leonardus Benyficius Moerdani menjabat sebagai Panglima ABRI. Pendidikan agama (Islam) yang diajarkan dalam kurikulum sebatas formalitas Pembinaan Mental Kerohanian. Praktis, ghirah Islam dalam jiwa tentara berpotensi rentan terpinggirkan. Ketika sebagian segmen umat Islam diposisikan sebagai kriminal, ekstremis, radikalis dan fundamentalis. 

Oleh karena itu, sudah saatnyalah militer Indonesia sebagai tentara rakyat dan tentara pejuang kembali ke akar historisnya, bahwa mereka adalah anak kandung Kaum Muslim. Mereka adalah pejuang bersama rakyat mayoritas negeri ini dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan tanpa meninggalkan jatidiri dan karakter TNI sendiri sebagai tentara profesional.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here