Agar Nuansa Ramadhan Selalu Hadir


Hadi Sasongko

Orang yang memahami keberkahan Ramadhan akan berlomba-lomba untuk mengisinya dengan berbagai aktivitas ibadah. Setiap tempat diwarnai dengan kegiatan-kegiatan keislaman,  baik di rumah, di sekolah, apalagi di masjid-masjid.  Semangat beramal pada bulan Ramadhan memang sangat tinggi.  Penentunya adalah adanya dorongan keimanan dan keyakinan atas besarnya pahala; juga situasi amal jama’i yang sangat mendukung.  Beberapa aktivitas Ramadhan sering dilakukan bersama-sama, baik dengan anggota keluarga maupun bersama teman dan tetangga.  Sahur dan buka bersama, shalat wajib juga shalat tarawih dilaksanakan berjamaah di masjid. Pesantren kilat atau kajian Islam menjelang zuhur dan sesaat sebelum berbuka biasanya juga diselenggarakan bersama.

Ketika Ramadhan telah berlalu tidak berarti bahwa semangat ber’amal juga menurun.  Karenanya penting sekali memelihara supaya semangat tersebut tetap menyala dan kita istiqamah dalam ketaatan sebagaimana yang terjadi dibulan Ramadhan. Peran keluarga sangatlah penting agar supaya nuansa Ramadhan terus hadir.  Di antara peran tersebut adalah: Pertama, senantiasa menjaga kesadaran bahwa kita harus menjadi orang bertakwa sepanjang hayat.  Kesadaran ini terus dipupuk dengan selalu mengkaitkan dengan sifat-sifat Allah, seperti Allah Maha Pembalas amal, Allah Maha Pemberi rizqi, Allahlah Yang menghidupkan dan mematikan serta hanya kepada Allahlah kita akan kembali untuk mempertanggung jawabkan amal kita di dunia.  Dengan pengaitan ini, diharapkan akan muncul sikap takut, harap, dan taat pada Allah.

Kedua, terus memberi maklumat tentang  aturan-aturan Allah yang harus ditaati. Semangat mempelajari tsaqafah Islam bukan hanya dilakukan dalam pesantren kilat Ramadhan saja.  Tadarus dan tadabur al-Quran juga akan terus didawamkan.

Ketiga, memfasilitasi supaya anggota keluarga senang dan mudah untuk melakukan  ketaatan.  Misal, disediakan buku-buku agama, menjaga shalat berjamah, saling beramar makruf, membiasakan infak, saling menolong, membiasakan shaum sunat, membiasakan shalat malam, dll. Yang penting, upaya tersebut harus terprogram dan terencana supaya  tidak  dilakukan sementara, atau hanya rutinitas yang kosong dari kesadaran akan hubungannya dengan Allah, apalagi karena keterpaksaan.  Semuanya betul-betul dilakukan karena semata mengharap ridha Allah SWT.

Keempat, memahami bahwa untuk meraih ketakwaan sempurna tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi juga harus didukung dengan ketakwaan kolektif.  Individu yang berjuang untuk senantiasa bertakwa akan menghadapi kesulitan ketika masyarakat dan lingkungan sekitar kontra produktif dengan semua yang dia upayakan. Semangat ketaatan individu boleh jadi akan dilemahkan dengan rongrongan kemaksiatan yang ada dimana-mana.  Sebaliknya, dorongan ketakwaan individu akan tetap terpelihara jika dipadu dengan semangat masyarakat untuk senantiasa taat pada aturan Allah, baik aturan yang menyangkut individu, keluarga, masyarakat maupun negara; serta ketakutan dan kekhawatiran kalau tetap hidup dalam sistem yang jauh dari sistem Allah; memunculkan kesadaran pada masyarakat untuk senantiasa memperjuangkan tegaknya seluruh aturan Allah.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post