Agar Si Kecil Senang Shodaqoh


Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)

Bersedekah merupakan pemberian dari seorang Muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah. Dari segi bentuknya, sedekah sesungguhnya tidak dibatasi pemberian dalam bentuk uang, tetapi sejumlah amal kebaikan yang dilakukan seorang Muslim. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap Muslim wajib bersedekah.” Para Sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan?” Nabi saw. menjawab, “Hendaklah ia bekerja hingga dapat mencukupi kebutuhannya sendiri dan dapat pula bersedekah.” Para Sahabat bertanya lagi, “Jika ia tidak dapat bekerja, bagaimana?” Nabi saw. menjawab, “Hendaklah ia menolong orang yang memerlukan pertolongan.” Para Sahabat bertanya pula, “Jika ia masih tidak juga, bagaimana?” Nabi saw. menjawab, “Hendaklah ia menyuruh orang lain berbuat baik.” Para sahabat masih bertanya lagi, “Jika beramar makruf pun ia tidak dapat, bagaimana?” Nabi menjawab: “Hendaklah ia menahan diri dari keburukan. Sungguh menahan diri dari keburukan itu merupakan sedekah.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Bersedekah, selain merupakan sarana beribadah, juga bisa digunakan untuk melatih empati anak kepada orang lain. Empati berarti menempatkan diri seolah-olah menjadi seperti orang lain. Rasa empati pada anak harus diasah. Jika dibiarkan, rasa empati tersebut sedikit demi sedikit akan terkikis walau tidak sepenuhnya hilang, bergantung pada lingkungan yang membentuknya. Banyak segi positif jika kita mengajari anak berempati. Mereka tidak akan agresif dan senang membantu orang lain.

Rasulullah saw. pun sangat menekankan pentingnya mengembangkan sikap empati ini. Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling berempati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh; jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit maka seluruh anggota tubuh akan ikut merasakan sakit.

Anak bisa diajari konsep empati sejak usia 2 tahun, saat mereka sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Biasanya dari hal-hal yang sederhana. Contoh: ketika anak sedang makan dan di sampingnya ada orang, maka ajarkanlah anak untuk menawarkan makanannya. Dengan begitu anak biasa berbagi dan peduli pada orang lain.

Keteladanan merupakan salah satu cara yang efektif dalam melakukan pendidikan kepada anak. Pada tahun-tahun pertama, obyek peniruan anak umumnya masih berkisar orang-orang di sekitar rumah, biasanya ayah atau ibu. Anak meniru tidak saja gerak tubuh, rasa senang dan tidak senang, kebiasaan; tetapi juga ekspresi emosional orangtua. 

Dalam kenyataannya, kemampuan anak dalam meniru sesuatu lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Jika orangtua berbuat baik maka anak biasanya juga akan berbuat baik. Dalam melakukan peniruan, umumnya anak akan meniru apa yang dilakukan orangtua, bukan apa yang dikatakannya.

Seorang anak yang melihat ibu dan ayahnya shalat lima kali sehari, membaca al-Quran, berdoa kepada Allah dan berzikir, baik di waktu petang dan tengah malam, insya Allah semua itu akan terlukis pada diri anak. Dengan itu, ia akan selalu melaksanakan ajakan-ajakan yang ia dengar tiap pagi dan sore. Semakin bertambah usia anak, tidak hanya tingkah laku yang tampak saja yang akan ditirunya, tetapi juga sikap seseorang terhadap sesuatu. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menjadi model yang baik.

Jika dalam keseharian orangtua biasa memperlihatkan kepekaan serta kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, mampu berempati, bukan tidak mungkin anak akan menirunya. Sejalan dengan perkembangannya, semua itu akan meningkatkan kemampuan anak untuk memahami berbagai macam hal, dan diharapkan peniruan ini akan menjadi sebuah kemampuan, kebiasaan yang melekat pada anak. Tunjukkan kepedulian orangtua terhadap orang-orang yang tak mampu. Komitmen yang kuat dalam membantu penderitaan orang lain insya Allah akan dapat menular kepada anak-anak.

Mendidik anak pada waktu kecil ibarat mengukir di atas batu. Demikian salah satu bunyi hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Memang akan lebih mudah mengajari anak kecil daripada setelah menginjak remaja. Betapa banyak orangtua merasa kewalahan menyuruh anak remajanya membiasakan shalat lima waktu. Itulah pentingnya penanaman nilai-nilai Islam sedini mungkin, bahkan sejak anak masih dalam kandungan. 

Selain keteladanan dari orangtua, pembiasaan juga merupakan cara pembelajaran yang sangat tepat buat anak. Upaya kecil yang bisa dilakukan, misalnya, dengan membawakan bekal sekolah anak lebih dari satu, dengan pesan untuk dibagikan pada temannya yang tidak membawa bekal.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post