Anak - Anak Terlibat Kriminalitas, Siapa Yang Salah?


Romadhon (Bengkel IDE)

Dewasa ini kita dapatkan beragam berita tentang kasus kriminal yang melibatkan anak-anak. Sebagian berpendapat paling dominan karena pengaruh globalisasi dan komersialisasi. Anak-anak zaman sekarang mudah terpengaruh; ingin mengakses informasi lewat internet, ingin mempunyai handphone untuk berkomunikasi, atau ingin mempunyai sepeda motor untuk gaul. Namun, kadang dari sisi ekonomi orangtuanya tidak mampu. Kondisi ini mendorong anak berbuat nekat untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat. Di sisi lain, peran orangtua yang kurang maksimal dalam mendidik anak serta lingkungan tempat anak bersosialisasi yang kurang kondusif, turut berpengaruh terhadap kejahatan anak.

Penyebab lainnya adalah imitasi anak atas segala tindakan kekerasan yang mereka lihat dan faktor pelepasan ekspresi yang tersumbat. Sebagian besar anak cenderung meniru apa yang dia lihat dan rasakan. Mereka sering menyaksikan adegan kekerasan sehingga berperilaku seperti itu juga. Sebagian besar anak-anak meniru tayangan kekerasan di televisi, internet, media sosial. 

Jika kita telusuri, kemiskinan dan kerusakan moral memang menjadi pemicu munculnya banyak kejahatan anak. Namun, kemiskinan dan kerusakan moral sesungguhnya hanya merupakan akibat. Faktanya, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan serta kerusakan moral banyak terjadi di negara-negara yang menerapkan sistem kapitalis-liberal, termasuk Indonesia. 

Kapitalisme umumnya disertai saudara kembarnya, liberalisme dan sekularisme. Pemisahan agama dari kehidupan akan mencabut nilai-nilai moral. Ditambah dengan paham kebebasan berperilaku, norma-norma agama semakin terpinggirkan. Padahal kekuatan ruhiah yang lahir dari pemahaman terhadap agama adalah satu-satunya motor penggerak penerapan moral. Memberikan pendidikan moral tanpa membangkitkan kekuatan ruhiah sama saja seperti kita mendorong mobil yang rusak.  Lelah tanpa hasil.

Dengan mencermati akar permasalahan-nya, kita dapat mengatakan bahwa munculnya kejahatan anak-anak adalah akibat kesalahan sistem yang diterapkan.  Sistem kapitalis sekular ini pulalah yang sebenarnya menjadikan pihak-pihak yang seharusnya berkewajiban terhadap anak mengabaikan tanggung jawabnya. Akhirnya, anak menjadi korban.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post