Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas Masih Tinggi, Islam Punya Solusi


Lalang Darma (Ketua IIJ)


Angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih tinggi. Menurut Budi yang mengutip data WHO, dari 100.000 populasi, korban meninggal dunia mencapai 12,2 orang. (detik.com)


Salah satu faktornya adalah banyaknya pengendara yang mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas yang memakan banyak korban jiwa. Diantaranya ego pengemudi masih mewarnai lalu lintas di Indonesia. Tak jarang, karena ego yang dikedepankan pengemudi, mereka menyabaikan keselamatan.


Tuntunan Islam


Islam sebagai sistem hidup paripurna memiliki sejumlah hukum dan tuntunan yang bisa mencegah dan menyelesaikan bencana transportasi. Terkait pengemudi, pengemudi yang teledor dalam berkendara, bukan saja membahayakan dirinya sendiri, tapi juga keselamatan orang lain. Segala hal yang membahayakan diri sendiri atau orang lain dengan tegas diharamkan oleh syariah. Nabi saw. bersabda:


« مَنْ ضَارَّ أَضَرَّ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ »


Siapa yang membahayakan (orang lain), niscaya Allah akan menimpakan bahaya padanya, dan siapa yang menyusahkan (orang lain) niscaya Allah menyusahkannya (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, Tirmidzi dan Ahmad).


Islam juga tegas mengharamkan segala bentuk pungutan ilegal, kolusi, suap dan sejenisnya. Islam menganggap semua itu sebagai harta ghulul hasil kecurangan atau khianat yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Allah berfirman:


وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ


Barangsiapa yang berkhianat berlaku curang atau berkhianat (dalam hal harta), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu (QS Ali Imran [3]: 161)


Islam mewajibkan penguasa untuk memelihara kemaslahatan rakyat. Dantaranya dengan menyediakan berbagai fasilitas publik termasuk sarana dan fasilitas transportasi secara memadai. Semua itu memang butuh biaya besar. Dan sistem ekonomi Islam memiliki hukum dan aturan yang bisa membuat tersedianya harta untuk membiayai semua itu. Islam menetapkan jenis harta tertentu seperti hutan, barang tambang, minyak dan gas serta kekayaan alam lainnya adalah milik umum. Negara mewakili rakyat mengusahakannya dan seluruh hasilnya harus dikembaikan kepada rakyat diantaranya dalam bentuk penyediaan fasilitas dan sarana publlik. Dengan itu, jalan yang rusak bisa dengan mudah diperbaiki. Transportasi massal yang nyaman dan aman pun dengan mudah bisa dibangun. Semua itu dengan mudah bisa direalisasai tanpa harus membebani rakyat dengan pajak.


Disamping itu, syariah Islam mendistribusikan kekayaan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat. Islam juga memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu rakyat. Dengan itu, pengemudi akan bisa dengan tenang mengemudi, tidak saling serobot, saling salip, mengebut dan ugal-ugalan demi mengejar setoran.


Saatnya Introspeksi


Jalan raya tidak begitu saja menjadi pembunuh yang kejam. Bencana transportasi itu bertubi-tubi begitu mudah terjadi tidak lain akibat kerusakan yang dikerjakan oleh manusia. Allah SWT. telah memperingatkan:


ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum [30]: 41)


Bertumpuknya kecelakaan di jalan raya adalah bagian dari fasad/kerusakan yang disebabkan ulah manusia sendiri. Pengadopsian sistem yan buruk yaitu sekulerisme, kapitalisme, liberalisme; pengawasan yang lemah, tabiat pengemudi yang sembrono dan tidak peduli dengan keselamatan, pengusaha transportasi yang hanya mementingkan untung dengan mengabaikan keselamatan, uji KIR dan pemberian SIM yang kental kongkalikong, termasuk konsumsi narkoba atau miras oleh para pengemudi, dan sebagainya, merupakan kemaksiyatan yang melahirkan kerusakan dalam bentuk bencana transportasi itu.


Karena itu sudah saatnya kita segera meninggalkan sekulerisme, kapitalisme liberalisme. Sudah saatnya kita segera kembali merujuk kepada syariah Islam untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Apakah kita masih perlu ditimpakannya bencana yang lebih banyak dan lebih besar lagi untuk membuat kita sadar dan mau kembali kepada Islam? Harapan kita akan sarana trasportasi yang nyaman dan aman semestinya membuat kita makin gigih memperjuangkan penerapan syariah Islam secara utuh.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post