Apa, Mengapa, Dan Bahaya Inflasi


Aji Salam (ASSALIM Jatim)

Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga barang-barang secara umum yang terjadi terus-menerus. Akar masalah timbulnya inflasi bukan hanya sekadar naiknya permintaan atau turunnya pasokan barang di pasar, melainkan karena nilai mata uang mengalami proses pelemahan. 

Melemahnya nilai mata uang dapat disebabkan oleh dua hal: Tarikan Permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan Tekanan Produksi karena kurangnya produksi barang dan jasa, termasuk kurangnya kemampuan distribusi barang dan jasa.

Namun, secara asasi mata uang dalam sistem Kapitalisme pasti mengalami penurunan nilai dan krisis adalah karena hal berikut:

1. Uang Kertas.

Uang kertas (fiat money) adalah uang yang tidak memiliki nilai instrinsik, karena tidak lagi dijamin oleh emas. Keberadaan uang kertas yang tidak di-back up oleh emas menjadikan uang itu tidak riil dan nilainya ditentukan oleh persepsi atau kepercayaan orang terhadap uang tersebut. Apalagi dengan tidak adanya back up emas, negara bisa dengan mudah mencetak uang untuk menutup defisit anggaran belanjanya. Hal ini menimbulkan kelebihan uang yang beredar di masyarakat, yang dapat menaikan inflasi.


2. Perburuan rente (rent seeker) dari sektor ekonomi non-riil.

Sektor ekonomi non-riil menjadi jantung dari ekonomi kapitalis modern saat ini. Pasar saham dan obligasi, pasar uang, future trading, transaksi investasi derivatif dan yang sejenisnya adalah aktivitas ekonomi non-riil. Dikatakan non-riil karena transaksi yang terjadi di sektor ini tidak berkaitan dengan produksi barang dan jasa atau membuka lapangan pekerjaan baru.

Ekonomi non-riil menyebabkan pertumbuhan uang lebih cepat daripada pertumbuhan barang dan jasa itu sendiri. Akibatnya, nilai dari uang tersebut untuk membeli barang atau jasa menjadi berkurang.

Jika dikaji berdasarkan rumus Equation of exhchange, M x V = P x Q, maka jumlah uang yang beredar dikalikan kecepatan berputarnya sama dengan tingkat harga dikalikan dengan pertumbuhan barang dan jasa. Dalam ekonomi kapitalis M (jumlah uang) bisa bertambah dengan cepat karena adanya sektor non riil.


3. Ekonomi Kapitalisme telah mengadopsi sistem ribawi, yang menjadikan uang sebagai komoditas untuk mendapatkan keuntungan dengan dibungakan.

Uang sejatinya hanyalah sebagai alat tukar atas barang dan jasa. Namun, sistem ribawi ini menolak untuk menjadikan uang hanya sebagai sarana mempermudah transaksi barang dan jasa. Jika bisa mendapatkan “profit” tanpa harus bertransaksi barang dan jasa, mengapa tidak? Begitulah cara berpikir dalam sistem ini.


Maka dari itu, munculah istilah Cost of Money dan Cost of Fund, yang menggambarkan keserakahan para pemilik uang atau kapital. Setiap sen uang yang dipinjamkan harus menghasilkan kelebihan dari sekadar kembali pokoknya saja. Ini guna menutupi peluang keuntungan yang hilang (opportunity lost) bila uang tersebut diputarkan sendiri dalam sebuah kegiatan usaha.

Riba inilah yang membentuk kecenderungan masyarakat untuk menyimpan dananya di bank sekadar untuk mendapatkan bunga, alih-alih menginvestasikannya di sektor riil. Akibatnya, uang tidak berputar sebagaimana seharusnya. Pertumbuhan barang dan jasa pun menjadi mandek. Inilah yang mengakibatkan adanya inflasi.

Sistem ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi kapitalis yang menerapkan ketiga asas di atas. Oleh karena itu, inflasi menjadi bagian keseharian kita. Padahal inflasi menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar bagi suatu negara. Artinya, pada skala makro, jika misalkan pada tahun 2020 pendapatan suatu negara ditargetkan 2000 triliun rupiah, maka dengan adanya inflasi sebesar 8%, nilai uang tersebut akan berkurang sebanyak 160 triliun rupiah.

Anda bisa membayangkan kerugian yang didapat oleh rakyat. Apalagi jika inflasi semakin besar dan tidak terkendali, bukan tidak mungkin ekonomi negara ambruk atau bangkrut.

Ini seperti ekonomi negara Zimbabwe, Afrika bagian Selatan, yang kolaps pada tahun 2008 lalu. Tingkat inflasinya mencapai 2,2 juta persen. Terakhir kali bank sentral Zimbabwe mengeluarkan pecahan $100,000,000,000,000,- (100 triliun dolar) yang menjadi uang dengan nominal terbesar di dunia. Harga tiga butir telur ayam di Zimbabwe senilai $ 100 miliar dolar.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post