Apa (Seharusnya) Kontribusi Indonesia Untuk Palestina? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, April 3, 2021

Apa (Seharusnya) Kontribusi Indonesia Untuk Palestina?


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sering muncul. Termasuk dari Presiden Jokowi. Jokowi pernah menyatakan Palestina adalah satu-satunya negara yang masih dalam penjajahan dan hal ini harus diakhiri. Presiden RI ini pun menegaskan akan ada tindak lanjut dari pernyataannya.

Harapan kita, tentu tindak lanjut itu kongkret. Namun berkaca dari pengalaman sebelumnya, seringkali dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, hanya sekadar retorika politik kosong, tanpa ada bukti nyata. Sekadar pencitraan untuk mencari simpati umat yang memang sangat berharap penjajahan Palestina bisa dihentikan. 

Apa yang terjadi selama ini membuat kita pesimistis. Retorika mendukung Palestina dari penguasa negeri Islam baik itu dari Turki, Iran, Saudi, Indonesia dan negara-negara lainnya, cuma basa-basi. Buktinya saat Gaza dibombardir oleh entitas penjajah Yahudi, penguasa-penguasa negeri Islam itu, tidak melakukan tindakan apapun untuk mencegah pembantaian itu, misalnya dengan mengirim pasukan perang. Padahal hanya dengan pasukan peranglah kebiadaban entitas penjajah Zionis itu bisa dihentikan.

Yang sering terjadi, penguasa negeri Islam untuk menunjukkan kepeduliannya, cukup hanya membantu dengan mengirim bantuan obat-obatan, makanan, atau dana bagi pembangunan gedung-gedung yang dihancurkan.  Tak pernah ada upaya konkret menghentikan serangan pelaku kejahatan, yakni Israel. Setelah para korban ditolong , gedung-gedung dibangun, penjajah Yahudi kembali membombardir, tanpa ada yang mencegah.

Patut kita cermati, apa yang dimaksud dengan kemerdekaan Palestina. Kalau pengakuan kemerdekaan Palestina dengan tetap membiarkan keberadaan penjajah Yahudi, maka kemerdekaan itu hanyalah semu. Sebab, keberadaan penjajah Yahudi-lah yang menjadi pangkal krisis dan malapetaka di Palestina.

Kemerdekaan Palestina yang disertai pengakuan terhadap keberadaan penjajah Yahudi sebagai sebuah negara, tidak lebih merupakan perwujudan dari kebijakan Amerika di Palestina. Kebijakan yang dikenal dengan two state solution itu menghendaki adanya dua negara di bumi Palestina, negara Palestina dan negara Yahudi Israel. Ini yang harus kita tolak, karena hal ini berarti pengakuaan terhadap penjajahan Yahudi. Apalagi kemudian negara Palestina yang dimaksud tetap dalam kontrol penjajah Yahudi dengan pembatasan-pembatasan yang diatur oleh mereka.

Kembali kita tegaskan, persoalan Palestina akan selesai kalau penjajah Yahudi dilenyapkan dari bumi Palestina. Hal itu tidak akan bisa ditempuh lewat jalan diplomasi ala Barat atau lewat PBB. Karena solusi yang mereka tawarkan tetap dalam kerangka mempertahankan keberadaan penjajah Yahudi.

Konteks Indonesia

Lalu dalam konteks Indonesia, apa sumbangsih yang bisa diberikan bagi upaya memerdekakan Palestina? Pertama: harus ditegaskan kembali, bahwa mendukung kemerdekaan Palestina bukan sekadar pilihan, tetapi keharusan. Sebab, sejak awal di dalam pembukaan UUD 1945, Indonesia sudah menyatakan bahwa penjajahan di seluruh dunia harus dihapuskan. Artinya, sejak awal Indonesia adalah anti penjajahan. Sikap ini pun tentu didasarkan pada pengalaman sejarah rakyat Indonesia yang amat menderita hidup di bawah penjajahan lebih dari 350 tahun. Pengalaman pahit dan getir ini sejatinya harus selalu ada saat kita melihat penderitaan bangsa Palestina. Karena itu, abai dalam membantu bangsa-bangsa terjajah, selain bertentangan dengan UUD 1945, juga sesungguhnya adalah sikap yang ahistoris.

Kedua: Politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif juga seharusnya mendorong Indonesia untuk selalu aktif mendukung setiap upaya memerdekakan bangsa-bangsa yang masih terjajah, seperti Palestina. Karena itu, Indonesia seharusnya bisa mengubah gaya diplomasinya menjadi lebih tegas, bukan sekadar formalitas belaka. Tekanan yang kuat terhadap Israel, Amerika Serikat dan Eropa sebagai pihak yang selama ini setia mendukung Israel, serta PBB harusnya lebih lantang dan lebih sering disuarakan oleh Indonesia. Indonesia harusnya tidak boleh kehilangan nyali saat berhadapan dengan negara-negara dan lembaga internasional tersebut. Pemutusan segala hubungan dengan Israel, juga dengan Amerika Serikat, seharusnya bisa dijadikan opsi jika kedua negara tetap dengan kepongahannya menjajah Palestina. Indonesia juga tidak boleh selalu ikut inisiatif negara-negara Barat terutama AS maupun PBB jika itu merugikan Palestina dan malah menguntungkan Israel.

Ketiga: Indonesia seharusnya tidak pernah lelah untuk menggalang dana bersama negara-negara Muslim lain, khususnya yang tergabung dengan OKI, untuk membantu rakyat Palestina. Memang, sekadar bantuan finansial tidak akan pernah menyelesaikan krisis Palestina. Namun demikian, dalam jangka pendek, bantuan tersebut akan sangat berguna bagi rakyat Palestina yang sering mengalami kekurangan bahan pangan dan obat-obatan, sebagaimana pada masa-masa blokade oleh Israel.

Keempat: Opsi militer, tentu dengan dukungan negera-negara Muslim, khususnya negara-negara Arab, yang tergabung dengan OKI, harusnya bukanlah hal yang tabu, terutama jika Indonesia dan negeri-negeri Muslim tidak ingin melihat bangsa Palestina terus-menerus mengalami etnic cleansing. Terus berulangnya kekejaman rezim Zionis Yahudi yang telah memakan ratusan ribu korban sejatinya menyadarkan bangsa-bangsa Muslim, termasuk Indonesia, bahwa sekadar kecaman terhadap entitas Israel tidak akan pernah bisa menghentikan kejahatan bangsa agresor tersebut. ‘Bahasa kekerasan’—sebagaimana ditunjukkan oleh para mujahid Palestina lewat gerakan intifadhahnya—tentu bukanlah pilihan buruk karena terbukti selalu membuat gentar entitas Yahudi tersebut. Padahal para mujahid itu sering hanya bersenjatakan lemparan batu. Bagaimana jika gerakan perlawanan itu dilakukan oleh negara-negara yang tergabung dengan OKI dengan puluhan ribu tentaranya? Tentu, ini akan cukup bisa menghentikan aksi kekejaman entitas Yahudi itu. Memang, sepertinya ini pilihan mustahil. Sebetulnya bukan mustahil. Persoalannya, hanyalah pada keberanian negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, untuk mengambil sedikit risiko berseberangan dengan Barat, khususnya AS, yang menjadi sekutu utama Israel. Sudah saatnya Dunia Islam menunjukkan ‘wibawa’-nya di hadapan negara-negara tersebut. Sebab, segala potensi sesungguhnya ada di Dunia Islam: potensi ideologi, ekonomi, sumberdaya alam, geopolitik, demografi, dll. Lagi pula, inilah sesungguhnya yang selama ini menjadi pesan inti dari ‘Amir Syuhada’ Syaikh Ahmad Yasin, sebagaimana terpapar di atas. Persoalannya tinggal berpulang pada keyakinan (akidah) kita dan harga diri kita sebagai bangsa Muslim sebagai khayru ummah, juga status kita yang bersaudara—termasuk dengan bangsa Palestina—yang diikat oleh ikatan ukhuwah islamiyah, yang tentu melampaui batas-batas negara yang disekat-sekat oleh nasionalisme dan nation-state.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here