Apakah Imamah Berbeda Dengan Khilafah?


Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK

Para ulama mu’tabar telah mendefinisikan Imamah dan Khilafah secara syar’i. Imam al-Haramain, misalnya, berkata:

الإمامة رياسة تامة، وزعامة تتعلق بالخاصة والعامة في مهمات الدين والدنيا

Imamah adalah kepemimpinan yang utuh, kepemimpinan yang berkaitan dengan hal umum maupun khusus dalam tugas-tugas agama maupun dunia.

Imam ar-Ramli menyatakan:

الخليفة هو الامام الاعظام، القائم بخلافة النبوة، فى حراسة الدين وسياسة الدنيا

Khalifah itu adalah imam yang agung, yang tegak dalam Khilafah an-Nubuwwah, dalam melindungi agama serta politik yang sifatnya duniawi.

Definisi yang lebih lengkap yang mengkompromikan berbagai definisi para ulama salaf adalah yang dikemukakan oleh Syaikh Dr. Abdul Majid al-Khalidi, yang menyatakan bahwa Khilafah adalah:

رئاسة عامة للمسلمين جميعا فى الدنيا لاقامة احكام الشرعى الاسلامي, وحمل الدعوة الاسلامية الى العالم

Kepemimpinan umum bagi kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam serta mengemban dakwah Islam ke suluruh dunia.

Dari sisi penggunanaannya, istilah imamah, khilafah atau imarah, digunakan oleh para ulama untuk menunjuk pada obyek yang sama. Itulah yang ditegaskan oleh Syaikh al-Islam al-Imam al-Hafidz Abu Zakaria an-Nawawi:

يجوز أن يقال للإمام: الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين

Imam boleh juga disebut dengan khalifah, imam atau amirul mukminin.

Karena itulah, benar kesimpulan yang dikemukakn oleh Dr. Abdullah bin Umar ad-Dumaiji dalam tesis masternya di Universitas Ummul Qura, yang berjudul Imâmah al-Udzma inda Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, “Mereka yang melakukan eksplorasi secara seksama terhadap hadis-hadis tentang Khilafah dan Imamah akan mendapatkan fakta bahwa Rasulullah saw., para Sahabat dan para Tâbi’in yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut, tidak membeda-bedakan istilah khalifah dan imam. Bahkan setelah pengangkatan Sayidina Umar Ibn al-Khaththab ra. sebagai khalifah, para Sahabat menambahkan panggilan untuk beliau dengan istilah amirul mu’minin.”

Urgensitas Khilafah atau Imamah ini telah banyak ditegaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Hujjatul Islam al-Imam Abu Hamid al-Ghazali, misalnya, dalam kitabnya, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqad, menyatakan, “…Agama dan kekuasaan itu ibarat (dua saudara) kembar…Agama itu pondasi, sedangkan kekuasaan itu adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi akan roboh dan sesuatu yang tanpa penjaga akan hilang…Jelaslah bahwa sesungguhnya kekuasaan itu urgen…Dengan demikian kewajiban mengangkat imam (khalifah) itu adalah termasuk salah satu dari hal-hal yang urgen secara syar’i.”

Imam Ibn Hajar al-Haitami al-Makki asy-Syafii, dalam kitabnya, Shawâ’iq al-Muhriqah (I/25) juga menyatakan, “…Para Sahabat ra. telah berijmak bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah masa kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan kewajiban tersebut sebagai yang paling penting saat mereka lebih menyibukkan diri dalam urusan mengangkat imam (khalifah) daripada memakamkan (jenazah suci) Rasulullah saw.”


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post