Bukit Algoritma, Wahana Kerja Influencer Indonesia?


Oleh : Nindira Aryudhani, S. Pi, M. Si

(Koordinator LENTERA)

 

Awal April lalu, kita tentu menyaksikan berita-berita viral seputar pernikahan youtuber kondang Atta Halilintar. Dan tentu menjadi sebuah kehormatan bagi Atta dan keluarga, karena pernikahannya dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan juga Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto.

 

Namun demikian, bukan aspek itu yang layak dikritisi. Melainkan realita berikutnya, ketika penguasa “mendadak” hendak segera mendirikan Bukit Algoritma, Silicon Valley versi Indonesia.

 

Sekilas Silicon Valley dan Ristek Indonesia

 

Silicon Valley (Lembah Silikon) adalah julukan bagi kawasan selatan San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Julukan ini diberikan karena kawasan ini memiliki banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor. Daerahnya meliputi San Jose, Santa Clara, Sunnyvale, Palo Alto, dll.

 

Perusahaan-perusahaan yang sekarang menghuni Silicon Valley, antara lain Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel, dan Yahoo!.

 

Memang, pada 2015 lalu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) saat itu, Mohammad Nasir bermimpi ingin membuat Silicon Valley seperti di AS tadi (m.merdeka.com, 10/8/2015).

 

Mimpi Menteri Nasir itu, bukanlah hal yang mustahil. Dari segi riset dan teknologi (ristek), saat itu Nasir sempat menjanjikan akan mengoptimalkan riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi seperti IPB, ITB, UGM, dan UNDIP, dan didukung kolaborasi dengan industri.

 

Bukit Algoritma, Wahana Influencer?

 

Pemerintah dipastikan segera membangun Bukit Algoritma, ‘Silicon Valley’ di Sukabumi. Proyek ini melibatkan Budiman Sudjatmiko, politikus yang kerap bicara ‘teknologi 4.0’ (tirto.id, 10/4/2021).

 

Tapi bukan rahasia lagi, Budiman adalah orang yang cukup eksis di Twitter. Dari sisi keaktifan mencuitkan konten, dirinya boleh disebut sudah mencapai taraf sebagai influencer.

 

Asal tahu saja, influencer punya peran besar untuk memengaruhi atau meyakinkan banyak orang. Sementara buzzer, mereka berperan menyampaikan serangkaian informasi dengan cara berulang-ulang.

 

Namun saat ini, sudah banyak influencer yang juga sekaligus mampu menjadi buzzer, bahkan endorser. Intinya, seorang influencer bisa dipastikan memiliki jumlah followers yang banyak. Semakin mereka mampu memengaruhi sesuatu hal, nilai serta kemampuan mereka mengikat followers juga semakin besar.

 

Keberadaan para youtuber, pada dasarnya juga potensial untuk mengendalikan perguliran arus opini di media sosial. Menilik jumlah followers-nya, youtuber jelas sangat memiliki pengaruh (influence) di kalangan para followers tersebut. Jadi sangat mungkin pula, Bukit Algoritma nantinya juga difungsikan sebagai wahana kerja bagi para influencer.

 

Buzzer Penguasa

 

Publik sudah sangat paham bahwa penguasa memiliki segerombolan buzzer yang siap “menghajar” arus positif opini yang bergulir di media sosial agar mereka memenangkan puncak isu (trending topic), sesuai dengan arah target yang dikehendaki penguasa. Bukan demi penyampaian berita positif, alih-alih kebenaran.

 

Yang terjadi, mereka justru lebih identik sebagai “tukang bikin gaduh” di media sosial. Akibatnya, opini umat akan sesuatu hal bisa terbelah. Umat pun terjebak kebingungan nasional.

 

Masalahnya, pada saat yang sama, tidak ada tata kelola komunikasi pemerintahan yang mumpuni kepada publik. Selama ini, penguasa acap kali mengopinikan agar kebijakan mereka nampak positif. Padahal, itu tak lebih dari upaya membangun citra baik di balik realitas buruk kinerja penguasa.

 

Parahnya, terjadi pula upaya meminggirkan suara kelompok lain yang berbeda pandangan dengan penguasa. Yakni pihak-pihak yang kritis terhadap kebijakannya. Para buzzer tak segan menyerangnya secara membabi buta dengan cara memainkan asumsi publik. Tampak sekali penguasa ingin agar publik percaya bahwa pengkritik itu buruk, padahal sejatinya penguasa juga tak kalah buruk.

 

Struktur Media, Sarana Dakwah

 

Hendaknya penguasa lebih sering berkaca. Sisi baik mana lagi dari demokrasi yang masih mereka bela, yang akan ditampilkan di hadapan rakyat? Toh bobroknya demokrasi sudah menjangkit di segala lini.

 

Tak usah terlalu repot menjaga citra jika memang penguasa telah sepenuhnya menjalankan mandat kepemimpinannya. Citra positif akan muncul dengan sendirinya ketika amanah berkuasa memang ditunaikan.

 

Mari komparasikan, Khilafah sebagai sistem kenegaraan berideologi Islam, sungguh-sungguh melaksanakan amanah untuk mengurusi urusan umat. Tak butuh pencitraan ekstra ketat untuk menampilkan kebaikan dan keberkahan penerapan Islam. Khilafah meyakini bahwa citra baik pasti muncul sebagai buah ketaatan dan pelaksanaan hukum syariat.

 

Keberadaan struktur media informasi di dalam Khilafah, bukan untuk menutupi keburukan pemerintahan, tapi untuk sarana dakwah. Demikian pula andai diperlukan influencer, maka perannya juga demi kemashlahatan dakwah dan penyampai kebenaran.

 

Dalam Khilafah, tersebarluasnya kebaikan buah penerapan sistem Islam tak lain karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin. Ini tentu berbeda 180 derajat dengan demokrasi yang begitu repot membutuhkan pencitraan demi menutupi bobroknya di sana-sini.

 

Khatimah

 

Sabda Rasulullah ﷺ berikut ini patut kita renungkan; riwayat dari Ummu Salamah ra, yang artinya: “Nanti akan ada para pemimpin. Lalu kalian mengakui kemakrufan mereka dan mengingkari kemungkaran mereka. Siapa saja yang mengakui kemakrufan mereka, akan terbebas dan siapa saja yang mengingkari kemungkaran mereka akan selamat. Akan tetapi siapa yang rida dan mengikuti (kemungkaran mereka akan celaka).” Para Sahabat bertanya, “Tidakkah kita perangi saja mereka?” Nabi menjawab, “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat.” (HR Muslim).

 

Kata “salat” dalam hadis ini merupakan kinayah (kiasan) dari aktivitas memerintah atau memutuskan perkara dengan hukum-hukum Islam.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post