Demokrasi Si PHP Sejati - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, April 4, 2021

Demokrasi Si PHP Sejati

Oleh : Ainur M. Dzakiyah 

Sesungguhnya aku amat merindui pemuda yang tidak tidur blena karena memikirkan masalah umat (Hasan Al Bana)

Pemuda. Pemuda adalah generasi yang memiliki beragam potensi yang luar biasa. Pemuda memiliki fisik yang kuat, idealisme, kreativitas, dan mampu menanggung beban. Sedemikian berharganya pemuda sampai proklamator negeri ini mengatakan beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan guncangkan dunia.


 Data  terbaru menunjukkan bahwa  hasil Sensus Penduduk (SP) yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat jumlah penduduk Indonesia hingga September 2020 mencapai 270,2 juta jiwa. Sebanyak 27,94 persen atau sebesar 75,5 juta jiwa merupakan Gen-Z kelahiran 1997-2012, yang kini berusia 8-23 tahun. Milenial kelahiran 1981-1996 yang kini berusia sekitar 24-39 tahun mencapai 25,87 persen atau sekitar 69,9 juta jiwa. Jika di total, jumlah kaum muda berusia maksimal 39 tahun sudah mencapai 53,81 persen dari total penduduk Indonesia, atau sekitar 145,4 juta jiwa. Menurut  Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menunjukan Indonesia sudah menikmati bonus demografi, di mana penduduk usia produktif lebih besar dari usia nonproduktif.


Dalam pertarungan ideologi dunia, pemuda ibarat berlian yang senantiasa diperebutkan. Karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Maka dideologi mana yang menguasai pemuda har ini maka dia dapat melihat warna peradabannya di  masa yang akan datang.  Sistem kapitalisme menggaet pemuda dengan jurus 4 F(film, fashion, fun, and fund). Ditambah lagi kebijakan yang diarahkan secara sistematis, masif dan struktur melalui negaraa dan elemen masyarakat. Alhasil,  mayoritas pemuda hari ini disibukkan dengan perkara –perkara yang disajikan oleh sistem kapitalisme tersebut. Pemuda dibiarkan lalai dan terlena dengan kehidupannya yang remeh dan  tidak bermanfaat.  Mereka tidak dibiarkan menjadi singa-singa bangsa yang mengaumkan kebenaran dan kemuliaan. Kapitalisme sangat diuntungkan dengan rusaknya generasi, karena sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya akan  lebih mudah dikuasai oleh mereka.


Harapan pada demokrasi, 


Sayangnya , praktik  kenegaraan sistem  kapitalisme  makin memperlihatkan borok yang sesungguhnya . Kasus demi kasus terkuak menjadi headline di berbagai media masa, seperti korupsi, dana bencana,  pengurusan bencana yang tidak sigap, asusila, ketidakadilan penegakan  hukum, hingga kisruh partai politik yang cukup beringas.

Hasil survei Indikator Politik Indonesia pada bulan Maret 2021 menunjukkan, sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sebanyak 25,7 persen anak muda yang menilai para politisi sudah cukup baik mendengarkan aspirasi.  Hasil tersebut cukup mengejutkan, karena angka ketidakpercayaan ternyata cukup tinggi. Padahal partai politik dianggap sebagai kendaraan yang dapat menyalurkan aspirasi rakyat.



Namun, Hasil survei dari lembaga yang sama juga menunjukkan hanya 3 persen anak muda yang sangat percaya pada partai politik. Sebanyak 7 persen sama sekali tidak percaya. Sebanyak 54 persen anak muda masih percaya pada partai politik. Hal ini menunjukkan para pemuda masih berharap perubahan tersebut masih bisa dilakukan oleh partai politik di alam demokrasi. 


Padahal, demokrasi ibarat mobil tua yang usang dan soak. Mesin dan onderdil di dalamnya sangat rapuh dan rusak. Secanggih apapun pengemudinya maka dia akan gagal. Bilapun ada perbaikan maka sifatnya hanya  tambal sulam, tidak akan tuntas. Karena kesalahan pokok adalah sistem demokrasi menyerahkan pengatura kehidupan di tangan manusia. Akibatnya, bila demokrasi diterapkan akan senantiasa menimbulkan pertentangan ketidaksejahteraan dan keresahaan secara universal. Karena manusia dalam membuat hukum aka subyektif, sehingga keijakannya sangat rentan dipengaruhi oleh kepentingan, lingkungan, waktu, dan juga pengetahuannya.  


Partai politik yang dilahirkan dalam rahim demokrasi  tidak layak dijadikan sandaran perubahan.  Karena partai politik yang berkembang adalah dalam rangka mengokohkan sistem demokrasi di negara tersebut.  Apakah pemuda yang merupakan batu bata peradaban di masa depan masih mau di beri harapan palsu lagi? Karena seungguhnya demokrasi adalah si PHP (pemberi harapan palsu) sejati. Demokrasi bisa berganti-ganti wajah untuk melindungi kepentingannya.


Pemuda dan Arah Perubahan 


Perubahan dan pemuda adalah  dua sisi mata uang yang senantiasa berdampingan. Betapa banyak perubahan –perubahan secara masif di dunia dan di Indonesia sendiri diinisiasi dan digerakkan oleh pemuda. Seperti peristiwa sumpah pemuda 1928, kemerdekaan  Indonesia yang didalangi oleh golongan muda,  perjuangan nabi Muhammad  di Mekah dan Madinah yang mengantarkan bangsanya dari sistem jahiliyah menuju kegemilangannya, termasuk juga  reformasi 1998. Pemuda memiliki potensi yang sangat diperhitungkan bila telah bersatu untuk  mengawal perubahan.


Namun perubahan seperti apa  yang diinginkan?apakah perubahan evolusioner atau revolusioner? Bila kita mau berpikir lebih jeli, kemerdekaan yang katanya terjadi 75 tahun yang lalu itupun adalah kemerdekaan yang palsu. Karena nyataya sampai hari ini sumberdaya alam dan sumberdaya manusia masih “dijajah” oleh asing dan aseng. Hanya sarananya saja yag berubah yakni menggunakan perjanjian-perjanjian bilateral atau multilateral. Bahkan reformasi yang monumental tersebut juga tidak menjadikan negeri ini menjadi negeri yang bebas dari korupsi dan kejahatan lainnya. Tentu hal ini menjadi renungan bagi kita bersama, apa yang salah dengan arah perubahan yang telah dicetuskan ? Jawabannya adalah perubahan revolusioner belum terjadi.  Perubahan yang muncul masih ditunggangi oleh kepentingan penjajah dengan topeng-topeng palsu mereka. 


Perubahan Mendasar dengan Islam   


Pemuda dan bangsa ini harus mengatur ulang arah perubahan menuju sistem islam. Islam terbukti mampu membawa sebuah bangsa terbelakang menuju bangsa yang diperhitungkan dalam percaturan dunia. Mari kita telaah sejarah bangsa arab. Dahulu sebelum nabi Muhammad diutus dengan risalahya, Bangsa arab adalah bangsa yang tidak menarik. Baik dari sumberdaya alamnya yang tandus dan sumber daya manusianya yag kurang berkualtas. Negara adidaya saat itu yakni Persia dan Romawi pun tidak tertarik  untuk menjamahnya. 

Namun ketika pertolongan Allah datang, islam diterapkan menjadi landasan dalam kehidupan. Bangsa arab bertransformasi menjadi negara cemerlang yang sinarnya menyinari duia dengan berkah. Bahkan wilayahya meliputi negeri-negeri diluar jazirah arab. Sehingga manusia hidup di dalam kemuliaan dan ketinggiannya. Hal tersebut berlangsung selama 13 abad di bawah naungan sistem khilafah. 

Di dalam rahim peradaban islam, Pemuda –pemuda dengan akidah yang kuat telah megerahkan segala daya, tenaga , waktu  dan pikirannya untuk kemaslahatan umat dan jariyah akhirat. Mereka berlomba –lomba melakukan kebaikan sebagamana yang digariskan  islam. Sehingga masa muda mereka sangat produktif dan kreatif.

Terbukti ilmuwa –limuwan islam telah mampu meletakkan  dasara-dasar imu pengetahuan yag diakui oleh duia hingga hari ini, seperti Muhammad bin Mūsā al-Khawārizmī atau yang dikenal dengan Al-Khawarizmi merupakan seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi asal Persia yang hidup pada 780 M-850 M. Al-Khawarizmi dikenal dengan penemuannya berupa sistem penomoran 1-10 yang digunakan hingga saat ini.Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai bapak aljabar berkat penemuan teori aljabarnya.


Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi atau Al-Zahrawi merupakan seorang fisikawan dan ahli bedah yang hidup pada 936 - 1013 M di Andalusia. Al Zahrawi dikenal akan karyanya berjuduk Al-Tasrif yang merupakan kumpulan praktik kedokteran. Al-Tasrif berisi berbagai topik mengenai kedokteran, termasuk di antaranya tentang gigi dan kelahiran anak.


Al Zahrawi merupakan ahli bedan terbaik di abad pertengahan hingga dijuluki sebagai bapak ahli bedah. Al Zahrawi berperan besar dalam dunia bedah medis mulai dari penemuan jarum suntik, forcep, jarum bedah, hingga pisau bedah. Dan masih banyak ilmuwan muslim yang lainnya.


Bahkan di masa Umar bin Khattab, Abddullah ibu abbas telah menjadi penasihat negara. Sarannya dan keilmuannya sangat diperhitungkan, bahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang sulit. Kedudukannya setara dengan shabat senor yang usianya lebih tua. 


Jika kita disuruh memilih antara  apel organik  yang segar dan menyehatkan dan apel busuk yag dipenuhi ulat. Mana yang akan dipilih? Akal yang sehat aka memilih apel yang sehat, bukan? Demikian juga jika diberi pilihan arah perjuangan yang  harus diambil oleh umat, sistem demokrasi yang merusak atau sistem islam yang mulia dan berkah? Maka jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan langkah-langkah ke depan.  

Wallahu a’alam bi shawwab .

 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here