Guruku Tersayang (1)


Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)

“No tecaher, no education. No education, no economic and social development” demikian ungkapan yang dinyatakan oleh Ho Chi Minh, Tokoh Kenamaan Vietnam, yang dapat menggambarkan betapa pentingnya keberadaan Guru dalam gelanggang kehidupan.

Terkait vitalnya peran Guru, John F. Kennedy pernah pula menyorotinya. Mantan Presiden yang memimpin AS di masa perang dingin ini,  suatu ketika mendapati AS ketinggalan dari Uni Soviet yang berhasil lebih dahulu meluncurkan satelit pertama mereka, yakni satelit Sputnik. Mendapati hal itu, sang Presiden berkata, “What’s wrong ini our Classroom?” Pertanyaan retorik itu tentunya menohok peran guru. Karena guru adalah pihak yang paling dekat, dan memiliki otoritas paling besar dalam mengelola ruangan kelas.

Berangkat dari keterkaitan kualitas guru dengan kualitas kehidupan masyarakat, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa kualitas guru di Indonesia masihlah jauh untuk dikatakan ideal. Pasalnya, Indonesia masih karut marut di berbagi lini. Pelaku amoral masih bergentayangan, kemiskinan merajalela, tingkat kebodohan masih tinggi, dan berbagai masalah lainnya. Ini sesungguhnya dapat menjadi indikasi akan masih buruknya kualitas guru sebagai stakeholder pencetak generasi.

Dalam Islam, Peran Guru tentu berbeda dengan apa yang dikehendaki ideologi Kapitalisme. Guru tak hanya dituntut untuk menyiapkan anak didiknya untuk mampu bergulat di tengah dunia industri berikut kompetensi yang dibutuhkannya. Dalam Islam, setidaknya ada tiga hal strategis yang menjadi tugas guru. Antara lain;

Pertama; Mendidik anak didiknya untuk berkepribadian Islam. Poin pertama ini sejatinya merupakan representasi peran guru sebagai pendidik untuk mengarahkan anak didiknya –dalam posisinya sebagai manusia-, agar hidup segaris dengan apa yang menjadi tujuan penciptaannya dimuka bumi oleh Allah Swt, sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya;”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” [TQS;Adz-Dzariyat;56].

Beribadah dalam ayat di atas, menurut para mufassirin adalah menaati segala perintah Allah Swt, dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh ketundukan dan kerelaan. Ibadah ini, sesungguhnya tak akan pernah dapat dilakoni oleh seorang manusia kecuali bila manusia memiliki kepribadian islam [syakhsiyyah islamiyyah]. Kepribadian islam ini adalah wujud dari keselarasan pola pikir [aqliyah] dan pola sikap [nafsiyyah] yang islami dalam diri manusia. Pembentukan kepribadian ini dapat dilakukan selain dengan menanamkan aqidah islam, juga dengan memberikan konsep hidup [tsaqafah] yang  menyangkut urusan spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan lainnya.

Tak diperkenankan seorang guru memberikan tsaqafah yang berasal dari luar islam untuk siswanya. Misalnya, membenarkan dan menganjurkan aktivitas pacaran yang di lakukan anak didiknya tatkala saling menyukai. Padahal jelas, aktivitas dalam pacaran yang dipastikan bermuatan perbuatan dosa, adalah hal yang haram dan merupakan bagian dari konsep liberalisme yang menganjurkan kebebasan bertingkah laku.

Demikian pula misalnya, guru dilarang untuk menganjurkan anak didiknya untuk bercita cita menjadi pialang saham atau akuntan bank yang erat kaitannya dengan riba. Atau mendidik anak didiknya menjadi pemain sepak bola internasional  atau penyanyi yang mengumbar aurat. Pemahaman yang salah tersebut bertolak belakangan dengan visi pembentukan kepribadian yang dikehendaki oleh Islam.

Efeknya, bila anak didik dicetak dengan pemahaman di luar Islam, maka dipastikan ia akan menyebarkan madharat di tengah masyarakat. Dan sudah jelas, bahwa siapapun guru mempengaruhi anak didiknya dengan pemahaman yang tak sesuai dengan islam, maka keburukanlah baginya,”Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun” [HR.Muslim]


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post