Inilah Bulan Kemenangan


Ahmad Rizal (Direktur ELFIKRA)

Alhamdulillah Ramadhan 1442 H telah tiba. Semoga kita bisa istiqomah dalam perjuangan. Bila kita renungkan, kewajiban puasa Ramadhan diturunkan pada tahun kedua hijrah. Lalu apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat pada Ramadhan tahun itu? Jawabannya adalah perang Badar al-Kubra.

Di saat pertama kalinya menunaikan kewajiban puasa Ramadhan itu, Rasul dan para Sahabat berperang menghadapi pasukan kafir Qurays dibawah teriknya sinar matahari di tengah panasnya gurun pasir di lembah Badar. Saat itu pasukan kaum muslim yang berjumlah sekitar 305 orang harus menghadapi pasukan kafir Quraisy yang berjumlah sekitar 900 – 1000 orang. Artinya, satu orang sahabat harus menghadapi tiga orang tentara musuh. Rasul saw bersama para Sahabat keluar dari Madinah tanggal 8 Ramadhan. Peperangan itu sendiri terjadi pada 17 Ramadhan.

Dari sepenggal kisah di atas dapat dipahami, ternyata Rasul saw dan para Sahabat tidak hanya mengisi bulan Ramadhan, selagi mereka berpuasa, untuk memperbanyak amalan sunnah seperti memperbanyak membaca al-Quran, berdoa, zikir dan shalawat; memperbanyak sedekah; shalat tarawih berjamaah; i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan; umrah, dsb. Tetapi mereka juga mengisinya untuk melakukan aktivitas wajib, yakni jihad

Khalifah menyerukan jihad ketika aktivitas wajib lainnya, yakni dakwah, mendapatkan halangan fisik dari penguasa kafir negeri-negeri kufur yang membuat kaum Muslim tidak dapat berdakwah kepada rakyat negeri tersebut.

Sejarah mencatat halangan fisik terhadap dakwah Islam sering terjadi pada bulan yang di dalamnya ada hari yang lebih baik dari seribu bulan itu. Meletuslah Perang Badar Kubra, 17 Ramadhan 2 H/14 Maret 624 M. Rasulullah pun mengirim Detasemen Zaid bin Haritsah ke Ummi Qarfah pada Ramadhan (6 H/627M). Masih pada Ramadhan yang sama Nabi saw. pun mengutus Detasemen ‘Abdullah bin Utaikh untuk membunuh Salam bin Abi Huqaiq.

Setahun kemudian, Nabi Muhammad saw. mengirim Detasemen Ghalib bin Abdullah al-Laitsi ke penduduk Mani’ah, pada bulan Ramadhan 7 H (628 M). Pembebasan Kota Makkah dan jatuhnya kota suci ini ke tangan kaum Muslim tanpa darah, juga terjadi pada bulan Ramadhan 8 H (630 M).

Rasul saw. pun mengutus Detasemen Saad bin al-Asyhali untuk menghancurkan berhala Manat pada tanggal 24 Ramadhan 8 H (630 M); Detasemen Khalid bin al-Walid untuk menghancurkan berhala Uzza pada tanggal 25 Ramadhan 8 H (630 M); juga Detasemen Amru bin al-‘Ash untuk menghancurkan berhala Sawa’ pada bulan dan tahun yang sama. Perang Tabung pun pecah pada bulan Ramadhan tahun 9 H (631 M).

Perang-perang lainnya di era pemerintahan Khulafaur Rasyiddin, serta era para khalifah setelahnya pun banyak terjadi pada bulan Ramadhan. Karena itu, dapat dipahami ternyata Ramadhan bukan saja bulan perjuangan untuk meningkatkan ketakwaan setiap pribadi kaum Muslim dengan amalan sunnah, tetapi juga dengan melakukan amalan wajib berupa dakwah dan jihad untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sistem yang rusak.

Sejarah pun mencatat banyak peperangan dan kemenangan justru diraih oleh kaum Muslim sejak zaman Nabi Muhammad saw. hingga generasi berikutnya pada bulan yang agung ini. Tidak sedikitpun puasa mereka mempengaruhi semangat dan kekuatan mereka untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Sebaliknya, justru pada bulan ini, mereka melipatgandakan aktivitas mereka karena imbalan pahala yang besar di sisi-Nya. Dengan modal ketaatan mereka yang tinggi di bulan ini, maka kemenangan demi kemenangan pun bisa mereka rengkuh. Inilah yang membuat sejarah Ramadhan umat Islam dipenuhi dengan berbagai peristiwa peperangan dan kemenangan.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post