Isu Palestina Ditinjau Dari Aspek Politik - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, April 3, 2021

Isu Palestina Ditinjau Dari Aspek Politik


Ilham Efendi (Dir. RIC)

Aspek politik dari isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari Zionisme dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina. Theodore Hertzl merupakan tokoh kunci yang mencetuskan ide pembentukan negara tersebut. Ia menyusun doktrin Zionismenya dalam bukunya yang berjudul Der Judenstaad’ (The Jewish State). Secara nyata, gerakan ini didukung oleh tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di Basel (Swiss) tahun 1895. Kongres tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang, mewakili 50 organisasi zionis yang terpencar di seluruh dunia.

Sebagai gerakan politik, Zionisme tentu membutuhkan kendaraan politik. Zionisme lalu menjadikan ideologi Kapitalisme—yang berjaya dengan imperialismenya—sebagai kendaraan politiknya. Zionisme ternyata berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan negara-negara kapitalis dan imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat, sejak dimulainya imperialisme (penjajahan) tersebut hingga saat ini.

Sejak awal pendiriannya, keberadaan negara Israel tidak lepas dari kepentingan negara-negara imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat. Peran Inggris dalam pembentukan negara Israel tampak nyata dalam Deklarasi Balfour, berupa surat dari kementerian luar negeri Inggris, Arthur James Balforu, kepada pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild pada 2 November 1917. Surat ini menjadi dasar pengakuan Inggris terhadap keberadaan negara zionis di Palestina. Deklarasi ini pulalah yang diadopsi oleh LBB (Liga Bangsa-bangsa) untuk memberikan mandat resmi kepada Inggris untuk menguasai Palestina.

Sebagai penguasa di Palestina, Inggris memiliki kepentingan besar untuk mendukung berdirinya negara Israel. Keberadaan negara Zionis di jantung Timur Tengah ini akan menimbulkan konflik dan ketidakstabilan di wilayah ini. Dalam kondisi seperti ini Inggris bisa lebih mudah menanamkan pengaruhnya di sana. Selain itu, krisis ini akan menyedot energi dan dana umat Islam dan mengalihkan upaya kaum Muslim untuk menegakkan kembali Khilafah Islam yang dibubarkan tahun 1924 oleh Kemal Attaturk yang berkonspirasi dengan Inggris.

Kepentingan AS atas krisis Palestina juga sama, yakni sebagai media negara itu untuk menanamkan pengaruhnya, sekaligus untuk mengalihkan perhatian kaum Muslim bahwa musuh sejati mereka adalah Amerika Serikat.

Eratnya hubungan Zionisme dengan imperialisme Barat, terutama AS, dapat dilihat dari beberapa fakta berikut. Semasa masih menjadi presiden, Bill Clinton (14/8/2000) pernah berkata, “Kami harus menjalin hubungan erat dengan Israel, sebagaimana telah saya lakukan sepanjang kekuasaan saya sebagai presiden dan sepanjang 52 tahun lampau.”

Pada awal-awal kekuasaannya sebagai presiden AS, George W. Bush, ketika mengucapkan selamat kepada Ariel Sharon dalam Pemilu tanggal 6/2/2001, juga menyatakan, “Amerika akan bekerjasama dengan semua pemimpin Israel sejak berdirinya pada tahun 1948. Hubungan bilateral kami sangat kokoh layaknya batu karang…”

Presiden AS Barack Obama, Trump, Biden sejak awal kampanyenya untuk pemilihan presiden, juga mengungkapkan hal senada: dukungan total dan tanpa syarat terhadap Yahudi-Israel.

Demikianlah sikap resmi pemerintah AS terhadap Israel dari dulu hingga kini. Wajar jika berbagai kebijakan politik yang kotor dan kejam yang ditempuh Israel di Timur Tengah akan selalu mendapatkan dukungan dari AS.


 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here