Kala Depresi Menghampiri (1)


 Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)


Kala problem menyapa, depresi kadang melanda diri seseorang. Depresi pada umumnya terjadi karena beratnya beban hidup yang tidak bisa ditanggung oleh seseorang. Suami -istri juga bisa mengalami depresi. Beragam beban masalah yang bisa memicu munculnya depresi pada ibu rumah tangga antara lain; kesulitan ekonomi, perilaku anak-anak, ancaman terhadap ikatan pernikahan (suami selingkuh, dll), bahkan hubungan pertetanggaan yang tidak baik.


Depresi juga bisa terjadi karena ketidaksiapan memasuki kehidupan rumah tangga; tidak siap menerima hidup berpasangan, tidak siap mengurus anak, tidak siap menerima peran dan tugas-tugas baru di dalam rumah hingga kesiapan untuk kehilangan sebagian aktivitasnya di luar rumah, terlebih bagi yang masa lajangnya aktif bekerja.


Seorang suami juga rentan terkena depresi ketika ia merasa terjebak pada rutinitas aktivitas pekerjaan, sementara ia lemah iman. Di tambah lagi jika ia seorang yang kurang kreatif dalam berinovasi dan memunculkan beragam kegiatan di lingkungan kerja.


Akibatnya, beban hidup yang sebenarnya tidak berat pun bisa menjadi berat. Apalagi jika ditambah dengan beratnya beban yang diakibatkan oleh penerapan sistem sekular kapitalistik seperti kemiskinan, kerusakan moral, lemahnya keamanan, hingga minimnya takwa.


Jika kita telaah sistem ini juga telah melahirkan sikap individualistik yang menghilangkan sifat saling menolong dan saling peduli. Tolok ukur materi pun sangat menonjol. Kadangkala, ibu mudah stres hanya gara-gara penghasilan suami minim, tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Di sisi lain, hedonisme tak bisa lagi dibendung dan sudah menembus seluruh anggota keluarga. Semua ini mengerucut pada beratnya beban yang harus ditanggung ibu rumah tangga.


Semua kondisi itu bisa memunculkan sikap gundah, kegelisahan yang terus-menerus, bahkan kemarahan dan kekesalan yang terpendam hingga mempengaruhi kesehatan jiwanya. Bisa juga menghasilkan perasaan putus harapan, merasa diri tidak berguna dan hilangnya kebahagiaan hidup.


Saat beban berat tersebut tidak disikapi secara syar’i, muncullah depresi. Di sinilah pentingnya penanganan secara tepat dan syar’i agar seseorang bisa selamat dari ancaman depresi.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post