Kemajuan Industri Alutsista Masa Khilafah Utsmani



Yuli Sarwanto (Direktur FAKKTA)


Peradaban Islam dan kemajuan adalah satu kesatuan. Kemajuan industri pada masa Khilafah Abbasiyah terus berlanjut hingga masa Khilafah Utsmani. Khilafah Utsmani terus berjaya berkat kombinasi antara kekayaan ekonomi dan kekuatan bersenjatanya. Kombinasi ini terjadi karena adanya promosi teknologi inovatif, salah satunya pada sektor industri pertambangan yang memproduksi perak dan baja, guna memenuhi kepentingan pencetakan uang dan juga industri alutsista. Sistem industri dan administrasi pertambangan yang kompleks dan penerapan teknologi peleburan bijih besi yang efisien menghasilkan logam berkualitas sehingga menunjang pertumbuhan ekonomi.


Dalam Islam pertambangan besar adalah milik umum dan pengelolaannya dijalankan oleh negara. Salah satu pusat pertambangan yang terkenal di abad ke-16, Sidrekapsi memperkerjakan sekitar 6 ribu penambang yang bertugas untuk menjalankan proses peleburan metal dengan menggunakan 500-600 tungku. Menurut dokumen Khilafah, para penambang dituntut untuk menghasilkan 347 kilogram perak pertahunnya.


Besi berkualitas hasil produksi berbagai pusat pertambangan menjadi komoditas utama dalam industri pembuatan meriam Khilafah Utsmani, sebagai tulang punggung persenjataan militer yang disegani di seluruh Eropa. Tophane-i Amire merupakan pusat industri senjata berat yang memproduksi berbagai macam meriam dalam berbagai ukuran. Dalam sejarahnya, industri meriam memiliki peran besar termasuk dalam menundukkan Kota Konstatinopel yang akhirnya jatuh ke pangkuan Islam pada masa Sultan Muhammad al-Fatih. Meriam berdiameter raksasa yang belum pernah terlihat di Eropa telah diproduksi dalam industri meriam berat dan digunakan untuk menghancurkan benteng pertahanan Kota Konstatinopel saat itu. Para pekerja dalam industri senjata juga memiliki latar belakang kewarganegaraan yang berbeda. Urban yang merupakan warga negara Hungaria, Jorg dari Nuremberg dan George dari Frankfurt adalah contoh ekspatriat ahli pembuat meriam besar yang bekerja pada industri tersebut.


Industri bubuk mesiu pun didirikan untuk mendukung meriam yang ditempatkan di medan pertempuran. Sekitar 12 baruthanes (pusat industri bubuk mesiu berdiri di Negara Khilafah sejak abad ke-16 dan tersebar di berbagai kota seperti Istanbul, Kairo, Baghdad, Aleppo, Yaman, Buda, Belgrade dan Temesvar. Khilafah bahkan mencapai status swasembada mesiu hingga abad ke-18. Pabrik mesiu pada abad ke-16 sendiri menghasilkan tidak kurang dari 1000 ton dan pada abad ke-17 produksi mesiu mencapai 1037 ton. Jumlah ini mencukupi kebutuhan pertempuran besar. Khilafah Utsmani mengirim sekitar 540 ton mesiu ke lini depan perang dalam upaya mengepung Kota Wina di Austria.


Industri Islam yang dimulai sejak abad ke-11 membantu melahirkan kondisi terciptanya revolusi industri di Eropa di abad ke-15 dan ke-17 Masehi. Kemajuan industri Khilafah itu sangat dipengaruhi oleh motivasi terpenting yang melandasi aktivitas industri dalam Islam. Kebijakan industri Khilafah Islam terkait erat dengan tuntutan al-Quran untuk menciptakan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kemajuan industri sipil di Dunia Islam saat itu pun berkorelasi dengan berbagai macam kemudahan dan nilai tambah yang tinggi pada berbagai produk seperti tekstil, pertanian, dan makanan. Distribusi komoditas menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui jalur perdagangan internasional hingga mencapai Eropa itu sendiri.


Penguasa Islam (Khalifah) juga dituntut untuk menjaga wibawa Islam dalam menjalankan dakwah Islam. Karena itu, tidak aneh jika tumbuhnya industri persenjataan pun ditopang dan didukung oleh Khalifah sebagai perwujudan ayat al-Quran yang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan demi menggentarkan musuh-musuh Islam. Industri senjata serta seluruh infrastrukturnya tumbuh sepanjang masa Khilafah.


Untuk mencapai kemajuan kembali dalam pengembangan industri, perlu penyadaran bahwa sektor industri yang terkait dalam bidang strategis seperti pertahanan, pertambangan, energi, dan pertanian dan produksi alat berat memerlukan institusi negara yang kuat. Pengalaman masa lalu pun menunjukkan peran negara (Khilafah) yang kuat dalam menfasilitasi terbentuknya sektor industri. Walhasil, kini dunia memerlukan kembali revolusi industri yang berasaskan Islam.

 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post