Kokohkan Iman, Tegakkan Syariah


Yuli Sarwanto 

Di bulan suci Ramadhan yang menyapa kita, semestinya, kita sambut dengan mengerjakan puasa dengan benar, kaum muslimin akan terbimbing menuju pribadi yang agung. Gemar beramar maruf nahi mungkar dan senantiasa bersemangat untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Ia akan menjalankan hukum-hukum Allah tanpa pilah-pilih. Dan akan meninggalkan kemungkaran tanpa ditunda-tunda.

Kita semua sering, apalagi selama Ramadhan, membaca firman Allah SWT:

] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. al-Baqarah [2]: 183)

Dengan Ibadah puasa, orang yang beriman diperintahkan untuk memproses dirinya agar menjadi orang yang bertakwa dan makin bertakwa. Di dalam Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar disebutkan bahwa takwa itu adalah rasa takut (al-khasyyah) yang perwujudannya adalah menjaga diri dari apa yang dapat menyebabkan mendapat siksa, berupa meninggalkan ketaatan atau mengerjakan kemaksiatan (Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar, i/7).

Sebagai pangkal untuk mewujudkan ketakwaan itu, tentu saja keimanan harus dikokohkan. Tauhid pun harus dimurnikan dari segala kesyirikan, apalagi kesyirikan sistematis seperti yang dilakukan Bani Israel. Allah SWT berfirman:

] اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ …[

Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah … (QS at-Tawbah [9]: 31)

Tatkala Nabi membaca ayat tersebut, Adi Bin Hatim menimpali: “ya Rasulullah mereka tidak menyembah para alim dan rahib mereka”. Nabi menjawab:

« بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمْ الْحَلاَلَ، وَأَحَلُّوْا لَهُمْ الْحَرَامَ، فَاتَّبِعُوْهُمْ، فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَاهُمْ »

Ya, mereka (orang-orang laim dan para rahib) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram lalu mereka mengikuti mereka, maka itulah ibadah (penyembahan) mereka kepada orang-orang laim dan para rahib (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Kesyirikan yang dilakukan Bani Israel dahulu adalah menyerahkan penentuan halal dan haram yakni pembuatan hukum kepada orang-orang alim dan para rahib menurut akal da hawa nafsu mereka. Dan kesyirikan itu jugalah yang diajarkan oleh demokrasi dalam bentuk kedaulatan rakyat dengan menyerahkan pembuatan hukum kepada wakil-wakil rakyat. Karena itu, Ramadhan ini hendaknya dijadikan bulan mengokohkan iman, memurnikan tauhid, mencampakkan sekulerisme dan membuang kesyirikan yang menjadi inti demokrasi itu.

Sekaligus hendaknya Ramadhan ini dijadikan momentum mewujudkan hikmah puasa, yaitu ketakwaan yang bisa jadi terlewatkan dan belum sempurna diwujudkan pada Ramadhan-Ramadhan lalu. Dan hakikat ketakwaan adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu merupakan hukum-hukum halal haram yang harus kita pedomani dan laksanakan baik terkait individu, keluarga atau kemasyarakatan, dalam masalah akidah, ibadah, makanan, pakaian, minuman, akhlak, ekonomi, pemerintahan, tata pergaulan, politik dalam dan luar negeri dan sebagainya. Semua itu termaktub dalam syariah Islam. Karena itu mewujudkan ketakwaan secara sempurna tidak lain adalah dengan menerapkan Syariah Islam secara utuh dan total, Hal itu tentu saja tidak bisa terwujud kecuali dalam bingkai Sistem Pemerintahan Islam yang menerapkan syariah secara kaffah.

Saatnya Ramadhan kali ini kita jadikan bulan mengokohkan iman dan memurnikan tauhid dengan mencampakkan sekulerisme dan membuang demokrasi yang mengajarkan kesyirikan menjadikan manusia sebagia Tuhan-tuhan selain Allah. Saatnya pula Ramadhan kali ini kita jadikan titik tolak untuk mewujudkan ketakwaan paripurna dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Dengan itu keberkahan pun akan dilimpahkan kepada kita sebagaimana janji Allah SWT:

] وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A’raf [7]: 96).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post