Mendudukkan Sedekah (2)


Abu Inas (Tabayyun Center)

Islam mengatur, bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pokoknya (primer) juga keluarga dan kerabat yang menjadi tanggungannya, baru kemudian mendorongnya untuk menyedekahkan hartanya kepada orang lain. Rasulullah Saw bersabda

“Mulailah dari dirimu. Karena itu nafkahilah dirimu. Jika ada kelebihan maka berikanlah kepada keluargamu. Jika ada  kelebihan, maka berikanlah kepada kerabat dekatmu. Jika masih ada kelebihan terhadap kerabatmu maka demikianlah seterusnya. Begitulah (beliau mengatakan) : mulailah dari yang di depanmu, lalu di sebelah kananmu dan kemudian di sebelah kirimu” (HR Muslim).

Hanya perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan pokok menurut syariat adalah berupa tiga hal yaitu sandang/pakaian (HR Ibn Majah), pangan /makanan(QS 2: 233)  dan papan/tempat tinggal (QS 65: 6).  Adapun selain ke tiga hal tersebut maka termasuk kebutuhan sekunder dan tersier yang tidak harus dipenuhi.  Dan syariat juga menentukan bahwa kebutuhan pokok adalah kebutuhan dengan standar layak. Yaitu kebutuhan untuk makan dengan makanan  layak  sehingga  bisa meneruskan hidupnya dan juga dalam keadaan sehat, pakaian layak(sekalipun sederhana)  yang bisa menutupi  auratnya atau melindungi dirinya dari udara panas dan dingin, serta tempat tinggal layak (sekalipun sederhana) untuk berteduh dari panas dan hujan atau cuaca yang tidak mendukung.

Ini artinya, orang miskin yang tidak mampu  memenuhi kebutuhan pokoknya, maka ia tidak boleh menyedekahkan sesuatu yang sangat penting bagi dirinya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sebab, sedekah hanya diperintahkan bagi orang yang berkecukupan yaitu orang yang tidak meminta-minta lagi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Adapun orang yang dia sudah mampu memenuhi kebutuhan primernya, maka ia disunnahkan mengutamakan orang-orang fakir miskin dari pada dirinya meskipun ia sendiri butuh harta tersebut untuk memenuhi kebutuhan sekundernya.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post