Meningkatkan Ghirah Islami di Bulan Suci (1)


Ainun D. N. (Direktur Muslimah Care)

Keluarga Muslim hendaknya mampu mengisi kemuliaan Ramadhan dengan sebaik-baiknya agar Ramadhan menjadi lebih bermakna. Seluruh anggota keluarga harus merasakan nikmatnya ibadah di bulan penuh keberkahan serta merasakan lezatnya iman sebagai buah dari ketaatan. Dengan begitu, di akhir Ramadhan, derajat takwa didapatkan.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan diantaranya:

1. Lebih menggiatkan ibadah sebelum datang bulan Ramadhan. Caranya dengan mendorong diri dan keluarga untuk memaksimalkan aktivitas yang wajib. Misalnya dengan berusaha shalat tepat waktu, berdakwah lebih giat, bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah, dan sebagainya. Juga lebih memaksimalkan penunaian ibadah-ibadah nafilah, seperti menambah frekuensi shaum dan shalat sunnah, tilawah, tahfidz, qiyamullail, sedekah dan sebagainya. Di dalam sebuah riwayat, Usamah bin Zaid pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah! saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada, seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Rasul bersabda, “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat semua amal kepada Rabbul’alamin. Saya suka diangkat amalan, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR an-Nasa’i).

2. Bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Karena itu, ekspresikanlah kegembiraan menyambut Ramadhan dengan membuat suasana baru yang lebih istimewa di tengah-tengah keluarga. Menghias rumah dengan dekorasi khas Ramadhan akan sangat menyenangkan. Membuat tulisan berisi motivasi atau menempelkan program dan komitmen anggota keluarga, juga hal yang bisa dilakukan. Jangan lupa untuk melibatkan mereka dalam proses penyiapannya. Beri nuansa yang berbeda yang menunjukkan bahwa keluarga kita siap menyambut dan mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

3. Memotivasi dan memberikan pemahaman tentang ibadah dan keutamaan Ramadhan. Shaum Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Para Sahabat Rasul saw. telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk melaksanakan shaum. Shahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwiz ra. bertutur tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anaknya dalam berpuasa, “Kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Jika di antara mereka ada yang merengek minta makan, kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pengkondisian ini dapat dilakukan dengan cara mengingatkan kembali dalil-dalil yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, keutamaan-keutamaannya dan janji-janji Allah berupa balasan bagi mereka yang mengisi bulan yang mulia ini dengan sebaik-baiknya.

4. Mempersiapkan segala hal untuk kelancaran dan kekhusyukan ibadah Ramadhan. Caranya dengan mempersiapkan kondisi kesehatan (fisik) seluruh anggota keluarga, agar ibadah di bulan Ramadhan dapat dilaksanakan dengan optimal. Selain kesehatan fisik, bekal untuk bulan Ramadhan juga perlu dipersiapkan sebelumnya. Jangan sampai saat bulan suci tiba, keluarga tersibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang sesungguhnya mengurangi kekhusyukan ibadah Ramadhan, misalnya berbelanja menghabiskan waktu dan sibuk mempersiapkan keperluan-keperluan Idul Fitri. Untuk itu, ada baiknya, keperluan untuk bulan Ramadhan—termasuk Idul Fitri (jika ada)–disiapkan sejak sebelum datang bulan Ramadhan.

5. Saling memaafkan di antara anggota keluarga, juga kerabat, tetangga dan teman. Hal ini merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. agar saat memasuki Ramadhan, dosa kita dengan sesama manusia sudah terhapus. Harapannya, ketika Ramadhan berakhir dan tiba Hari Raya Idul Fitri, kita benar-benar berada dalam keadaan suci kembali. Insya Allah.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post