Meningkatkan Kualitas Dan Kuantitas Sedekah


Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK

Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa. Salah satunya, pada bulan ini Allah SWT melipatgandakan pahala semua amal shalih, baik amal wajib maupun sunnah. Padahal di luar Ramadhan saja Allah SWT melipatgandakan pahala atas setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang Muslim, sebagaimana sabda Rasul SAW “Setiap kebaikan anak Adam dilipatkan pahalanya sepuluh kali hingga 700 kali lipat, kecuali shaum. Shaum itu untuk Diri-Ku. Aku sendiri yang membalasnya (tanpa batas).” (HR Muslim).

Tentu tak terbayangkan jika amal kebajikan itu dilakukan pada bulan Ramadhan, pahala dari Allah SWT bagi pelakunya pastilah sangat luar biasa.

Salah satu amal shalih yang pasti dilipatgandakan pahalanya pada bulan Ramadhan adalah amalan sedekah, termasuk infak fi sabilillah. Karena itulah dalam sebuah riwayat, sebagaimana dinyatakan oleh Ibn Abbas ra, “Baginda Rasulullah SAW adalah orang yang amat pemurah. Pada bulan Ramadhan beliau menjadi lebih pemurah lagi.” (Mutaffaq ‘alaih).

Karena itu terkait sedekah ataupun infak di jalan Allah ini, kita pun harus seperti Rasulullah SAW, termasuk para sahabat beliau, apalagi pada bulan Ramadhan ini. Rasul SAW, misalnya, pernah memasuki rumah Ummu Salamah dengan rona wajah yang muram. Karena khawatir beliau sakit, Ummu Salamah bertanya, “Mengapa wajahmu tampak muram?” Beliau menjawab, “Gara-gara tujuh dinar (sekitar Rp 15 juta) yang kemarin kita terima, tetapi hingga sore hari uang itu masih berada di bawah kasur (belum diinfakkan).” (HR Ahmad dan Abu Ya’la. Menurut Al-Haistami, rijal hadis ini sahih).

Hal serupa ditunjukkan oleh Aisyah ra dan Asma ra. Abdullah bin Zubair ra menuturkan, “Aku tidak melihat dua orang wanita yang lebih murah hati daripada Aisyah dan Asma sekalipun cara keduanya berbeda. Aisyah biasa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, setelah terkumpul banyak, harta itu ia infakkan semuanya. Adapun Asma tidak pernah sedikit pun menyimpan harta hingga keesokan harinya (karena semuanya ia infakkan hari itu juga).” (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad).

Sedekah atau infak fi sabillah adalah semacam “pinjaman” yang kita serahkan kepada Allah SWT. Allah SWT sendiri yang menyebutkan demikian, sebagaimana firman-Nya: Siapa saja yang memberi Allah pinjaman yang baik (menginfakkan hartanya di jalan-Nya), Dia akan melipatgandakan pembayaran (pahala)-nya dengan berkali-kali lipat (TQS al-Baqarah [2]: 245).

Diriwayatkan bahwa setelah ayat ini turun, Abu ad-Dahdah segera mewakafkan kebun miliknya kepada Rasulullah SAW. Yang luar biasa, kebun tersebut ditumbuhi oleh 900 pohon kurma (HR Abu Ya’la dan ath-Thabrani. Menurut al-Haitsmi, rijal hadis ini tsiqat).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah menginfakkan separuh hartanya pada masa Rasulullah SAW, ditambah dengan uang 40 ribu dinar (sekitar Rp 85 milyar), ditambah lagi dengan menginfakkan 500 ekor unta dan 500 ekor kuda (Al-Ishabah, II/416).

Pada bulan Ramadhan, sedekah yang paling mudah dan mungkin untuk dilakukan adalah memberi makan kepada orang yang berbuka puasa meski hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air. Dalam hal ini Rasul SAW bersabda, “Siapa saja yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa akan mendapatkan pahala sebesar pahala puasa orang yang berbuka puasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR at-Tirmidzi).

Karena itu selayaknya setiap Muslim berlomba-lomba memberi makan orang yang berbuka puasa, jika mungkin setiap hari, dan tidak hanya kepada satu orang, jika mungkin kepada banyak orang sebanyak yang kita sanggupi. Jika itu kita lakukan, pahala yang berlipat ganda pasti akan Allah SWT berikan kepada kita di akhirat nanti.

Namun demikian, sedekah sebetulnya tidak selalu harus berupa harta atau makanan. Jika memang kita tak punya harta atau makanan yang layak disedekahkan, sebetulnya seluruh amal kebaikan kita berpotensi menjadi sedekah. Rasul SAW, bersabda, “Kullu ma’ruf[in] shadaqah (Setiap kebajikan adalah sedekah).” (HR al-Bukhari. Ibn Majah dan Ahmad).

Karena itu, marilah pada bulan Ramadhan ini kita memperbanyak ragam amal kebaikan, tidak hanya sedekah berupa harta atau makanan, tetapi juga amalan lainnya seperti berbakti kepada orang tua, menolong orang yang sedang kesulitan, menuntut ilmu, berdakwah bahkan kalau mungkin berjihad fi sabilillah. Terkait yang terakhir ini, Rasulullah SAW dan para sahabat beliau banyak melakukan jihad (perang) fi sabilillah justru pada bulan Ramadhan. Perang Badar dan penaklukan Kota Makkah, misalnya, terjadi pada bulan Ramadhan.

Alhasil, marilah kita memperbanyak bersedekah pada bulan Ramadhan ini dengan beragam cara yang kita sanggupi.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post