Menyambut Ramadhan1442 H Dengan Semangat Perjuangan


Achmad Fathoni (Dir. El Harokah Research Center)

Alhamdulillah. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1442 H. Sebagai seorang muslim, sudah semestinya sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad Saw, kita menyambutnya dengan suka cita. Kita tidak akan bisa melaksanakan sesuatu dengan baik, kecuali jika kita mempersiapkan diri dengan baik pula. Begitupun dalam menyambut bulan Ramadhan. 

Rasulullah dan para shahabat sangat bersemangat tiap kali menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mari dengan semangat pula kita mempersiapkan diri agar bisa memasuki bulan Ramadhan dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh keimanan, keikhlasan dan kesungguhan agar kita bisa meriah seluruh kebaikan-kebaikan bulan Ramadhan sehingga kita menjadi makin bertaqwa karenanya.

Persiapan paling penting yang harus kita lakukan adalah persiapan mental dan ilmu. Mempersiapkan mental artinya menyiapkan jiwa kita dengan cara membangkitkan suasana keimanan dan spirit atau semangat ketakwaan pada diri kita. Cara yang paling manjur adalah dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah sebagaimanya dicontohnya oleh Rasulullah, dengan memperbanyak puasa Sya’ban, bahkan menyambungnya hingga bulan Ramadhan.

«كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ»

Bulan yang paling Rasul saw. sukai untuk berpuasa di dalamnya adalah Sya’ban, kemudian Beliau menyambungnya dengan (puasa) Ramadhan. (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Pendek kata, puasa sunnah di bulan Sya’ban, di samping akan mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan di sisi Allah, juga merupakan sarana latihan guna menyongsong datangnya Ramadhan. Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, “Dikatakan tentang puasa pada bulan Sya’ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan. Hal itu agar ia bisa memasuki puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya’ban, ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya’ban sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat.”

Para ulama di masa lalu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amal kebaikan pada bulan Sya’ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya’ban, telah memperbanyak membaca al-Quran, menelaah dan memahami isinya dan men-tadabbur-i kandungannya. Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahr al-Qurân.

Oleh karena itu, marilah kita gunakan waktu yang bersisa di bulan Sya’ban ini untuk betul-betul menyiapkan diri memasuki bulan Ramadhan. Ajaklah diri, keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar kita guna menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Perbanyak puasa sunnah, baca al Qur’an dan telaah kandungannya, perbanyaklah shadaqah dan amal shaleh lainnya, termasuk bergiat melakukan shalat tahajjud.

Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan; bulan muraqabah; bulan pengorbanan di jalan Allah. Di dalamnya setiap muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan dahaga demi meraih derajat taqwa. Taqwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Perwujudan taqwa secara individu tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun perwujudan taqwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Puasa Ramadhan tentu kurang bermakna, jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara kaffah dalam kehidupan, karena justru itulah sesungguhnya wujud ketaqwaan yang hakiki.

Terakhir, guna menyambut bulan Ramadhan, marilah kita simak dan renungkan kembali penggal pesan-pesan Rasulullah yang disampaikan di penghujung bulan Sya’ban, sesaat sebelum memasuki bulan Ramadhan:

Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunnah. Siapa saja yang ber-taqarrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan 70 kewajiban pada bulan lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan sabar; sabar pahalanya adalah surga. Ia juga bulan pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang mukmin. Siapa saja yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, ia akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan lehernya dari api neraka. Ia akan mendapatkan pahala orang itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Para Sahabat berkata, “Kami tidak memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa puasa?” Rasulullah saw. menjawab:

Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berbuka berpuasa meski dia hanya memberi sebutir kurma, seteguk air minum atau setelapak susu.

Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan hamba sahayanya, Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada dalam Ramadhan empat perkara, dua perkara yang Tuhan ridhai dan dua perkara yang kalian butuhkan. Dua perkara yang Tuhan ridhai adalah kesaksian Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dan permohonan ampunan kalian kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah: kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi di dalam Syu’âb al-Imân).

Berkenaan dengan tibanya bulan Ramadhan, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

Marilah kita sambut bulan suci Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya agar kita bisa meraih derajat taqwa sehingga kualitas hidup kita semakin hari semakin baik. Meski rakyat negeri ini tengah didera oleh berbagai kesulitan, diharapkan itu semua tidaklah mengganggu kekhusyukan kita dalam melaksanakan ibadah puasa.

Selanjutnya, marilah bulan suci Ramadhan ini kita jadikan momentum untuk sungguh-sungguh taat kepada Allah melalui pelaksanaan syariah Islam, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Penutupan tempat maksiyat selama bulan Ramadhan mestinya juga dilakukan di luar bulan Ramadhan karena maksiyat hakekatnya adalah pengingkaran terhadap perintah dan larangan Allah yang harus dihentikan baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Tambahan lagi, yang dimaksud dengan maksiyat bukanlah sekedar pelacuran, perjudian atau aneka ragam hiburan malam, melainkan seluruh kegiatan yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. Dan kemaksiyatan terbesar tidak lain adalah tegaknya sistem sekuler yang secara pasti telah menyingkirkan syariah Islam. Kemaksiyatan semacam inilah yang telah menjadi pangkal munculnya berbagai kemelut persoalan yang tengah melanda negeri ini. Tidak ada jalan lain untuk kita bisa terhindar dari segala dampak buruknya, kecuali sistem sekular itu harus segera dihentikan.

Akhirnya, dengan iman, keikhlasan dan kesungguhan kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, mudah-mudahan keberkahan Allah akan benar-benar melingkupi kita semua. Amin.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post