Momentum Meninggalkan Sekulerisme


Indarto Imam (Ketua ForPeace)

Marhaban ya Ramadhan. Menyambut bulan penuh ampunan ini, sudah saatnya kaum muslimin merenung, apakah Ramadhan demi Ramadhan yang dilewati telah dijalankan dengan shaum sebagaimana mestinya? Apakah kaum muslimin benar-benar telah menahan diri dari berbagai perkara yang dapat mengantarkan datangnya azab Allah? Ataukah sebaliknya?

Sungguh bila kita dengan jujur melakukan introspeksi maka ibadah puasa yang selama ini dijalankan masih banyak baru sebatas menahan diri dari lapar dan haus. Tapi belum melaksanakan secara penuh apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT. Sementara itulah hakikat takwa yang menjadi hikmah yang harus serius kita wujudkan melalui puasa kita.

Menjelang dan selama Ramadhan tempat-tempat hiburan malam dan tempat-tempat yang menebar kemaksiatan dilarang beroperasi, tetapi boleh buka kembali pasca Ramadhan. Seolah-olah haramnya kemaksiatan hanya berlaku selama Ramadhan.

Acara-acara televisi selama Ramadhan serentak menayangkan berbagai acara-acara keislaman dengan beragam variasi. Itupun selalu berbau komersil dan sering diwarnai adegan-adegan yang jauh dari nilai Islam. Sehingga justru meminggirkan pesan-pesan keislaman dalam acara tersebut.

Ramadhan beberapa tahun lalu, pihak Kementerian Agama dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berulangkali menegur sejumlah televisi swasta yang melanggar etika penyiaran. Banyolan yang tidak pantas hingga artis bergaya waria kerap mewarnai beragam acara selama Ramadhan. Bahkan ada saja juru dakwah yang ikut berpartisipasi dalam acara-acara seperti itu. Bila demikian, maka apa artinya Ramadhan?

Pantas bila datangnya Ramadhan seperti tidak mengubah kondisi apapun di negeri ini. Korupsi masih merebak. Bahkan menurut KPK sebagian para koruptor adalah para pejabat yang rajin beribadah. 

Tiap Ramadhan selalu semarak dengan beragam kegiatan. Bahkan di luar Ramadhan pun majlis wirid dan zikir bersama selalu dipadati banyak orang. Akan tetapi angka korupsi tetap tinggi. Ini merupakan spiritual laundering, lebih parah dari pada money laundering. Para pelaku koruptor merasa bahwa dengan wirid, zikir, naik haji, puasa Ramadhan, dan membayar zakat maka sudah bisa membersihkan segala dosa mereka.

Selain kasus korupsi, pergaulan bebas di kalangan remaja di tanah air pun sudah parah. Pernah ada penelitian dari Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) di Jakarta, Tangerang dan Bekasi (Jatabek), dengan jumlah sampel 3006 responden (usia 17-24 tahun), menunjukkan 20.9 persen remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Dan 38,7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah. Padahal, bukankah mayoritas remaja Indonesia beragama Islam?

Itulah diantara wajah sekuler negeri ini. Meski negeri ini mayoritas muslim, akan tetapi kehidupan diatur berlandaskan sekulerisme, yakni agama dipisahkan dari kehidupan. Ajaran Islam hanya menjadi urusan ibadah yang sifatnya individual, tidak berpengaruh pada kehidupan masyarakat dan negara. Sekulerisme menghasilkan orang-orang yang bermental hipokrit; lain di ruang ibadah, lain di ruang publik. Saatnya kita kembali ke fitrah.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post