Paradoks Isu Terorisme


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Adanya perbedaan sikap pemerintah dalam menyikapi antara terorisme dan gerakan separatisme, mengundang berbagai kritikan. Pemerintah sepertinya memberikan banyak kelonggoran terhadap tindakan yang nyata-nyata merupakan upaya memisahkan diri seperti yang terjadi di Papua dan Maluku.

Beda halnya, saat sikap pemerintah terhadap apa yang dituduh sebagai terorisme. Sikap represif pun digunakan oleh pemerintah terutama oleh Densus 88 yang dibentuk untuk memerangi terorisme. Penahanan tanpa bukti yang jelas, penyiksaan untuk mendapat pengakuan, sampai tembak di tempat, menjadi lumrah dilakukan terhadap kelompok yang dituduh teroris. 

Perbedaan sikap terhadap kelompok sepratisme dan  kelompok yang dituduh teroris, menimbulkan anggapan bahwa pemerintah bertindak dengan arahan asing. Dukungan asing terhadap sepratisme membuat pemerintah ekstra hati-hati, karena khawatir dituduh melanggar HAM. Sementara itu, kelompok yang dianggap teroris diperlakukan represif untuk menunjukkan bahwa Indonesia mengikuti trend global perang melawan terorisme. 

Sejumlah pihak menyayangkan sikap pemerintah ini. Mengikuti kepentingan asing tidak akan pernah menguntungkan Indonesia, justru yang lebih diuntungkan adalah asing. Mengikuti pradigma asing dalam perang melawan terorisme akan menempatkan kelompok Islam dan umat Islam sebagai musuh utama. Sebab, perang malawan terorisme yang terjadi sekarang sesungguhnya adalah perang melawan Islam.

Hal ini memang ditunjang oleh beberapa fakta. Sejak awal perang Bush telah mengisyaratkan ini dengan menyebut perang melawan terorisme adalah crusade (perang salib). Meskipun mengaku salah ucap , kata-kata yang senada diulangi lagi oleh Bush dan pejabat di bawahnya. Perang ini pun menjadikan Islam sebagai monster dan iblis . Tampak dari istilah-istilah berkonotasi buruk yang disandingkan dengan Islam oleh Bush untuk menamakan musuhnya seperti istilah islam fasis , islam radikal, atau islam militan. Bush  di depan The National Endowment for Democracy (september 2003) menyebut ideologi teroris dengan istilah ‘the murderous ideology of the Islamic radical’ dan menyamakan perang ini sama dengan perang melawan komunsime.  

Bush dan sekutunya pun menjadikan konsepsi Islam seperti syariah, jihad dan Khilafah menjadi musuh dalam perang ini. Jihad  yang demikian mulia dalam pandangan Islam pun dikonotasikan jelek dan merusak. Bush dan sekutunya juga sering mengkaitkan bahwa ideologi teroris  yang menurutnya bercita-cita menerapkan syariah Islam dan Khilafah. Bush dalam sebuah pidatonya mengatakan para teroris hendak membangun sebuah imperium radikal Islam dari spanyol sampai Indonesia. Rumsfeld pun mengatakan hal yang sama dengan mengatakan di Irak akan berdiri Khilafah Islam kalau tentara AS ditarik dari sana  (Washintonpost 5/12/2005). Blair sekutu dekat Bush pun lebih jelas lagi dengan menyebut empat ciri ideologi setan para teroris : anti Israel, anti Nilai-nilai Barat, ingin menerapkan syariah Islam, dan mempersatukan umat Islam dengan Khilafah (BBC News 16/07/2005).

Demikian kalau melihat sebagai besar nama orang dan data organisasi yang dianggap teroris adalah orang Islam adan organisasi dengan nama Islam. Lebih-lebih lagi kalau dihitung jumlah  korban yang paling besar justru adalah umat Islam . Perang Irak dan Afghanistan telah menelan ratusan ribu kaum muslim. Bandingkan dengan 3000 korban WTC. Disamping itu negeri-negeri Islam-lah yang menjadi sasaran perang ini seperti Irak dan Afghanista. Sementara Iran dan Suriah sepertinya menunggu giliran berikutnya. Yang pasti kalau AS juga menyerang kedua negara ini, akan semakin sulit negera Paman Sam ini menolak bahwa yang mereka perangi sesungguhnya adalah umat Islam.

Walhasil, bisa dimengerti kenapa  Miliarder George Soros berpendapat, perang melawan terorisme merupakan hal yang menyesatkan karena kita tidak tahu pasti sosok dan keberadaan teroris. Jenis perang seperti ini rawan manipulasi.  Terbukti, menurut Soros, para “ekstremis” dalam pemerintahan Presiden AS George W Bush menggunakannya sebagai alat pembenaran menginvasi Afganistan dan Irak (George Soros, America After 9/11: Victims Turning Perpetrators; Open Democracy, 20/5/2004).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post