Pembebasan Palestina Adalah Tugas Umat Islam Seluruh Dunia


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Sebagaimana diketahui, jauh-jauh hari beberapa elit Yahudi bekerjasama dengan negara-negara imperialis, terutama Inggris, dengan segala kesungguhannya berusaha menempatkan orang-orang Yahudi di Palestina. Mereka berusaha memanfaatkan krisis keuangan Khilafah Utsmaniyah. Pemuka Yahudi, Hertzl, pada tahun 1901 M menawarkan bantuan keuangan kepada Khalifah sebagai kompensasi penempatan mereka. Namun, Sultan Abdul Hamid II menolak dengan tegas tawaran tersebut. Sang Khalifah malah dengan lantang dan penuh wibawa menyampaikan pernyataan yang sangat terkenal melalui Perdana Menterinya yang ditujukan kepada Hertz:

Nasihatilah Doktor Hertz, janganlah dia mengambil langkah serius dalam hal ini. Sesungguhnya aku tidak akan melepaskan bumi Palestina meskipun hanya sejengkal…Tanah Palestina bukanlah milikku, tetapi milik kaum Muslim…Rakyatku telah berjihad untuk menyelamatkan bumi ini dan mengalirkan darah demi tanah ini…Hendaknya kaum Yahudi menyimpan saja jutaan uangnya…Jika suatu hari nanti Khilafah terkoyak-koyak, maka saat itulah mereka akan sanggup merampas Palestina tanpa harus mengeluarkan uang sedikit pun. Selagi aku masih hidup, maka goresan pisau di tubuhku terasa lebih ringan bagi diriku daripada aku harus menyaksikan Palestina terlepas dari Khilafah. Ini adalah perkara yang tidak boleh terjadi!

Pernyataan Sultan Abdul Hamid II di atas setidaknya menegaskan beberapa hal kepada kita. Pertama: Tanah Palestina—termasuk tentu saja yang dirampas dan diduduki Israel sejak tahun 1948—adalah bukan tanah milik bangsa Arab, bukan pula milik bangsa Palestina, apalagi milik HAMAS ataupun Fatah; tetapi mutlak tanah milik kaum Muslim. Konsekuensinya, tidak boleh ada seorang pun yang berpikir bahwa Tanah Palestina bisa dibagi dua dengan Israel yang telah merampas dan menduduki sebagian besarnya hingga kini. Kedua: Seluruh kaum Muslim—bukan hanya bangsa Arab, bangsa Palestina, apalagi sekadar HAMAS—berkewajiban mengembalikan tanah tersebut kepada mereka. Konsekuensinya, upaya memerdekakan Palestina tak bermakna apa-apa jika seluruh Tanah Palestina—bukan sebagian, apalagi sebagian kecil—gagal dikembalikan kepada kaum Muslim.

Karena itu, bagi bangsa Palestina, kemerdekaan apapun namanya, jika itu berarti harus kehilangan sebagian—apalagi sebagian besar—Tanah Palestina karena dibagi dengan Israel sang agresor, sejatinya adalah kemerdekaan semu. Selain itu, kemerdekaan semacam ini hanya merupakan bentuk ‘pengkhianatan’ kepada ribuan bahkan ratusan ribu syuhada Palestina yang telah mempersembahkan darah dan nyawanya demi mengusir Israel sang agresor dari bumi yang suci ini. Kemerdekaan semacam ini juga berarti akan mencederai perasaan ahli waris para syuhada dan generasi penerus mereka karena justru demi tanah Palestinalah ayah-ibu dan anak-anak mereka meregang nyawa. Lalu bagaimana mungkin ada pihak yang tega untuk sekadar berpikir membiarkan sebagian Tanah Palestina tetap diduduki Israel dan bahkan rela—meski atas nama kemerdekaan Palestina—dibagi dua? Apalagi usulan dua negara—Palestina dan Israel—pada hakikatnya adalah usulan dari tuan-tuan Israel sang agresor, khususnya Amerika Serikat. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang dijajah, dirampas tanahnya, ditindas, bahkan dibantai harus dipaksa berbagi harta dengan pihak penjajah yang telah merampas tanahnya, menindas bahkan membantai mereka? Lagi pula, kemerdekaan sesungguhnya bermakna kebebasan menentukan pilihan atas dasar kerelaan, bukan atas dasar paksaan. Kemerdekaan bermakna tidak menggadaikan harga diri dan kehormatan meski dengan hanya merelakan sejengkal tanah sebagai tebusan. Yang lebih penting lagi, kemerdekaan sejatinya berarti penghambaan total kepada Allah SWT, yang salah satu perwujudannya adalah tidak mengubah status Tanah Palestina yang dalam padangan syariah Islam merupakan tanah wakaf milik kaum Muslim, apalagi dengan menyerahkan begitu saja kepada Israel sang penjajah, justru setelah penduduknya mempersembahkan para syuhada untuk mempertahankannya.

Lebih dari itu, Tanah Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam saat dibebaskan oleh Khalifah Umar bin al-Khathab ra. pada tahun 15 H. Beliaulah yang langsung menerima tanah tersebut dari Safruniyus di atas sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian ‘Umariyah, yang di antara isinya yang berasal dari usulan orang-orang Nasrani, yaitu “Agar orang Yahudi tidak boleh tinggal di dalamnya.”


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post