PEMUDA JANGAN JADI KORBAN POLITIK


oleh Adila Azzahra

"The youth of today are the leaders of tomorrow "


Anak muda adalah aset peradaban, pemimpin masa depan. Demikianlah yang selalu diharapkan orang tua kepada tiap generasi yang meremaja. Sampai hari ini, dimana negara atau bahkan dunia nampak jelas sakitnya. Baik dari aspek pendidikan dan literasi, hutang dan ekonomi, kesehatan dan pandemi, bencana-bencana alam yang melanda hingga beragam kancah politik lainnya. Rusak. Dan anak muda diharap mampu memperbaiki. Tapi ketika anak-anak muda ini dihadapkan pada sebuah survei, hasilnya membuat ciut asa.

Mereka ditanyakan tentang isu-isu sosial politik pada Maret 2021. Seperti apakah mereka keberatan apabila non-muslim menjadi pemimpin, apakah mereka percayai politisi untuk mewakili aspirasi rakyat,  apakah radikalisme mendesak untuk ditangani, dan semacamnya. Mayoritas pemuda menjawabnya dengan sikap netral. Tergantung. Merespon antara iya dan tidak (republika.co.id). Survei ini menunjukkan bahwa anak muda masih galau antara melihat perlunya perubahan politik dan ketidakpahaman terhadap sistem politik alternatif.


Sebenarnya ini merupakan sebuah evaluasi. Kenyataan bahwa anak muda kini tumbuh besar ditengah arus globalisasi, membuat mereka rela mengutamakan budaya kesenangan. Mengisi peradaban dengan menjadi seleb-seleb media sosial, melalui konten-konten sensasi yang mereka namai sebagai 'karya'. Menghabiskan waktunya berjam-jam bersama game virtual, berkeliling menyicip dari satu kafe ke kafe yang lain. Hingga akhirnya lupa diri. Lupa diri. Betapa waktu terbuang sia-sia hanya untuk membentuk sebuah generasi gagal nan tidak peduli. 

Atau generasi muda yang lain, yang mengerti bahwa politisi dan partai tidak mampu mengatasi persoalan. Namun mereka hanya sampai disana, berhenti. Masih menaruh harap kepada praktik demokrasi agar disempurnakan dan menjadi solusi. Parsial. 


Barangkali sejarah perlu diproyeksikan ulang. Tentang para sahabat saat usia muda, yang sudah layak dipandang sebagai uswah. Figur nyata bagi anak muda masa kini yang kekurangan tokoh inspiratif. Sedikit contohnya adalah Usamah bin Zaid, yang pernah ditunjuk Rasulullah saw. untuk memimpin pasukan beranggotakan para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar pada usia 18 tahun. Ada pula Muhammad al-Fatih, sang penakluk Byzantium pada usia 22 tahun. Pun Abdurrahman an-Nashir (21), yang telah membangkitkan sains hingga Andalusia meraih puncak keemasan. Dan banyak figur pemuda Muslim lainnya yang menorehkan sejarah luar biasa dalam peran politik masa Islam. 


 Ini menunjukkan kewajiban bagi generasi muda Islam untuk mengenal dan melek politik. Bahwa demokrasi tidak akan menjadi sempurna. Ia hanya akan memberikan tambalan ambigu setengah demi setengah. Berdirinya gerakan-gerakan atau partai-partai yang tampaknya mampu menanggulangi masalah seperti kesehatan dan pendidikan, bukan solusi sejati. Justru itu merupakan pengalihan agar kita menganggap selesai dan abai akan kerusakan sistem. Generasi muda Islam wajib paham dan peduli politik, berhenti menyiakan waktu dan terjun menghadapi tantangan kekinian. Meluruskan gambaran politik dan menuju revolusi hakiki.

 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post