Pentingnya Akselerasi Dakwah Di Bulan Ramadhan (2)


Eko Susanto 

Kewajiban dakwah tidak dikhususkan dilakukan pada waktu tertentu saja.  Dakwah harus dilaksanakan kapanpun dan dimana pun. Hanya saja, di bulan Ramadhan ini aktivitas dakwah  perlu mendapat perhatian lebih karena beberapa alasan:

Pertama, Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an(QS.Al Baqarah[2]:185) sebagai petunjuk, penjelas-penjelas bagi petunjuk tersebut dan pembeda antara yang hak dengan yang batil.  Seluruh fungsi Al Qur’an yang dinyatakan dalam ayat ini tidak mungkin bisa diperoleh manusia tanpa memahami isinya.  Orang yang tidak memahami Al Qur’an tidak akan bisa menjadikannya sebagai petunjuk sekalipun boleh jadi mereka selalu membacanya.  Di sinilah letak urgensi adanya upaya memberikan pemahaman yang benar terkait hakikat Al Qur’an dan pemahaman tentang kandungannya.  Dengan kata lain penting adanya aktivitas dakwah untuk menyerukan Al Qur’an.

Kedua,  nuansa keimanan di bulan Ramadhan relatif lebih besar dibanding di bulan lain. Orang-orang yang berpuasa berkeinginan untuk mengisi bulan ini dengan berbagai ‘amal shalih seperti infaq shadaqah, membaca Al Qur’an termasuk mengkaji ilmu-ilmu Islam dan mengajarkannya.  Semangat beramal shalih ini diharapkan kondusif untuk semakin tersebarnya syi’ar Islam.  Semangat yang menggelora selayaknya disambut dengan penyampaian tsaqofah dan ilmu-ilmu Islam yang akan mengarahkan semangat tersebut ke arah pengamalan Islam yang sempurna bukan hanya Islam ritual atau Islam seremonial semata.  Dan semestinya selepas Ramadhan, kebiasaan mengkaji dan menyampaikan risalah Islam ini akan terus melekat.

Ketiga, mungkin semarak Ramadhan saat ini dan pada tahun - tahun sebelumnya ang hanya dipenuhi aktivitas ceremonial belaka dan dominan unsur canda bahkan terkesan main-main, sekedar menunggu berbuka puasa atau penghantar waktu sahur.  Ada beberapa stasiun TV menayangkan acara berbau ramadhan seperti sahur bareng, grebeg sahur, sahur on the road, buka bersama bareng artis, dll. Di penghujung bulan  hanya dihabiskan untuk memborong barang perlengkapan lebaran seperti kue dan pakaian.  Momen berburu lailatul qadar pun seolah hilang tergerus budaya konsumeristik. Semua acara dikaitkan dengan Ramadhan namun kosong dari nilai-nilai yang semestinya diraih di bulan Ramadhan yaitu sikap taat pada syariat dan upaya kuat untuk menjauhi maksiat, sebagaimana hikmah dibalik kewajiban shaum Ramadhan yaitu untuk menggapai nilai ketakwaan.  Jika kita diam saja terhadap realitas ini, maka umat akan semakin jauh dari nuansa keimanan yang seharusnya semakin terpupuk di bulan yang penuh berkah ini.  Pada akhirnya akan kehilangan peluang meraih pahala sebesar-besarnya, Ramadhan hanya mendapat haus dan lapar.  Karenanya, harus segera dilakukan dakwah untuk meluruskan pemahaman umat tentang hakikat amal di bulan Ramadhan.  Umat harus segera diselamatkan dari semua hal yang menjerumuskannya pada kesia-siaan dan kemaksiatan.  Sebagaimana firman Allah SWT:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ  [المؤمنون : 1 – 3]

Artinya:”Beruntunglah orang-orang yang beriman[1] Yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya[2] Mereka berpaling dari perkataan sia-sia[3]” (TQS.Al Mu’minun[23]:1-3)

Keempat, Rasulullah SAW dan para sahabatnya memberikan contoh pada kita mengisi Ramadhan dengan aktivitas perjuangan.  Lapar dan haus tidak menghalangi baginda Nabi untuk terus berdakwah menyampaikan risalah Islam dan meninggikan kalimat Allah SWT.  Sejarah mencatat bahwa salah satu kegemilangan Islam dan kaum muslimin dicapai di bulan Ramadhan.  Kemenangan dalam perang Badar dan Futuh Mekah merupakan bukti tak terbantahkan bahwa Ramadhan adalah bulan dakwah dan perjuangan.

Kelima, dalam Al Baqarah[2] ayat 186 Allah SWT menyatakan bahwa Dia itu dekat dan akan mengabulkan permohonan orang-orang  yang berdo’a.  Namun Rasulullah SAW bersumpah bahwa Allah tidak akan menjawab do’a ketika dakwah(amar ma’ruf nahi munkar) tidak ditegakkan.  Karenanya dakwah itu penting agar semua do’a dan permohonan kita dikabulkan Allah SWT.  Sabda Rasulullah SAW:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di dalam genggaman tanganNya, sungguh kalian melakukan amar makruf nahi ‘anil mungkar, atau Allah pasti akan menimpakan siksa; kemudian kalian berdoa memohon kepada Allah, dan doa itu tidak dikabulkan untuk kalian.” [HR. Turmudziy, Abu ‘Isa berkata, hadits ini hasan]


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post