Pentingnya Ikhlas Dan Shawab


Indarto Imam

Meraih sukses pada bulan Ramadhan, yakni meningkatkan takwa, perlu perjuangan tersendiri. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Imam ath-Thabari menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya…”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Firman Allah SWT ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa.”

Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah SWT memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman. Dengan demikian Allah SWT pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.

Lalu apakah iman itu? Iman secara bahasa artinya percaya atau membenarkan (Lihat: QS Yusuf [12]: 17).

Secara gamblang Rasulullah saw. menjelaskan makna iman dalam sebuah hadis:

اْلإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِه

Iman adalah engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Kiamat, qadha dan qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim).

Demikianlah enam poin yang harus dimiliki oleh orang beriman. Orang yang enggan beribadah hanya kepada Allah, atau menyembah selain kepada Allah, bukanlah orang yang beriman. Orang yang enggan mengimani Muhammad saw. sebagai Rasulullah, tidak mempercayai keberadaan para malaikat, tidak percaya akan kedatangan Hari Kiamat dan tidak mempercayai takdir juga bukan orang beriman.  Orang yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, misalnya menghalalkan zina atau menolak penerapan Islam secara kaffah, adalah kafir. Orang yang mengingkari atau ragu terhadap perkara yang pasti (qath’i) juga kafir, sama saja apakah dalam perkara akidah atau syariah.

Iman menuntut konsekuensi, tidak hanya ucapan di mulut. Allah SWT  berfirman:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS an-Nisa’ [4]: 65).

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

Tidaklah patut laki-laki Mukmin maupun  perempuan Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah benar-benar tersesat (QS al-Ahzab [33]: 36).

Dengan demikian tidak dapat dibenarkan orang yang mengaku beriman namun enggan melaksanakan shalat, membayar zakat dan amalan-amalan lahiriah lainnya; atau enggan terikat dengan syariah Allah SWT yang manapun. Orang Mukmin itu harus terikat dengan Islam secara keseluruhan tanpa kecuali. Dia wajib menjalankan ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, puasa dan haji serta jihad. Di wajib terikat dengan syariah dalam hal makanan, minuman, pakaian dan akhlaq. Dia juga wajib terikat dengan syariah dalam hal muamalah seperti masalah politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan, pendidikan, kesehatan serta bagaimana mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara keseluruhan. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

Allah SWT pun berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini, “Sebagaimana Allah SWT  telah menyatakan kewajiban hukum qishash dan wasiat kepada orang-orang yang mukallaf pada ayat sebelumnya, Allah SWT juga menyatakan kewajiban puasa atas mereka. Tidak ada perselisihan pendapat mengenai kewajibannya.”

Namun, ada sebagaian Muslim saat ini yang mengeluhkan bahwa dari hari ke hari Ramadhan makin terasa hambar, seperti makan sayur tanpa garam. Tidak ada ruh. Tidak ada spirit. Hanya menjalani rutinitas tahunan: menjalankan ibadah puasa, shalat terawih, membaca al-Quran dan lain-lain. Tak ubahnya seperti kegiatan pergi-pulang ke kantor. Tak terasa nikmat lagi menjalani Ramadhan. Ramadhan pun berakhir dengan gempita Idul Fitri, kemudian semua aktivitas kembali seperti semula.

Kapitalisme sekular juga membuat umat Islam salah dalam berpikir; menganggap Islam hanya mengatur urusan ibadah mahdhah. Akibatnya, umat merasa perlu bertanya tentang aturan Islam hanya jika berkaitan dengan ibadah. Ketika membahas persoalan dunia seperti politik dan ekonomi, mereka merasa tidak perlu bertanya tentang dalil-dalinya. Mereka bersemangat berpuasa, tetapi tidak peduli dengan upaya perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah. Mereka tidak peduli dengan fakta negara dan pemerintahan yang mencampakkan syariah Islam dan mengagungkan demokrasi. Mereka bahkan menganggap bahwa semua itu sudah benar. Jika demikian, hakikatnya orang seperti ini telah gagal dalam berpuasa sejak awal karena akidahnya yang tidak benar.

Sekularisme telah merusak dan menghancurkan keislaman kita, termasuk ibadah puasa kita. Mayoritas  umat Islam yang awam menjalani saja rutinitas Ramadhan tanpa memahami apa yang terjadi. Mereka kebanyakan gagal meraih takwa kecuali sebentar saja. Sebagian umat Islam lainnya malah menjadi penganut sekularisme. Mereka meyakini sekularisme sebagaimana meyakini Islam. Bahkan mereka menjadi propagandis dan pembela sekularisme. Lalu apa makna puasa mereka? Tidak ada artinya. Mereka seungguh-nya bukan orang yang beriman. Karena itu, pasti mereka tidak dapat meraih takwa. Kondisi inilah yang menjadi problem umat Islam sedunia saat ini.

Karena itu, perubahan pemikiran umat terkait bagaimana mereka harus meyakini Islam apa adanya secara totalitas tanpa dicampur dengan isme-isme lain menjadi syarat mutlak teraihnya spirit Ramadhan, yakni takwa. Baru kemudian kita berbicara tentang bagaimana amaliah kita pada bulan Ramadhan.

Amaliah Ramadhan kita, kita khususnya puasa, wajib memenuhi dua syarat: ikhlas dan shawab. Ikhlas bermmakna, kita menjalani puasa hanya karena Allah SWT; hanya mengharap ridha dan pahala-Nya. Shawab bermakna, kita berpuasa dengan mengikuti sunnah Rasulullah saw.; yaitu sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi saw. Demikianlah seharusnya kita berpuasa pada bulan Ramadhan, termasuk di dalamnya qiyamul lail, bersedekah, membaca al-Quran dan sebagainya. Dengan itu hati kita akan semakin dekat kepada Allah SWT, bahkan hingga Dia mencintai kita. Inilah inti taqarrub ilaLlah, sebagaimana dalam sabda Nabi saw. dalam hadis qudsi riwayat Imam al-Bukhari.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post