Pentingnya Menolak Sekularisme


Hadi Sasongko (Direktur Poros)

Paham sekularisme atau cara pandang sekular sudah merasuk jauh ke dalam diri sebagian masyarakat. Saat melaksanakan shalat, seorang wanita Muslimah akan dengan ringan menutup auratnya. Namun, di luar shalat, ia merasa berat melakukannya. Ketika di masjid seseorang merasa begitu dekat dengan Allah dan merasa ada dalam pengawasan-Nya. Namun, di luar masjid—ketika menangani proyek, berjual beli, berbisnis, dan berpolitik, mengurus pemerintahan, dll—seakan Allah begitu jauh dan tidak mengawasi dia. 

Ketika beribadah ritual (shalat, misalnya) seorang Muslim begitu memperhatikan hukum-hukum syariah seputar shalat; memperhatikan syarat dan rukunnya, juga sah dan batalnya. Namun, di luar itu ketika memerintah, berpolitik, berdagang, memutuskan perkara dan sebagainya hukum-hukum syariah bukan saja diabaikan, bahkan dicampakkan.

Padahal bulan Ramadhan bagi umat Islam adalah momentum untuk melakukan instropeksi diri agar Ramadhan jangan sampai menjadi siklus tahunan tanpa makna. Bulan Ramadhan juga harus dijadikan momentum untuk membangkitkan taraf berpikir umat, khususnya taraf berpikir terkait aktivitas politik. 

Politik di dalam Islam adalah perkara yang ada dan wajib untuk turut serta dalam aktivitas politik. Aktivitas politik adalah segala aktivitas yang terkait dengan pengaturan urusan masyarakat (ri’ayah syu’un al-ummah), baik yang terkait dengan kekuasaan (as-sulthân) sebagai subyek (al-hâkim) yang melakukan pengaturan urusan masyarakat secara langsung, maupun yang terkait dengan umat sebagai obyek (al-mahkûm) yang melakukan pengawasan (muhâsabah) terhadap aktivitas kekuasaan dalam mengatur urusan masyarakat.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post