Puasa Yang Sia-Sia? (1)



Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)

Puasa Ramadhan secara syar’i didefinisikan sebagai upaya menahan diri (imsak) dari makan, minum dan berhubungan suami-istri, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, yang disertai dengan niat (Ash-Shabuni, Tafsir Ayat Ahkam, I/188).

Dengan demikian, siapapun yang bisa menahan diri (imsak) dari makan, minum dan hubungan suami-istri—dari  terbit fajar hingga terbenam matahari—yang disertai dengan niat telah dianggap sebagai orang yang berpuasa. Dalam kondisi demikian puasanya sah secara syar’i.

Namun demikian, keabsahan puasa secara syar’i ini tidak otomatis bakal mendatangkan pahala bagi pelakunya. Sebab, kesempurnaan puasa hanya mungkin dengan cara menjauhi hal-hal yang dilarang dan tidak terjatuh pada perkara-perkara yang diharamkan (Ash-Shabuni, I/188). Dengan kata lain, ada syarat lain yang harus dipenuhi oleh orang yang berpuasa agar puasanya sempurna, yakni dia harus menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasanya atau ‘membatalkan’ pahala puasanya. Dia harus menjauhkan diri dari puasa yang sia-sia.

Puasa yang sia-sia adalah puasa yang tidak menghasilkan (pahala) apapun selain lapar, dahaga dan kepayahan. Sayangnya, justru puasa jenis inilah yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam, sebagaimana diisyaratkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw., “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya itu selain lapar dan dahaga saja.” (HR ath-Thabrani).

Perkara apa saja yang bisa merusak atau membatalkan pahala puasa? Semua kemaksiatan atau dosa, kecil apalagi besar, hakikatnya bisa merusak atau membatalkan pahala puasa. Pertama: dosa mata. Banyak Muslim yang berpuasa, tetapi dia tidak bisa menahan diri dari memandang perkara yang haram. Contohnya adalah memandang aurat wanita yang bukan mahram, melihat gambar-gambar porno, dll. Puasa orang seperti ini tentu akan rusak, bahkan pahala puasanya bisa hilang tak berbekas. Ini karena menjaga pandangan dari perkara-perkara yang haram adalah wajib (Lihat: QS an-Nur [24]: 30-31).

Kedua: dosa lisan. Puasanya seorang Muslim yang tidak dibarengi dengan menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain (ghibah) juga akan rusak, bahkan tidak akan mendatangkan pahala apapun. Demikian pula kata-kata kotor/jorok dan keji seperti menyebar tuduhan palsu dll; akan merusak puasa atau membatalkan pahala puasa. Ini sebagaimana sabda Nabi SAW,  “Puasa itu adalah perisai. Karena itu jika salah seorang kalian berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor/jorok dan berdusta.” (HR Ahmad).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan haus yang dia tahan.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah SAW pun bersabda, “Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan jorok.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post