Ramadhan 1442 H, Momentum Totalitas Ber-Islam


Suro Kunto (Ketua SPBRS)

Spiritualitas sebagian umat Islam pada bulan Ramadhan 1442 H memang meningkat. Mereka sibuk memperbanyak ibadah ritual pada bulan Ramadhan ini. Namun sayang, sebagian dari mereka tidak terlihat sibuk dalam masalah keumatan. Keshalihannya hanya terlihat dalam aspek pribadi dan ibadahnya saja. Adapun dalam masalah social-kemasyarakatan, yakni kepedulian terhadap nasib urusan umat/rakyat secara keseluruhan, tidak terlihat.

Pada bulan Ramadhan, kita juga masih bisa menyaksikan bagaimana individu-individu Muslim yang secara pribadi terlihat shalih masih melakukan hal-hal yang itu sesungguhnya bertentangan dengan syariah Islam. Bagaimana mudahnya kita melihat para wanita Muslimah yang menuju ke Masjid untuk melaksanakan ibadah shalat, khususnya shalat tarawih berjamaah, tidak menutup aurat. Auratnya hanya di tutup saat melaksanakan ibadah shalat. Sehabis shalat, aurat kembali terlihat.

Kita juga dengan mudahnya bisa melihat bagaimana sebagian umat Islam masih mempraktikkan muamalah ribawi. Padahal banyak sekali dalil yang menunjukan betapa besarnya dosa riba. Rasulullah saw., misalnya, bersabda, “Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan dosanya adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya sendiri (HR al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan al-Baihaqi dalam Su’ab al-Imân).

Bulan Ramadhan juga identik dengan istilah ngabuburit atau buka puasa bersama. Sayang, itu dilakukan juga dengan yang bukan mahram, bahkan bersama pacar. Terjadilah ikhtilath, sedangkan ikhtilath jelas-jelas diharamkan di dalam Islam.

Lebih dari itu, terkait dengan kondisi perpolitikan, masih banyak umat Islam yang abai terhadap berbagai kebijakan Pemerintah yang zalim. Mereka juga tidak peduli dengan hukum-hukum yang bertentangan dengan syariah Islam yang diterapkan oleh negara, yakni yang berasal dari ideologi Kapitalisme-sekular. Padahal individu Muslim tersebut sedang beribadah kepada Allah, yakni menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Ibadah sendiri diartikan sebagai aktivitas menjadikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada Allah SWT serta berhukum hanya dengan syariah-Nya. Allahlah Yang menciptakan makhluk-Nya. Tidak ada sekutu bagi Allah SWT dalam penciptaan ini. Karena itu, Dia harus dijadikan sebagai satu-satunya yang berhak memerintah. Allah SWT berfirman:

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ

Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah (QS al-A’raf [7]: 54).

Allah SWT juga berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah (QS Al-An’am [6]: 57).

Artinya, seharusnya umat Islam paham dan sadar bahwa Allahlah satu-satunya yang berhak menghalalkan, mengharamkan dan membuat peraturan. Siapapun yang mengklaim berhak ditaati secara mutlak dan berhak membuat peraturan secara mutlak, sungguh ia telah menjadi sekutu bagi Allah SWT dan menempatkan dirinya sebagai tuhan yang lain selain Allah. Setiap orang yang memberikan hak tersebut kepada manusia dan mengakui, bahwa manusia berhak untuk melakukan itu, maka ia benar-benar telah menyembah mereka. Allah SWT berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (QS at-Taubah [9]: 31).

Adi bin Hatim—sebelumnya seorang Nasrani—berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah mereka itu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan kalian pun mengharamkannya? Mereka menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan kalian pun menghalalkannya?”Adi berkata, “Tentu seperti itu.” Rasulullah saw. bersabda, “Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Umat Islam juga masih ada yang tidak mempermasalahkan ihwal memilih seorang pemimpin. Bahkan ada tokoh yang menyatakan bahwa memilih pemimpin non-Muslim yang jujur itu lebih baik daripada memilih pemimpin Muslim namun zalim. Na’ûdzubilLâhi min dzâlik.

Padahal di dalam Islam jelas haram memilih pemimpin dari kalangan orang-orang kafir, baik kafir ahlul kitab maupun dari kalangan kafir musyrik.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai pemimpin jkalian orang-orang yang membuat agama kalian menjadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kalian dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Bertakwalah kalian kepada Allah jika kalian betul-betul kaum Mukmin (QS al-Maidah [5]: 57).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post