Ramadhan Dan al 'Amal Bi At Tanzil


Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)

Ramadhan memang hanya datang satu kali dalam satu tahun.  Lamanya pun hanya satu bulan.  Bulan Ramadhan boleh saja berakhir ketika datang tanggal satu Syawal. Namun, semestinya amal-amal baik yang sudah biasa dilakukan pada bulan Ramadhan tidak lantas berhenti.  Ramadhan adalah bulan penyucian jiwa, bulan untuk menempa diri untuk meraih takwa.  Ibarat fase kepompong pada perkembangan seekor ulat menjadi kupu-kupu.  Ketika menjadi kepompong tampak diam, lemah dan tidak bergerak.  Tatkala masa kepompong selesai, maka segera akan keluar kupu-kupu nan cantik yang akan menarik hati siapapun yang melihatnya.  Artinya, apa yang dialami ulat semasa menjadi kepompong kadang tidak mengenakkan dan tidak menarik.  Hasilnya baru terlihat ketika sudah menjadi kupu-kupu. 

Begitupun aktivitas Ramadhan, mungkin saja terasa berat dan banyak godaan.  Namun hakikatnya, di balik semua yang terasa berat itu ada keberkahan dan pahala yang tidak ternilai besarnya.  Mestinya bagi orang-orang yang berhasil melewati Ramadhan akan merasakan hasilnya  sampai kapan pun. Dia akan memperoleh energi baru untuk menjalani hari-hari selama 11 bulan ke depan.  Energi tersebut merupakan hasil tempaan amaliah Ramadhan yang dilaksanakan selama sebulan penuh.  Dengan kata lain, amalan-amalan Ramadhan akan terlihat hasilnya pasca Ramadhan sebagai wujud ketakwaan.

Hikmah besar yang akan diraih oleh orang-orang yang melaksanakan shaum Ramadhan atas dasar keimanan adalah memperoleh derajat takwa (lihat: QS al-Baqarah [2]:183).

Banyak definisi takwa yang sudah disebutkan oleh para ulama.  Di antaranya adalah bahwa dalam kata takwa mengandung makna: 

Pertama, al-khawf min al-Jalil; rasa takut yang besar terhadap kemahakuasaan Allah.  Orang yang shaum dilatih kesadarannya akan sifat-sifat Allah dan diuji konsistensinya dalam ketaatannya terhadap aturan Allah SWT.  Dia akan menjaga hal-hal yang bisa membatalkan shaumnya, semisal jangan sampai ada air yang masuk ke kerongkongannya sekalipun hanya setetes dan tidak diketahui orang lain.  Diapun tidak berani makan dan minum sekalipun azan magrib tinggal beberapa detik lagi.  Mengapa? Karena dia sadar bahwa hal tersebut bisa membatalkan shaumnya dan dia juga yakin bahwa Allah Maha Melihat apapun yang dilakukan hamba-Nya.

Kedua, al-‘amal bi at-tanzil; Melaksanakan ketentuan hukum yang tertera dalam wahyu Allah yang telah diturunkan baik yang ada dalam al-Quran maupun yang terdapat dalam hadis Rasulullah saw.  Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran (lihat: QS al-Baqarah [2]: 185). Firman Allah SWT dalam ayat ini jelas sekali menyatakan bahwa al-Quran yang diturunkan pada bulan Ramadhan merupakan petunjuk bagi manusia.  Karena itu, bulan ini merupakan momen yang tepat untuk membaca, mempelajari, mendalami maksud dan kandungannya, melaksanakan seruannya, serta mengajarkan dan mendakwahkannya di tengah-tengah manusia.  Dengan begitu fungsi al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia betul-betul terealisasi dalam kehidupan nyata, dan tidak berhenti pada tataran pengetahuan.  Pada bulan Ramadhan kita dididik untuk senantiasa berpegang pada hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT.  Shaum, shalat fardhu, shalat tarawih, infak dan zakat serta amal-amal lainnya senantiasa akan disesuaikan dengan aturan-Nya supaya semua amalan Ramadhan tersebut diterima Allah dan mendapat balasan pahala.  Selepas Ramadhan keterikatan pada al-Quran dan wahyu Allah yang ada dalam hadis ini akan terus dipelihara dan dipertahankan.

Ketiga, al-isti’dad li ar-rahil; persiapan untuk menghadapi timbangan amal pada Hari Kiamat.  Orang yang bertakwa seharusnya memiliki kesadaran bahwa dia akan kembali kepada Allah SWT untuk mempertanggung jawabkan semua yang telah dilakukannya di dunia.  Berikutnya, dia akan senantiasa menjaga perbuatannya supaya sesuai dengan syariah-Nya.  Dia akan terus berusaha untuk tidak melakukan maksiat sekecil apapun dan tidak akan melalaikan kewajiban seberat apapun.

Rasulullah saw. menyuruh kita semua untuk senantiasa bertakwa dimana pun kita berada:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimanapun/kapanpun/dalam keadaan bagaimanapun engkau berada; ikutilah keburukan dengan kebaikan sehingga (kebaikan itu) akan menghapusnya; dan berbuat baiklah kepada manusia dengan akhlak yang baik (HR ath-Thabrani dari Abi Dzarr ra.)
Berdasarkan perintah Rasulullah saw. dalam hadis di atas, maka tidak selayaknya ada pemahaman bahwa takwa hanya ada dalam waktu dan tempat tertentu saja.  Takwa tidak hanya ada ketika shalat atau tatkala di masjid saja. Takwa juga bukan sekadar harus dikejar pada bulan Ramadhan saja.  Takwa harus ada selamanya dan senantiasa menyertai kita dimana pun kita berada.  Bahkan kita diperintahkan untuk terus menjaga ketakwaan hingga kematian tiba (lihat: QS Ali ‘Imran [3]:102).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post