Ramadhan: Momentum Ketundukan Pada Syariah Islam Secara Menyeluruh


M. Arifin (Tabayyun Center)

Ramadhan dapat menjadi momentum penting untuk penyadaran umat. Ramadhan semestinya menjadi momentum untuk meningkatkan ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah SWT secara totalitas, baik dalam aspek ibadah spiritual maupun aspek politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Allah SWT telah menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna (QS al-Maidah [5]: 3) dan mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia (QS an-Nahl [16: 89). Karena itu tidak ada yang layak untuk mengatur seluruh aspek kehidupan di masyarakat kecuali Islam dengan syariahnya. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan hari akhir (QS an-Nisa’ [4]: 59).

Imam Ibnu Katsir di dalam kitabnya, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhîm, menjelaskan ayat tersebut bahwa segala perkara yang diperselisihkan oleh manusia, baik perkara pokok (ushûl) maupun cabang (furû’) agama, harus dikembalikan pada al-Quran dan as-Sunnah. Ini sebagaimana juga firman Allah SWT dalam surat asy-Syura ayat 10 (yang artinya): Tentang apapun yang kalian perselisihkan, putusan (hukum)-nya dikembalikan kepada Allah.

Sangat jelas bahwa ayat ini memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum pada al-Quran dan as-Sunnah. Artinya, kaum Muslim diperintahkan untuk menerapkan syariah Islam secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Karena itu ketakwaan seorang Muslim harus diwujudkan melalui ketundukannya pada syariah Islam secara menyeluruh.

Ramadhan seharusnya juga mampu memperkuat dakwah untuk menegakkan sistem Islam sebagai institusi untuk menerapkan syariah secara totalitas tersebut. Sebagaimana diketahui, sejak Khilafah diruntuhkan pada 28 Rajab 1342 H/3 Maret 1924 M oleh Musthafa Kamal at-Taturk, umat Islam kehilangan institusinya yang berfungsi sebagai pelaksana syariah. Saat ini di negeri-negeri Muslim hukum Islam disingkirkan, digantikan dengan hukum dan undang-undang warisan penjajah.

Ketiadaan Khilafah juga menyebabkan umat ini tidak lagi memiliki institusi yang menyatukan mereka. Padahal dengan Khilafah umat Islam akan dipersatukan dalam satu negara dan satu kepemimpinan menjadi umat yang kuat. Runtuhnya Khilafah telah menyebabkan wilayah umat Islam yang luas disekat menjadi negara-negara kecil yang tidak berdaya. Umat pun akhirnya terpecah-belah dalam kungkungan nasionalisme masing-masing negara. Ketiadaan Khilafah juga menyebabkan umat ini kehilangan institusi yang melindungi agama, harta dan darah mereka. Sebab, Khilafah berfungsi laksana perisai bagi umat Islam. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya seorang pemimpian itu adalah perisai, orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, ketiadaan Khilafah ini harus diakhiri dengan jalan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah yang akan menerapkan kembali syariah Islam secara totalitas. Hal itu merupakan keniscayaan untuk mengakhiri berbagai problem dan keburukan yang diderita umat saat ini dan untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan ke tangan umat Islam.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post